Kenapa Pemilih Anies Lebih Banyak yang Percaya Ijazah Jokowi Palsu?

Published:

Pemilih Anies lebih banyak yang percaya ijazah Pak Jokowi palsu, dibanding pemilih Ganjar, apalagi pemilih Prabowo. Ini bukan hasil polling-pollingan kayak polling-nya Refly Harun itu ya. Ini hasil penelitian berdasarkan metodologi yang diakui secara saintifik. Ini hasil survei Indikator Politik Indonesia yang dirilis pada 27 Mei lalu. Menurut survei itu, 75,9 persen warga mengaku tahu kasus ijazah Pak Jokowi yang diduga palsu. Hanya 24,1 persen yang mengaku tidak tahu.

Nah, dari 75,9 persen warga yang tahu, di-breakdown menurut basis pemilih dalam Pilpres 2024. Hasilnya, pemilih Anies yang percaya ijazah Pak Jokowi diduga palsu sebesar 40,2 persen; yang tidak percaya 50,9 persen. Pemilih Prabowo yang percaya ijazah Pak Jokowi diduga palsu cuma 15,2 persen; yang tidak percaya 71,7 persen. Pemilih Ganjar yang percaya ijazah Pak Jokowi diduga palsu cuma 20,6 persen; yang tidak percaya 61,9 persen. Artinya, lebih banyak pemilih Anies yang percaya ijazah Pak Jokowi palsu dibanding pemilih Ganjar, apalagi pemilih Prabowo.

Pertanyaannya, kenapa kebanyakan pemilih Anies bersikap seperti itu? Pemilih Anies adalah orang-orang yang selama ini anti dan membenci Pak Jokowi. Sikap anti dan kebencian mereka tumbuh seiring kemunculan Pak Jokowi dalam panggung politik nasional kita. Dimulai saat Pak Jokowi diboyong ke Jakarta dalam Pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada 2012 dan berhasil menduduki posisi DKI 1. Sikap itu semakin menguat ketika Pak Jokowi diusung menjadi calon presiden pada Pilpres 2014.

Mereka inilah yang percaya hoaks-hoaks yang menyerang Pak Jokowi selama masa kampanye pilpres. Mulai dari hoaks Pak Jokowi itu beragama Kristen, keturunan China, keturunan PKI, bahkan anggota PKI. Mereka percaya sekali Pak Jokowi itu proxy asing dan aseng untuk menghancurkan Indonesia dan umat Islam dari dalam. Orang-orang yang tidak berpikir jernih dan gampang termakan hoaks itu mendukung satu-satunya kompetitor Pak Jokowi dalam Pilpres 2014 dan 2019, yaitu Pak Prabowo. Mereka mendukung Pak Prabowo bukan karena mereka loyalis Pak Prabowo. Mereka mendukung Pak Prabowo karena percaya Pak Prabowo bisa dititipkan aspirasi politik mereka untuk menghabisi Pak Jokowi.

Tapi begitu Pak Prabowo dianggap tidak bisa lagi menjadi saluran aspirasi politik mereka, mereka langsung kabur dari barisan pendukung Pak Prabowo. Itu terlihat dari sikap mereka setelah Pak Prabowo merapat dalam Pemerintahan Pak Jokowi pasca Pilpres 2019. Belakangan, orang-orang ini bergabung dalam barisan pendukung Anies. Mereka percaya, Anies adalah tokoh politik yang menjadi antitesis Pak Jokowi selanjutnya. Mereka pun getol mengkampanyekan Anies selama Pilpres 2024.

Sikap anti dan kebencian mereka pada Pak Jokowi tidak berakhir hanya karena Anies kalah di pilpres. Sikap anti dan kebencian mereka menemukan wadah barunya dalam kasus ijazah Pak Jokowi. Tifauzia Tyassuma dan Refly Harun yang bekas pendukung Anies di Pilpres 2024 gencar mengamplifikasi isu ijazah Pak Jokowi palsu. Masalahnya, sikap anti dan kebencian mereka kepada Pak Jokowi itu membuat mereka menutup telinga dari kebenaran. Mereka tidak mau mendengar penjelasan UGM soal ijazah Pak Jokowi. Mereka mengabaikan begitu saja kerja verifikasi ijazah Pak Jokowi yang dilakukan penyelenggara pemilu untuk keperluan pencalonan.

Sejak sebagai calon Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta, sampai Presiden Indonesia. Mereka juga tidak percaya hasil uji laboratorium forensik ijazah Pak Jokowi yang dilakukan Bareskrim Polri. Mereka menolak percaya karena kebenaran-kebenaran itu bisa meruntuhkan dunia yang mereka bangun selama ini. Nampaknya, orang-orang yang tidak berpikir jernih dan gampang termakan hoaks ini akan selalu kita temui dalam percakapan di ruang publik. Apa boleh buat. Yuk, terus jadi warga yang waras dan kritis!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img