Mas Pramono Anung, Apa Iya Shalawat Bisa Damaikan Tawuran Warga?

Published:

Buat apa Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung membuat program ‘Manggarai Berselawat’? Niatnya sih pasti baik. Pada 13 Mei, Pramono menyatakan dia akan membuat program ‘Manggarai bersholawat’ untuk mencegah tawuran. Yang jadi masalah adalah tujuannya itu: Mencegah Tawuran! Kalau dilihat dari namanya, program ini kan kesannya akan mengajak orang-orang di Manggarai mengaji, berzikir, menyuarakan kebesaran Allah. Program yang religius lah. Tapi masalahnya, apa iya acara semacam ini bisa membuat para pelaku tawuran kehilangan semangat untuk baku hantam? Ini yang jadi pertanyaan besar.

Sebagai gubernur baru, Pramono memang pasti risau sekali dengan kondisi di Manggarai. Pada 4 Mei malam, terjadi tawuran kembali antara warga RW 4 dan RW 12 di jalan Tambak, Manggarai. Menurut polisi, tawuran ini dipicu oleh aksi provokatif berupa lemparan petasan. Tawuran ini memakan satu korban luka yang terkena bacok di bagian kepala. Dua hari kemudian terjadi lagi saling serang antara warga di kolong Manggarai. Mereka mempersenjatai diri dengan senjata tajam, batu, hingga petasan. Tawuran kali ini sudah diredam. Namun ini tetap menunjukkan bahwa potensi konflik masih terus terasa di Manggarai.

Tawuran antar warga di Manggarai sudah berlangsung sejak 1970 an. Dan sampai saat ini, upaya perdamaian tak pernah bertahan lama. Karena itulah, Pramono sekarang tiba-tiba saja berencana membuat Manggarai Bershalawat. Pertanyaannya, apa benar konflik terjadi karena warga Manggarai kurang beragama? Pramono sendiri sebenarnya sudah menyebut sejumlah factor yang menyebabkan tawuran. Dia melihat anak-anak muda di sana tidak punya pekerjaan, sementara sarana olahraga dan fasilitas lainnya juga kurang termanfaatkan. Pramono menganggap tawuran tak bisa semata-mata diselesaikan dengan cara-cara represif. Dia menganggap perlu ada dialog antar warga yang kerap berseteru. Kalau begitu, kenapa justru jalan keluarnya adalah ‘bershalawat’?

Tawuran di Manggarai ini sama sekali tidak sederhana. Konflik di sana telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu dan diwariskan antar generasi. Akibatnya anak-anak muda tumbuh dalam lingkungan yang sudah menganggap warga RW lain sebagai “lawan”. Konflik bisa sekali terjadi hanya karena bentrokan kecil yang kemudian berkembang jadi permusuhan berkelanjutan. Solidaritas yang kuat terhadap kelompok RW masing-masing membuat identitas kelompok menjadi eksklusif. Ini menciptakan perasaan “kami vs mereka” yang memicu dan memperkuat konflik.

Emosi anak-anak muda di sana gampang sekali tersulut juga karena mereka hidup dalam kondisi ekonomi yang sulit. Kemiskinan dan pengangguran membuat sebagian orang mudah terprovokasi atau mencari pelampiasan lewat kekerasan. Anak-anak muda mudah terbawa arus karena tidak diajarkan untuk menyelesaikan konflik secara damai. Hal-hal sepele seperti ejekan, siulan, senggolan, atau juga petasan bisa memicu bentrok besar. Karena itu, Mas Pramono nampaknya harus berupaya keras mempersatukan warga Manggarai menjadi satu keluarga. Sesama warga tak boleh lagi melihat satu sama lain sebagai musuh.

Perlu ada program bersama yang menyenangkan, yang membawa manfaat, yang menyatukan. Dan nampaknya cara terbaik jelas bukanlah sekadar bershalawat. Anak-anak muda Manggarai harus diajak bicara dan didengar pendapatnya. Saat ini Mas Pramono memiliki tim staf khusus yang terdiri dari 15 tokoh masyarakat. Segera fungsikan mereka untuk tangani konflik di Manggarai!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img