Waduh ada kabar buruk nih. Gara-gara soal tambang nikel di Raja Ampat, Nahdlatul Ulama dikabarkan lagi pecah. Ada dua kubu dalam organisasi islam terbesar di Indonesia ini. Kubu pertama diwakili Yenny Wahid, sementara kubu kedua diwakili Ulil Abshar Abdalla. Yenni adalah Ketua Badan Pengembangan Inovasi Strategis (BPIS) NU, sementara Ulil adalah Ketua PBNU.
Narasi perpecahan itu disampaikan dalam video Tiktok yang diposting akun Kedudaily. Narator di video itu bilang: “Dua tokoh besar di NU berselisih soal Tambang”. “Apakah ini murni beda pendapat atau ada tarik ulur kepentingan yang lebih besar dibalik konflik ini,” ucap narator itu lagi. Kemudian narator itu membandingkan dua pendapat berbeda kedua tokoh itu soal tambang.
Yenny memang dalam unggahannya di akun Instagram tegas menolak tambang nikel di Raja Ampat. “Saya orang NU, saya mendukung pelestarian Raja Ampat,” ujar Yenny Wahid tegas. Ia menilai pendapatan pemerintah dari tambang nikel, tidak sebanding dengan harga kerusakan alam yang akan ditimbulkannya. “Pernahkah kita bertanya, berapa triliun uang yang harus kita bayarkan untuk menciptakan keindahan alam bawah laut seperti di Raja Ampat?” “Jawabannya adalah, uang sebanyak apapun tidak akan mampu menciptakannya,” lanjutnya. Tugas manusia, kata dia, hanyalah menjaga dan menikmatinya tetapi tidak untuk merusaknya. Generasi mendatang punya hak waris untuk menikmati keindahan alam tersebut. “Biarkan Raja Ampat seperti adanya, jangan biarkan keserakahan menguasainya,” tegasnya lagi. Pada unggahannya itu, Yenny juga mengapresiasi Greenpeace dan Walhi yang terus menyuarakan penolakannya pada penambangan.
Apa yang disampaikan Yenny bertolak belakang dengan Ulil. Dalam dialognya dengan Rosi Silalahi di Kompas TV, Ulil tidak menolak tambang. Menurut Ulil mengelola tambang juga adalah kemaslahatan atau kebaikan. “Ini anugerah Allah, pohon anugerah, tambang anugerah, mari kita kalkulasi kebaikan dan keburukannya,” tegasnya. Menurut Ulil menjaga lingkungan itu penting, tapi mengelola tambang itu juga kebaikan. Pada kesempatan itu juga Ulil mengkritik aktivis Greenpeace dan LSM-LSM lingkungan lain, yang berperilaku seperti wahabisme dalam beragama. Menurut Ulil orang-orang wahabi itu, saking kepinginnya menjaga kemurnian teks, mereka sama sekali tak mau menyentuh teks tersebut. Ini juga yang dia lihat di kalangan aktivis lingkungan. “Saya mengatakan, teman-teman lingkungan ini terlalu ekstrim,” “Seolah-oleh mengelola tambang itu dengan sendirinya adalah kejahatan, itu adalah kurang tepat”. “Penambangan menurut saya baik, yang tidak baik adalah bad mining,” ucapnya.
Pasca dialog itu, Ulil mendapat serangan dan tuduhan yang tidak berdasar dari netizen. “Penambangan itu baik, karena gus dapat donasinya,” tulis seorang netizen. “Singkat saja, lu dapet berapa M,” tulis yang lain. “Penambangan baik karna PBNU dapet jatah ngelola tambang,” tulis yang lain lagi. Mereka yang berdebat sebaiknya menahan diri. Ulil adalah tokoh intelektual yang selama ini berpikir rasional. Dia juga peduli dengan kerusakan lingkungan. Karena itu bagi Ulil yang penting, penambangan bisa dikelola dengan baik, tanpa perlu mengharamkan penambangan sama sekali. Bermanfaat bagi rakyat, juga tidak merusak lingkungan. Mungkin ada yang gak setuju dengan pendapat Ulil, tapi gak usahlah dengan tuduhan apalagi penghinaan. Yuk bersikap bijak!


