Khalid Basalamah Bilang Kritik Pemerintah Cuma Buang-buang Waktu?

Published:

Kata Khalid Basalamah kritik terhadap pemerintah cuma buang-buang waktu saja. Menurutnya kritik itu belum tentu juga didengarkan atau memberikan pengaruh. Daripada sibuk mengkritik pemimpin kata Khalid lebih baik memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur’an. Pernyataan itu dia sampaikan saat menjawab pertanyaan seorang jamaah. “Apakah termasuk ghibah jika kita mengkritik pemerintah atau pemimpin—baik Muslim maupun non-Muslim—di media sosial seperti Facebook?”, tanya sang jamaah. Khalid kemudian menjawab bahwa sebaiknya tidak dilakukan, karena tidak ada manfaatnya.

Sekilas, pandangan ini terdengar baik dan bijak ya! Tapi, kalau ditelaah lebih dalam, pernyataan ini sangat problematik. Kritik terhadap pemerintah bukan soal nyinyir atau benci, melainkan bentuk kepedulian. Dalam sistem demokrasi, kritik adalah hak bahkan kewajiban warga negara. Apalagi jika pemerintah membuat kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat kecil. Masak, kita diminta diam, sementara banyak yang sengsara karena korupsi, ketidakadilan, dan penindasan? Kalau semua orang memilih diam, siapa yang akan menyuarakan penderitaan rakyat?

Kritik adalah bagian dari amar ma’ruf nahi munkar. Ia bukan bentuk kebencian, tapi bentuk tanggung jawab dan cinta kepada sesama. Zikir dan membaca Al-Qur’an penting, tapi bukan alasan untuk menutup mata terhadap kezaliman. Islam adalah agama yang aktif, bukan pasif terhadap ketidakadilan. Memang, dalam beberapa ceramah lainnya, Khalid mengatakan kritik harus disampaikan dengan baik, atau empat mata. Tapi, bagaimana dengan rakyat biasa yang tak punya akses pada para pemimpin? Media sosial menjadi ruang alternatif untuk menyampaikan aspirasi, asal dilakukan dengan sopan, beradab, dan tanpa fitnah.

Sayangnya, pernyataan Khalid ini terkesan meremehkan fungsi kritik. Ini bisa membuat umat menjadi pasif, apatis, bahkan takut bersuara. Penguasa korup lalu sangat diuntungkan ketika rakyatnya dibungkam oleh narasi keagamaan yang menyesatkan. Yang lebih berbahaya, agama bisa dijadikan alat pembungkam kebebasan berpendapat. Seolah-olah, kritik adalah bentuk dosa, padahal tidak. Selama niatnya baik, caranya benar, dan tujuannya untuk perbaikan, kritik adalah bagian dari ibadah sosial.

Di era digital, media sosial sering kali menjadi satu-satunya cara rakyat menyuarakan ketidakadilan. Oleh karena itu, pandangan Khalid sangat disayangkan. Ia adalah dai dengan pengaruh besar dan pengikut yang luas. Jika pernyataannya ini ditelan mentah-mentah, dikhawatirkan umat Islam makin enggan bersuara demi alasan “bijak” yang salah kaprah. Akibatnya, ketidakadilan makin tak terbendung karena suara rakyat dibungkam oleh rasa takut dan kesalahan tafsir agama.

Ini bukan sekadar soal pendapat, tapi soal masa depan keadilan dan kemanusiaan. Umat Islam perlu kritis, tidak hanya kepada pemerintah, tapi juga terhadap para tokoh agama. Diam bukan solusi, apalagi dalam menghadapi kezaliman yang nyata. Karena itu, penting untuk menghidupkan budaya kritik yang sehat, santun, dan penuh tanggung jawab. Jadi, jangan takut mengkritik jika kita benar. Yuk, beragama pakai akal sehat!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img