Pernah denger istilah pelakor syariah? Itu lho, perempuan yang dekatin suami orang, tapi dengan gaya terkesan Islami dan religius. Istilah diperkenalkan konsultan spiritual rumah tangga, Meida Eviriyani. Lewat salah satu postingan di akun Instagramnya, Meida ngebahas soal fenomena pelakor syariah.
Menurut Meida, ada lima tahapan perempuan deketin suami orang. Tahap pertama, obrolan soal agama. Dalam tahap ini, pelakor membuka obrolan ringan dengan suami orang lain seputar ibadah atau aktivitas yang dianggap religius. “Kamu sibuk di kantor tapi masih sempet solat Duha. Kamu tuh idaman, mas,” ucap Meida tiruin ucapan pelakor. Ucapan ini disebut Meida senjata awal buat bangun empati emosional berbasis agama.
Tahap kedua, validasi dan testing. Pelakor bakal kasih pujian intens. Contohnya, dia bilang hidupnya lebih tenang sejak kenal suami orang itu. Atau dia juga mulai lakuin sentuhan fisik kecil, seperti nepuk pundak atau pegang tangan. Semua dilakuin buat tanamin rasa spesial dan perasaan diakui dalam diri suami orang itu. Kalau suami orang itu mulai kasih perhatian balik, waktu, energi, atau ucapan manis tanpa diminta, berarti dia udah masuk perangkap.
Tahap ketiga, pengakuan cinta tersirat. Biasanya kalimat yang dipakai halus, tapi emosinya dalam. Contohnya, “Aku butuh sosok imam kayak kamu.” Obrolan juga mulai makin personal, makin intens, dan tanpa sadar masuk ke zona rawan emosional. Tahap keempat, arah syahwat. Di sini, pelakor bisa mulai bertanya tentang fantasi si suami, apa yang kurang dari istrinya di ranjang, sampai menawarkan “servis” yang lebih berani. Komunikasinya udah nggak lagi sekadar pujian spiritual, tapi mengarah ke aktivitas seksual.
Tahap kelima, mengikat lahir batin. Perempuan justru kelihatan paling sabar dan bijak. Dia bilang nggak mau merebut suami orang itu. Dia juga tetep doain istri suami orang itu dan ngajak suami orang itu tetep taat ibadah. Tapi justru di sinilah manipulasi emosional paling kuat buat suami orang itu. Efeknya, dia bakal lebih beliin si pelakor dibanding istri sahnya.
Kalau kita amati, fenomena ini sebenarnya mirip banget dengan teknik emotional grooming. Alias strategi ngebangun kedekatan emosional buat dapat kepercayaan yang ujung-ujungnya dimanfaatkan. Bedanya, dalam hubungan ini dibungkus dengan ayat, dalil, dan terkesan Islami. Konten yang diposting Meida ini bakal pro dan kontra. Tapi, nggak bisa disangkal kalau itu terjadi. Perselingkuhan datang dari perempuan berhijab. Godaan dari perempuan yang dianggap taat.
Masalahnya, seringkali kita lebih sibuk nyalahin perempuan lain ketika perselingkuhan terjadi. Seolah, perselingkuhan cuma disebabkan sama perempuan penggoda. Kita lupa bertanya, kenapa bisa hubungan suami-istri segitu terbukanya sampai-sampai dapat intervensi emosional dari pihak ketiga? Istilah ‘suami direbut perempuan lain’ itu jelas nggak logis. Balita aja kalau direbut akan menunjukkan sikap penolakan, apalagi orang dewasa.
Percaya deh, perselingkuhan itu resiprokal. Alias, saling berbalas dan timbal balik. Bukan hubungan yang bertepuk sebelah tangan. Karena itu, seintens apapun perempuan lain kasih love bombing, suami yang baik pasti nggak akan mengkhianati komitmennya. Yang dituntut menjaga marwah dan kehormatan bukan cuma perempuan. Hal yang sama juga harus dituntut kepada suami. Yuk, jadi pasangan memegang komitmen!


