Gubernur Riau Ditangkap KPK, Ustadz Abdul Somad Justru Pasang Badan?

Published:

Gak habis pikir nih sama ustad Abdul Somad (UAS). Masa dia pasang badan saat Gubernur Riau Abdul Wahid ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). UAS mencoba klarifikasi kalau melakukan korupsi itu stafnya Abdul Wahid di Dinas PUPR dan KUPT. Tak hanya itu, UAS juga bilang penangkapan Wahid itu sebagai takdir.

Abdul Wahid sendiri ditangkap karena diduga terlibat dalam kasus pemerasan terhadap bawahannya di Dinas PUPR Riau. Nilainya lumayan gede sekitar Rp7 miliar. Wahid ditetapkan sebagai tersangka Pada Rabu, 5 November 2025. Tak lama setelah kabar penangkapan itu meledak di media, UAS langsung muncul dengan video klarifikasi di akun Instagram resminya. Dalam video itu, UAS membantah bahwa sahabatnya ditangkap lewat operasi tangkap tangan (OTT). “Berita yang betul itu Kadis PUPR dan KUPT yang OTT. Gubernur Riau hanya dimintai keterangan,” kata UAS dalam unggahannya. Ia lantas menasihati publik agar tidak mencemarkan nama baik seseorang hanya karena informasi yang belum pasti.

Tapi klarifikasi itu ternyata tidak bertahan lama. Tak lama setelah diunggah, video klarifikasi itu menghilang dari akun IG-nya, dia ganti dengan unggahan doa dan dukungan. “Sebagai sahabat, saya support dan mendoakan,” tulisnya singkat.

UAS kemudian mengenang kedekatannya dengan Wahid sejak masa kampanye Pilgub Riau 2024. Gak hanya itu, UAS menggambarkan perjuangan sahabatnya seperti “menempuh laut politik dengan angin kencang, karang tajam, dan ombak besar.” Yang bermasalah, dia sebut penangkapan itu sebagai takdir. “Semua orang berkumpul untuk memudaratkanmu, tidak akan mampu, kecuali memang sudah takdir Allah. Pena takdir sudah terangkat, kertas takdir sudah kering,” tulisnya. Kalimat ini seolah menegaskan dugaan korupsi yang dilakukan oleh Abdul Wahid sebagai takdir Allah, bukan atas niat jahat pelakunya, dalam hal ini Abdul Wahid.

Pembelaan UAS ini pun dikecam oleh banyak netizen. “Sudah jelas jadi tersangka, tapi masih dibela. Katakanlah kebenaran walau pahit,” tulis seorang netizen. “Menentukan pilihan boleh, tapi jangan terlalu dalam engkau terjun, Tuan Guru,” komen yang lain. Ada juga netizen yang bikin pantun, menyindir klarifikasi UAS. “Pergi jalan ke Teluk Kuantan, bawa oleh-oleh buah semangka. Ustaz bilang dia cuma diminta keterangan, alamak rupanya dia sudah jadi tersangka.” Sebagian netizen menilai, seharusnya UAS cukup mendoakan tanpa perlu ikut membela secara terbuka.

Abdul Wahid sendiri ditangkap KPK karena diduga minta jatah proyek. Dia memerintahkan anak buahnya untuk meminta “jatah fee” dari proyek-proyek jalan dan jembatan di Dinas PUPR-PKPP Riau. Jatah itu disebut-sebut sebesar 2,5 persen—angka yang “kebetulan” sama dengan besaran zakat dalam Islam. “Fee itu diambil dari sejumlah proyek jalan dan jembatan di Riau,” kata Wakil Ketua KPK, Johanis Tanak. Dari penyelidikan, diketahui anggaran proyek sempat naik dari Rp71,6 miliar menjadi Rp177,4 miliar—naik sekitar Rp106 miliar. Dari situ muncul dugaan permintaan fee sekitar 5 persen atau total Rp7 miliar. Dan kalau ada yang menolak, ancamannya ga main- main loh: mutasi jabatan. Jelas, ini bukan kasus kecil.

Sebagai sahabat, wajar aja UAS merasa ingin mendukung. Tapi yang jadi sorotan publik adalah caranya membela yang terkesan membenarkan, bukan mendoakan. Dalam hal ini, alangkah bijaknya UAS mengambil posisi netral dan gak perlu bawa-bawa takdir. Yukkk Ustadz Somad, jangan bela orang yang lakukan korupsi, meski dia sahabat kita!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img