Ustadz Abdul Somad bilang perayaan ulang tahun anak dengan tiup lilin itu sama aja kayak ‘merayakan kemurtadan’! Ini bukan tipu-tipu ya, ini ucapan dia sendiri yang viral setelah video ceramahnya diunggah akun TikTok @derysta.driver, 24 November lalu. Di situ, UAS terdengar mengatakan, “Selamat murtad, selamat murtad.”
“Yang ulang tahun pakai topi itu, orang tuanya memasangkan anak itu sekarang. Pakai ini sambil tiup lilin, itu sama mendoakan anaknya murtad,” lanjutnya. UAS lalu menjelaskan bahwa jika seseorang mengikuti tradisi suatu kaum, maka ia akan digolongkan sebagai bagian dari kaum tersebut. Kaum yang dimaksud adalah Majusi atau penyembah api dan secara lebih luas dianggap golongan kafir. “Nanti dia di akhirat akan dibangkitkan bersama kaum itu,” katanya.
Masalahnya, pernyataan ini gak berdiri sendiri. Netizen membandingkannya dengan video lain yang justru diunggah UAS sendiri pada 27 Juli 2020 berjudul “Hukum Mengucap Ulang Tahun”. Di video itu, penjelasannya berbeda. Saat itu, UAS menyebut bahwa mengucapkan selamat ulang tahun pada dasarnya boleh, karena substansinya adalah doa. “Happy birthday itu artinya doa. Selamat ulang tahun itu doa. Barokallahu fii umrik itu doa. Jangan terjebak pada casing, tapi lihat isinya,” ucapnya.
Dia bahkan menegaskan bahwa yang ia anggap bermasalah bukan ucapan selamatnya, melainkan meniup lilin. Alasannya, doa di depan api dia kaitkan dengan praktik Majusi. Namun di video yang sama, UAS juga mengatakan bahwa dirinya pribadi tidak pernah merayakan ulang tahun.
Di titik inilah kebingungan publik muncul. Kalau yang dipersoalkan hanya meniup lilin, kenapa dalam ceramah lain sampai menyebut orang tua yang merayakan ulang tahun anaknya dengan istilah “selamat murtad”? Ini bukan sekadar beda pandangan fiqih. Pernyataan itu secara implisit melabeli orang tua Muslim sebagai pihak yang merayakan kemurtadan anaknya. Dan dalam tradisi Islam, tuduhan semacam ini bukan perkara ringan.
Kebingungan makin besar ketika potongan ceramah tersebut disandingkan netizen dengan momen ulang tahun istri UAS sendiri. Terlepas dari konteks aslinya, di mata publik, ini memperkuat kesan inkonsistensi antara ucapan dan praktik. Padahal, UAS bukan figur biasa, dia dikenal sebagai dai nasional dengan jutaan pengikut dan latar belakang akademik yang kuat. Dia juga pernah mengajar di UIN Sultan Syarif Kasim Riau, dan pada 2025 dilaporkan dilantik sebagai Direktur LP3N. Artinya, pengaruhnya bukan cuma personal, tapi juga struktural. Apa yang dia ucapkan punya dampak sosial nyata.
Dari sudut pandang Gerakan PIS, ini bukan soal ulang tahun atau lilin, tapi soal cara agama dibawa ke ruang publik. Dalam Islam, tidak ada dalil eksplisit yang mengharamkan peringatan hari lahir. Bersyukur atas umur juga tidak pernah disebut sebagai dosa, apalagi kemurtadan. Dalam kaidah fikih, hukum asal sesuatu itu boleh selama tidak ada dalil yang melarang, dan ulang tahun jelas bukan ritual ibadah atau persoalan aqidah, melainkan tradisi sosial.
Soal tasyabbuh pun tidak bisa dipukul rata. Ulama memberi syarat ketat: harus ada niat meniru keyakinan atau ritual ibadah agama lain. Kalau logika ini dipakai tanpa konteks, banyak praktik sehari-hari umat Islam justru ikut bermasalah, dan itu jelas tidak konsisten.
Yang paling krusial, istilah “murtad” adalah kategori iman yang sangat berat. Murtad berarti keluar dari Islam secara sadar, bukan sekadar merayakan ulang tahun anak. Melabeli orang tua sebagai “merayakan kemurtadan” sudah masuk wilayah takfir implisit dan berisiko menciptakan ketakutan sosial.
Kami menghormati perbedaan pandangan keagamaan, tapi kami menolak tegas pelabelan ekstrem dan penyederhanaan iman. Agama seharusnya menghadirkan ketenangan dan kebijaksanaan, bukan stigma dan vonis massal di ruang publik. Beda pendapat boleh, tapi jangan gampang melabeli iman orang lain. Yuk beragama dengan akal sehat!


