Gak heran sih kalau intoleransi masih sering muncul di negeri ini. Soalnya, ada aja ustadz dari agama mayoritas yang sok-sokan jadi hakim akhirat. Contohnya Ustadz Abdul Somad atau yang akrab dipanggil UAS. Dia bilang pejabat Muslim yang ngasih izin rumah ibadah agama lain bakal dapat dosa jariyah sampai kiamat. Pernyataannya terekam dalam video yang diunggah oleh akun @tentang_hidup01_ dan juga pernah disebar Abu Janda.
Dalam video, UAS membaca pertanyaan dari jemaatnya. “Bagaimana dalam agama Islam seorang Muslim karena jabatannya dia memberi izin berdirinya rumah ibadah seperti klenteng, gereja?” Tanpa banyak mikir, UAS langsung jawab: “Dia dapat dosa jariyah, mengalir terus.” Lalu dia menggambarkan bagaimana siksaan pada orang yang telah memberikan izin rumah ibadah agama lain. “Setiap berbunyi ‘teng’, habis kau dibelangku malaikat, ‘teng’, kelompang, rasakanlah itu!” ucapnya.
Kebayang kan gimana ucapan kayak gini bisa bikin masyarakat makin terpolarisasi? Netizen juga banyak yang nyinyir, bilang kalau dalil yang dipakai UAS itu cuma cocoklogi dan minim toleransi. “Modelan begini pemecah belah bangsa”, komentar salah satu netizen. “Ustad ini selalu menebarkan kebencian..” tulis netizen lain. Nah, faktanya, Islam justru nggak pernah ngelarang pembangunan rumah ibadah agama lain.
Sebaliknya, Al-Qur’an dan sejarah Nabi nunjukin perlindungan terhadap gereja, sinagoge, dan tempat ibadah lain. Ini tertulis jelas di dalam QS Al-Hajj ayat 40. “Allah tidak menolak sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi” Ayat ini clear banget: Allah menjaga eksistensi semua rumah ibadah. Nabi Muhammad juga kasih contoh nyata. Piagam Madinah tahun 622 M menegaskan orang Yahudi dan Nasrani bebas beribadah dengan aman.
Bahkan ada surat perjanjian dengan kaum Nasrani Najran. Isinya: “Untuk mereka hak perlindungan Allah dan Rasul-Nya atas jiwa, harta, agama, serta gereja-gereja mereka.” Kalau dalam logika UAS, Rasulullah jadinya ikut disiksa karena telah memberikan izin berdirinya gereja. Jadi sebenarnya nggak ada tuh cerita Nabi melarang bikin gereja. Makanya ngaco kalau UAS bilang pejabat yang izinin rumah ibadah lain bakal dosa jariyah. Bahkan Al-Qur’an dan Nabi bilang rumah ibadah non-Muslim itu harus dijaga.
Kalau bicara rekam jejak, UAS emang sering bikin heboh. Tahun 2019 dia pernah bilang salib ada “jin kafir”. Dia juga pernah nyebut bom bunuh diri sebagai “syahid”. Jadi, bukan pertama kali ceramahnya bikin masalah. Indonesia lahir dari keberagaman. Kalau pejabat ngasih izin gereja, vihara, atau kelenteng, itu bukan dosa, tapi justru ibadah sosial karena ikut jaga kerukunan.
Narasi dosa jariyah ala UAS ini jelas nggak sesuai semangat rahmatan lil ‘alamin. Dan lebih jauh lagi, itu kontradiktif sama spirit bangsa kita. Pancasila menekankan ketuhanan sekaligus kemanusiaan dan persatuan. UUD 1945 Pasal 29 ayat 2 juga tegas jamin kebebasan tiap warga negara buat beribadah. Jadi kalau ada tokoh publik ngomong sebaliknya, itu bukan cuma melawan ajaran Islam yang sebenarnya, tapi juga melawan konstitusi negara.
Justru pejabat yang adil itu ya yang ngasih izin pembangunan rumah ibadah buat semua, itu pahala, bukan dosa. Bedakan mana yang bawa damai dan mana yang suka memecah belah. Indonesia terlalu berharga kalau dibiarkan rusak oleh narasi kebencian. Yuk, kita lebih kritis pilih panutan!


