Serius lagi ada pameran ekstrak keringat Nabi Muhammad? Emang mungkin ya, keringat Nabi Muhammad diekstrak? Btw, ekstrak keringat nabi ini sedang dipamerkan bersama sejumlah artefak Nabi Muhammad lainnya. Mulai dari rambut, sorban, tongkat, sandal Nabi dan lain-lainnya.
Pameran ini kabarnya dibuka secara gratis di kawasan Pakansari, Cibinong, Bogor. Tapi informasinya, pameran ini sepi pengunjung, netizen pun ramai-ramai bilang, orang Indonesia mulai cerdas. Pamerannya berlangsung setiap hari sepanjang Ramadan (sekitar 19 Februari – 18 Maret 2026), dengan jam operasional 09.00–21.00 WIB.
Tujuannya katanya buat edukasi sejarah Islam, nguatin nilai spiritual, ningkatin kecintaan umat ke Nabi. Sekaligus jadi wisata religi biar UMKM sekitar ikut kecipratan rezeki. Informasi pameran ini bisa dilihat di akun instagram @ruangbibircom, 23 Februari lalu. Di video itu kelihatan sejumlah artefak yang “diklaim” sebagai peninggalan Nabi dan para sahabat.
Totalnya disebut ada 75 artefak. Di antaranya rambut dan janggut Rasulullah, surban, sandal, tongkat, wadah minum, alat siwak, sampai potongan kiswah Ka’bah dan batu pondasi Ka’bah. Bahkan, kabarnya ada “ekstrak keringat nabi” di sana. Ada juga pedang-pedang yang dikaitkan dengan tokoh Islam seperti Sayyidina Husain, Khalid bin Walid, dan Muhammad Al-Fatih, plus replika perlengkapan perang zaman awal Islam.
Pameran ini diresmikan langsung sama Bupati Bogor, Rudy Susmanto. Dia bilang ini momen berharga buat mengenal sejarah Islam lebih dalam dan ningkatin semangat religius jelang Idul Fitri. Tapiii… yang jadi sorotan, kabarnya pameran ini malah sepi pengunjung. Banyak yang mempertanyakan soal keaslian artefak-artefaknya. Apalagi pas muncul klaim soal “ekstrak keringat Rasulullah” yang katanya diambil, diawetkan, lalu dipamerkan.
Netizen pun ramai-ramai berkomentar. “Alhamdulillah sepi, berarti bangsa ini pelan-pelan mulai cerdas” tulis seorang netizen. “Memangnya pemerintah Saudi semudah itu mengizinkan benda bersejarah ini dipajang di Indonesia?” tulis netizen lain. “Lukisan monalisa aja ketat. Kok ini kek jual cilokkk” tulis yang lain.
Kalau dipikir-pikir, pertanyaan mereka emang masuk akal. Secara historis dan akademik, klaim keaslian artefak yang usianya lebih dari 1.400 tahun itu memang susah banget diverifikasi. Nabi Muhammad wafat lebih dari 14 abad lalu. Zaman itu belum ada sistem dokumentasi ilmiah modern. Rantai kepemilikan benda (chain of custody) sering nggak bisa dibuktikan secara akademik. Tes DNA pun nggak bisa dilakukan tanpa pembanding yang valid.
Di dunia Islam sendiri memang ada tempat yang mengklaim menyimpan relik Nabi, misalnya di Istana Topkapi. Tapi bahkan untuk koleksi di sana pun, keasliannya lebih banyak diterima berdasarkan tradisi sejarah dan keyakinan, bukan verifikasi ilmiah modern yang ketat. Secara logika, kemungkinan palsu itu selalu ada. Apalagi kalau nggak ada penjelasan detail soal asal-usul artefak, nggak ada kajian ilmiah terbuka, dan klaimnya terdengar luar biasa.
Netizen yang bandingin sama Louvre Museum juga ada benarnya. Karya kayak Mona Lisa aja dijaga super ketat, dengan pengamanan ekstra dan protokol internasional. Apalagi kalau benar itu peninggalan Nabi Muhammad yang nilainya sakral banget buat umat Islam sedunia. Secara diplomatik, relik dengan nilai spiritual dan historis tinggi biasanya dijaga ketat banget. Kalau sampai dipindahin lintas negara, harusnya ada protokol resmi, pengumuman dari otoritas negara asal, asuransi internasional, dan publikasi terbuka. Kalau nggak ada itu semua, wajar kalau publik jadi bertanya-tanya.
Di era digital sekarang, orang nggak gampang nerima informasi mentah-mentah. Mereka cari sumber, bandingin data, terus nanya: “Buktinya mana?” Dan itu bukan berarti nggak beriman. Berpikir kritis beda sama nggak percaya. Justru iman dan akal sehat bisa jalan bareng. Fenomena ini bisa jadi tanda kalau masyarakat makin melek informasi dan makin berani mempertanyakan klaim yang nggak jelas dasar ilmiahnya. Dan itu sebenarnya hal yang patut jadi kebanggaan. Yuk beragama dengan akal sehat!


