FITUR “LIVE” TIKTOK HILANG, NASIB UMKM GIMANA?

Published:

Gara-gara demo makin chaos, fitur “live” di Tiktok mendadak HILANG. Pas dicek-cek tanggal 30 Agustus malem, kolom Live yang biasanya nongol di pencarian malah nggak ada. Padahal udah coba pake berbagai kata kunci, tetep aja nggak ada satu pun video live yang muncul.

Publik mulai curiga: jangan-jangan ini campur tangan pemerintah? Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) pun klarifikasi, nggak ada arahan buat matiin Live. Dirjen Pengawasan Digital Alexander Sabar malah bilang, itu inisiatif TikTok sendiri. Katanya, “Voluntarily TikTok. Kami apresiasi langkah inisiatif dari TikTok.”

Ternyata, pihak TikTok sendiri yang secara sukarela matiin fitur Live buat sementara. Mereka bilang ini langkah keamanan gara-gara meningkatnya kekerasan saat demo. Jadi, Live dimatiin biar platform tetep aman, nggak dipake buat provokasi atau nyebar hoaks secara real-time. Intinya, ini langkah antisipasi agar platform tetap aman dan beradab.

TikTok resmi ngumumin kalau Live ditutup “selama beberapa hari ke depan”, tapi nggak nyebutin tanggal pastinya kapan balik. Beberapa kabar bilang bisa aktif lagi sekitar 3 September 2025, tapi itu juga belum ada konfirmasi resmi dari TikTok. Sampai sekarang, fitur Live masih nggak bisa diakses sama sekali.

Masalahnya sekarang, dampak ke UMKM gede banget. Banyak pelaku usaha, affiliate marketer, sampe brand kecil yang hidup dari Live TikTok buat jualan. Data dari Center of Economic and Law Studies (Celios) nunjukin, 4 dari 10 orang belanja via live shopping. Pertumbuhan fitur ini tembus 30%! Kalau Live ditutup, penjualan bisa anjlok sampe 40%. Karena 80% transaksi TikTok Shop di Indonesia itu lewat Live.

Bayangin, menurut laporan TMO Group, angka transaksi Live TikTok di Asia Tenggara 2024 tembus US$1,7 miliar alias Rp27,3 triliun. Artinya, UMKM paling kena imbas, karena omzet mereka mayoritas bergantung di fitur Live ini. Jadi, di satu sisi langkah TikTok matiin Live itu masuk akal buat jaga keamanan dan reputasi global. Tapi di sisi lain, ribuan UMKM yang cari nafkah lewat Live jadi keok karena nggak bisa jualan maksimal. Live bukan sekadar fitur, tapi ladang rezeki jutaan orang. Yang jelas, kalau Live terlalu lama hilang, bisa bikin banyak usaha ikut “offline” juga.

Wajar sih, karena TikTok lagi jadi sorotan global soal moderasi konten. Kalau mereka dianggap lalai biarin Live dipake buat nyulut rusuh, reputasi internasional mereka bisa babak belur. Tapi sebenarnya kalaupun pemerintah mau kasih arahan buat matiin fitur live tiktok, itu bisa aja. Dasarnya jelas: UU ITE (No. 11 Tahun 2008, revisi 2016) kasih wewenang buat ngatur lalu lintas informasi elektronik. Plus ada juga Peraturan Menkominfo No. 5 Tahun 2020 soal penyelenggara sistem elektronik.

Dan ini udah pernah kejadian. Inget nggak, kerusuhan 21–22 Mei 2019 pasca Pilpres? Waktu itu WhatsApp, Facebook, dan Instagram dibatasi fiturnya. Kirim gambar & video aja nggak bisa. Bahkan PBB (UN Human Rights Council) juga ngakuin, shutdown internet boleh kok, asal dalam kondisi darurat banget. Tapi ada syaratnya: harus proporsional, sementara, dan transparan soal alasannya. Jadi, kalaupun pemerintah ikut campur, ada dasar hukumnya, bukan asal-asalan.

Kita bisa berharap, setelah situasi kondusif, tiktok bisa membuka kembali fitur Livenya sehingga UMKM bisa gaspol jualan lagi. Yuk jaga Indonesia!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img