Mentang-mentang bule, Habib Rifky Alaydrus ini kok hina pribumi ya? Video ceramahnya akhir-akhir ini lagi viral banget. Dalam potongan yang beredar, Rifky nyeletuk: “Limited edition ini. Muka-muka impor. Kalo lo kan muka lokal, hahahaha”. Gak cuma itu, dia bahkan sebut spesifik bentuk-bentuk wajah yang dia maksud lokal. “Hidung pesek, pipi tembem, hahahaha. Mata belok persis kayak celengan Semar. Terusin gak? Yang mana nih? Celengan Semar?” lanjutnya.
Kalau dilihat sekilas mungkin niatnya buat lucu-lucuan. Tapi begitu diunggah ulang akun @ngertiagama, publik langsung rame. Banyak yang bilang ini bukan sekadar humor, tapi sudah jadi penghinaan. Apalagi kalimat “muka impor vs muka lokal” gampang banget ditafsirkan sebagai olok-olok fisik dan sentimen ke arah pribumi. Yang bikin makin panas, dalam kultur kita, habib diasosiasikan sebagai keturunan Nabi Muhammad, sosok mulia yang harusnya jaga ucapan. Jadi, publik ngerasa ada kontradiksi: gimana bisa seorang habib malah merendahkan jamaah yang datang buat ngaji? “Rasulullah akhlaknya gak begini. Trus dia ikut akhlak siapa?” tulis salah satu netizen.
“Secara langsung dia sudah menghina ciptaan Allah SWT, miris liat pemuka agama yg begini,” tulis yang lain.
Fenomena kayak gini sebenernya udah sering kejadian. Ada tren sebagian penceramah yang nyampurin dakwah sama gaya stand-up. Tujuannya bikin suasana cair, biar jamaah gak ngantuk, tapi sering kali kelewatan, jatuhnya malah body shaming, sindir etnis, atau nyinggung simbol budaya. Yang paling mudah kita inget dan bikin heboh media sosial sebelumnya, ya kasus Gus Miftah. Dia pernah blunder saat nyeletuk kata kasar “goblok” tapi bercanda ke pedagang es teh di Magelang. Videonya viral, ekspresi penjualnya kelihatan gak nyaman, dan netizen langsung ngamuk. Kasus Gus Miftah ini contoh nyata gimana humor bisa jadi bumerang.
Kritiknya deras, dari warganet sampai DPR, bahkan Partai Gerindra bilang itu gak sesuai ajaran. Akhirnya Gus Miftah minta maaf, datang ke rumah pedagang buat klarifikasi, dan mundur dari jabatan. Nah, ini yang bikin publik sekarang lebih sensitif. Candaan soal fisik, status sosial, apalagi diselipin embel-embel keturunan “lebih mulia”, gampang banget dipersepsi sebagai merendahkan. Apalagi di era medsos, potongan video bisa tersebar cepat tanpa konteks lengkap dan sekali publik tersinggung, kepercayaan otomatis anjlok.
Bagi kami di Gerakan PIS, gaya kayak gini tuh jelas berbahaya. Dakwah itu seharusnya jadi ruang edukasi dan pencerahan, bukan ajang roasting jamaah. Ucapan tokoh agama seharusnya merangkul, bukan malah bikin luka. Apalagi, masyarakat kita itu beragam banget. Ada yang bisa ketawa santai, tapi ada juga yang punya luka sosial panjang soal fisik, warna kulit, atau identitas. Sekali salah ucap, dampaknya bisa kolektif: bukan cuma satu orang yang sakit hati, tapi satu komunitas bisa merasa dilecehkan.
Kebebasan bicara memang penting, tapi tokoh agama punya tanggung jawab moral yang jauh lebih besar. Kalau mau bercanda, pilihlah humor yang aman, inklusif, dan bikin suasana cair tanpa menyakiti. Jangan sampai mimbar dakwah berubah jadi panggung mempermalukan jamaah. Karena sekali publik merasa diremehkan, akibatnya bisa fatal: reputasi runtuh sampai tekanan sosial naik. Humor sah-sah aja, tapi kalau dipakai buat merendahkan fisik atau identitas, itu bukan dakwah, itu bentuk kekerasan simbolik. Yuk, pilih tokoh agama yang benar-benar bisa jadi panutan!


