Guru Gembul Kritik Tradisi Di Pesantren

Published:

Kenapa sih pesantren sering banget alergi sama kritik? Begitu ada yang mempertanyakan tradisi, langsung dibilang gak punya adab. Padahal, kritik itu bukan bentuk kurang ajar, tapi tanda kepedulian. Statement kayak gini baru aja diungkap oleh Youtuber Guru Gembul di kanal Youtubenya yang langsung bikin banyak orang berhenti scroll. Bukan cuma karena nyentil, tapi karena berani menggugat tradisi yang selama ini dianggap “suci”.

Isu ini muncul di momen yang pas, karena publik lagi sensitif banget soal pesantren. Mulai dari robohnya musholla Pondok Pesantren Al-Khoziny di Sidoarjo sampai tayangan ‘Xpose Uncensored’ di Trans7 soal tradisi-tradisi di pesantren. Dua kasus itu bikin masyarakat makin sadar bahwa dunia pesantren juga butuh transparansi dan perbaikan, bukan sekadar pembelaan. Nah, di tengah situasi itu, Guru Gembul datang membawa kritik yang bikin geger.

Katanya, pesantren sekarang terlalu gampang tersinggung dan sering menolak kritik hanya karena melihat “siapa yang ngomong”. “Saya tuh bertahun-tahun mengkritik lembaga pesantren, khususnya yang ngaku Salafi tapi di bawah NU”, ucap Guru Gembul di kanal YouTube-nya. Contoh yang dia sebutin, soal dia menegur soal perilaku sederhana, kayak ngerokok di depan orang lain. Alih-alih introspeksi, malah dibalas debat dalil. “Saya cuma bilang jangan ngerokok di depan orang karena itu zolim. Tapi mereka malah buka kitab: ini haram, ini makruh. Padahal sesimpel, jangan ganggu orang,” ujarnya.

Puncaknya, kritik dia soal adab santri yang dianggap berlebihan, kayak tradisi jalan jongkok di depan guru. Guru Gembul tegas bilang, itu gak ada dasar di ajaran Islam. “Coba saya tanya, mana ada sahabat Nabi yang ketemu Nabi jalan bebek? Gak ada. Nabi itu kalau ketemu sahabat, malah menghadap penuh,” tegasnya. “Tapi sekarang, yang ngaku Gus, yang ngaku Habib, justru minta dicium tangan, bahkan kaki,” lanjutnya. Kritik itu gak berhenti di situ, Guru Gembul juga menyoroti sistem pendidikan di banyak pesantren yang menurutnya terlalu fokus pada hafalan. Santri disuruh mengulang kitab, kayak ‘Ta’lim Muta’allim’, tapi gak diajak berpikir kritis. “Yang diajarkan cuma level paling bawah: menghafal. Gak diajarkan menganalisis atau menafsirkan. Sekali ada yang berpikir beda, langsung dicap sesat,” katanya lagi.

Dari situ lah muncul kritik yang lebih dalam: pesantren cenderung anti terhadap perubahan. Banyak dari mereka yang menganggap tradisi lama harus dipertahankan apa pun alasannya. Bahkan, ketika ada kritik logis, reaksi yang muncul sering emosional, bukan reflektif. Guru Gembul menyebut, “Mereka gak mau memperbaiki diri. Begitu dikritik, langsung bilang: kamu orang mana? Ngaji dulu sana”. “Jadi benar atau salah itu tergantung siapa yang ngomong, bukan apa yang disampaikan”, lanjut Guru Gembul.

Padahal kalau dipikir, budaya menolak kritik itu bisa muncul dari sistem otoritas yang mengakar. Kiai dan guru dianggap simbol suci yang gak boleh disalahkan. Jadi ketika ada yang mempertanyakan, itu langsung dianggap sebagai bentuk kurang ajar, bukan upaya memperbaiki. Lama-lama, suasana seperti ini bikin ruang dialog tertutup. Ada juga faktor psikologis: pesantren merasa tradisinya bagian dari identitas. Jadi setiap kritik dianggap ancaman. Padahal, gak semua tradisi buruk — cuma butuh dikaji ulang, masih relevan gak sih dengan nilai Islam dan konteks zaman sekarang?

Kalau ditarik lebih luas, yang diomongin Guru Gembul ini sebenarnya bukan soal “anti pesantren”, tapi soal cara berpikir beragama. Dia pernah bilang, “Saya tuh gak mau orang mabuk agama. Maksudnya, agama itu harus bikin orang sadar, bukan buta”. Jadi kalau lembaga pendidikan Islam justru menolak introspeksi, ya itu bahaya buat masa depan mereka sendiri. Faktanya, Guru Gembul bahkan bawa data: jumlah santri turun drastis dari 5 juta di 2020 jadi 1,3 juta di 2025. SS “Kalau terus begini, 15 tahun lagi gak ada pesantren yang punya santri,” ujarnya. SS Ini tentu belum tentu angka pasti, tapi logika di baliknya jelas: kalau lembaga gak mau berubah, wajar kalau kehilangan relevansi.

Buat kami di Gerakan PIS, kritik Guru Gembul ini jangan dianggap serangan, tapi justru sebagai alarm. Dalam Islam, kritik itu bagian dari musyawarah. Nabi aja sering beda pendapat sama sahabatnya, tapi gak pernah marah. Jadi gak ada alasan menutup ruang evaluasi atas nama “adab”. Hormat ke guru itu wajib, tapi hormat bukan berarti tunduk buta. Pesantren punya jasa besar buat negeri ini. Dan justru karena itu, mereka harus terbuka terhadap kritik — supaya gak kehilangan makna sejatinya: mencetak manusia berilmu, berakhlak, dan berpikir jernih.

Karena lembaga yang menolak dikritik, pelan-pelan akan menolak belajar. Dan kalau pesantren — yang jadi benteng moral bangsa — sampai anti belajar, siapa lagi yang mau menuntun generasi berpikir waras? Itu pertanyaan besar yang harus dijawab bukan dengan marah, tapi dengan berbenah. Yuk, beragama dengan akal sehat!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img