Roy Suryo mempermalukan dirinya sendiri nihh di Sydney, Australia. Dia kira buku Jokowi’s White Paper yang dia buat bersama Rismon Sianipar dan dr Tifa akan laku di sana. Eh nyatanya cuma laku 1 biji doang, dari 10 yang dia bawa. Jadi, pada 2 November, Forum Diaspora Indonesia (FDI) ngadain acara bedah buku Jokowi’s White Paper di Sydney.
Acaranya cukup serius loh, digelar di luar negeri, dan dihadiri langsung sama sang “pakar telematika” Roy Suryo sendiri. Ketua panitia diskusi, Elfo Satria, buka acara itu dengan bilang kalau tujuannya buat “mencari kebenaran”. Katanya, “Diskusi ini bukan buat nyari kesalahan atau menjelek-jelekkan, tapi untuk cari titik kebenaran yang tertutupi.” Elfo juga bilang, “Kami nggak membedah badan Jokowi, tapi buku pemikiran Roy Suryo dkk secara ilmiah.”
Tapiii… acara yang niatnya “ilmiah” itu malah viral karena ada sesi lelang buku seharga 200 dolar alias Rp 2,1 juta. Videonya diunggah akun @suaraakarrumputt tanggal 3 November, dan netizen langsung ngakak rame-rame. Dalam videonya, juru lelang udah nawarin harga, tapi nggak ada satupun yang angkat tangan. “Halo? Nggak ada? Kok pada menunduk semua? Katanya berjuang? Di medsos kuat banget” katanya. “200, ayo 200, Nggak ada?” lanjutnya. Ya ampun, sepi banget ya ga ada yang jawab huhu. Gara-gara video itu, netizen pun ramai-ramai berkomentar. “Siapa yang mau beli 200 dollar, katanya benci Jokowi, tapi buat ajang cari uang. otak nya mereka ini gimana lah” tulis seorang netizen. “Gratis juga ogah” tulis netizen lain.
FYI nih, Roy Suryo emang lagi “roadshow” ke Australia bareng sejumlah diaspora. Dia sempet ke University of Technology Sydney (UTS) buat “mencari bukti” soal ijazah Gibran. Katanya sih udah dapet “keterangan penting” dari orang dalam kampus itu. Roy ngaku kalau data yang dia dapat “membantah narasi selama ini” soal Gibran lulus dari program penyetaraan setara SMA/SMK lewat UTS Insearch. Padahal udah jelas banget kalau Mas Gibran punya surat penyetaraan resmi dari Kemendikbud RI yang menyatakan pendidikannya setara lulusan SMK.
Tapi Roy tetep ngotot, katanya dia udah “tanya langsung ke pihak penting di UTS” dan dapet bukti baru. Walau begitu, beredar kabar kalau pas Roy datang ke kampus UTS, dia nggak dikasih izin masuk alias ditolak. Waduh, datang jauh-jauh dari Indonesia tapi malah kena tolak. Roy bahkan sempat wawancara 3 alumni UTS yang katanya pernah bareng Gibran waktu kursus bahasa Inggris. Tapi bukannya dapet data kuat, malah dikira lagi nongkrong aja.
Lucunya, banyak netizen yang nyinyir, “Jangan-jangan Roy ke Australia bukan cari bukti, tapi kabur dari masalah hukum di Indonesia.” Entahlah ya, tapi yang jelas makin lama Roy kelihatan makin kehilangan arah. Dari “pakar telematika”, sekarang malah lebih sering trending karena teori-teori aneh yang nggak jelas ujungnya. Makin sering ngomong soal “kebenaran”, tapi yang keluar malah makin banyak kebingungan. Publik bukannya tercerahkan, tapi justru makin bingung mana fakta, mana drama pribadi. Alih-alih bikin dirinya keliatan kredibel, aksi-aksi Roy di luar negeri ini malah bikin reputasinya makin jeblok. Jadi ya, Mas Roy… mungkin udah saatnya berhenti sebelum semakin malu…


