Kenapa Netizen Rujak Zulhas Yang Tampil Heroik Di Lokasi Bencana?

Published:

Alih-alih mendapatkan simpati, video Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), saat turun ke lokasi banjir di Padang malah membuat netizen geram. Di tengah kondisi itu, pada 1 Desember lalu, Zulhas datang untuk ‘’meninjau’’ lokasi dengan kemeja putih dan sepatu bot oranye. Yang jadi sorotan bukan kunjungannya. Tapi video dirinya yang lagi memanggul karung beras sambil berjalan di atas lumpur. Video itu diunggah langsung ke Instagramnya. Lengkap dengan caption dramatis tentang duka warga.

Dia juga menyebut pemerintah akan membangun kembali rumah warga yang rusak. Selain itu, ia menginstruksikan Bulog menyalurkan bantuan dua kali lipat dari kebutuhan daerah. Terutama beras, minyak goreng, dan gula, untuk mencegah kelangkaan. Zulhas bahkan ‘’berjanji’’ memberi bantuan modal untuk warga yang kehilangan usaha.

Sumatera sedang dilanda banjir bandang dan longsor hebat. Ratusan orang meninggal, ribuan mengungsi, rumah hanyut diterjang arus. Di Padang, khususnya Koto Panjang Ikur Koto, Koto Tangah, air merendam rumah sampai atap. Secara substansi, langkah Zulhas itu terdengar positif kan? Ehhh tapi publik justru bereaksi sebaliknya loh…

Kolom komentar Instagram-nya malahan dibanjiri puluhan ribu komentar pedas. Mulai dari “Pencitraan kelas minyak goreng”, “Camera, roll, action!”, sampai sindiran soal tim konten yang lengkap mengiringi kunjungannya. Banyak yang menilai aksi Zulhas lebih mirip pengambilan gambar film pendek daripada dokumentasi darurat bencana. Audionya jernih, anglenya rapi dan editingnya? Mulus….

Yang memperkeruhya suasana adalah rekam jejak Zulhas sebagai Menteri Kehutanan 2009 – 2014. Netizen mengaitkan banjir bandang Sumatera dengan kebijakan kehutanan era tersebut, yang dianggap membuka pintu izin penebangan hutan besar-besaran. Video lawas tahun 2013 pas Harrison Ford menegur Zulhas soal deforestasi juga kembali viral dan dijadiin amunisi kritik oleh netizen. Di lokasi banjir ditemukan banyak kayu gelondongan besar hanyut. Ini dianggap sebagai bukti penebangan hutan skala besar. Bupati Tapanuli Selatan bahkan menuntut kajian menyeluruh atas praktik penebangan hutan. Situasi makin panas karena pada Oktober 2025, Kementerian Kehutanan juga disebut kembali menerbitkan izin penebangan baru.

Ya nggak heran kalau komentar publik sampe meledak. Ada yang nulis, “Bukan beras yang harusnya dipanggul, tapi tanggung jawab atas izin-izin HPH dulu!” Selain itu kritik juga datang dari kalangan politisi. Deddy Yevri Sitorus dari PDIP bilang, “Kalau memanggul beras 5 kg aja sudah membuatmu merasa peduli, baiknya jalan-jalan ke pasar atau pelabuhan!” Konten kreator Dokter Detektif (Doktif) pun menilai aksi Zulhas dan Verrell Bramasta yang ikut hadir ini sebagai ”pencitraan basi”.

Banyak netizen menilai timing aksi ini mencurigakan. Di tengah kontroversi kayu gelondongan dan isu kerusakan hutan, Zulhas muncul dengan aksi heroiknya. Seolah-olah ingin mengalihkan perhatian atau ‘’mencuci tangan’’ dari tanggung jawab masa lalunya. Karena itu muncul lah pertanyaan publik. Apa gunanya memanggul beras kalau akar masalahnya, deforestasi dan izin penebangan nggak diselesaikan?

Reaksi keras publik nunjukkin bagaimana media sosial mengubah cara masyarakat menilai pejabat. Misalnya dulu, foto pejabat memberi bantuan mungkin selalu dianggap positif. Sekarang netizen lebih kritis. Mereka mampu membedakan mana aksi tulus, mana yang cuma buat konten. Terutama kalau rekam jejak pejabat tersebut bermasalah dan punya kontroversi. Memori publik terhadap kebijakan Zulhas di sektor kehutanan ternyata belum pudar.

Guys, kasus ini jadi pelajaran penting ya. Di era digital, publik relation stunt nggak akan mempan kalau nggak disertai rekam jejak yang baik. Masyarakat sekarang nggak cuma butuh foto dan video heroik. Mereka butuh pertanggungjawaban, transparansi, dan aksi nyata menyelesaikan akar masalah. Jadi, mari kita lebih bijak dalam menilai aksi pejabat. Jangan cuma lihat foto dan video heroiknya. Tapi liat juga rekam jejaknya, konsistensinya, dan apakah solusinya menyentuh akar masalah. Yuk, jadi warga negara yang kritis dan cerdas!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img