Penonton Di Konser Payakumbuh Nyanyi ‘Tuhan Den Paso’, Dianggap Nistakan Agama?

Published:

Sekelompok orang yang mengaku ulama di Payakumbuh, Sumatera Barat, ini berlebihan deh. Masa mereka menganggap anak-anak muda di Payakumbuh menistakan agama karena bernyanyi dengan lirik seolah ingin memaksa kehendak Tuhan. Itu terjadi di konser musik di Payakumbuh pada 27 September lalu.

Semua berawal dari lagu Minang klasik “Patah Bacinto Itu Biaso”. Lagu ini sejatinya berisi pesan sederhana—bahwa patah hati itu hal biasa, karena kalau memang tidak jodoh, Tuhanlah yang berkuasa menentukan. Dalam versi aslinya, lirik itu berbunyi: “Patah bacinto itu biaso, kok indak jodoh, Tuhan kuaso.” Lirik itu artinya: “Patah cinta itu biasa. Kalau tak berjodoh, Tuhan Maha Kuasa.” Tapi di konser itu penonton justru plesetin lirik bagian reff lagu itu. Alih-alih “Tuhan Kuaso”, mereka teriak lantang “Tuhan Den Paso” — yang dalam Bahasa Minang bisa diartikan “Tuhan saya paksa”.

Cuplikan video momen itu pun viral di media sosial. Reaksi keras pun datang dari banyak pihak, terutama para ulama dan tokoh masyarakat setempat. Salah satunya aktivis dakwah Sumbar, Ustaz Muhammad Siddiq. “Kami para ulama sangat menyayangkan kenapa sampai ada ucapan seperti itu. Sebagai hamba, kita harus tunduk pada Tuhan, bukan menantang takdir-Nya.” Dia juga minta panitia konser bertanggung jawab dan segera minta maaf ke publik. Kalau tidak, katanya, langkah hukum bisa diambil.

Polemik ini juga ikut dikomentari Ustaz Derry Sulaiman lewat akun TikTok-nya. Dia menjelaskan bahwa memaksa Tuhan tidak salah—selama dilakukan dengan adab. “Kalau memaksa Allah lewat doa, zikir, air mata, itu boleh. Tapi ini kan di konser, disertai tawa dan sorakan. Jadi jelas tidak pantas,” ucapnya.

Sampai sekarang, belum ada permintaan maaf resmi dari pihak penyelenggara. Tapi perdebatan di dunia maya makin panas. Ada netizen yang bilang itu cuma ungkapan kiasan dan gurauan. “Kalian berhak berbahagia jika ad tokoh yg sok suci mengecam jgn peduliin”, tulis salah satu netizen. “Ini hanya kata kiasan saja, Emang siapa manusia yg berani memaksa Tuhan..tuk ikuti kemauannya, jadi jangan terlalu di tanggapi dengan Tinsi tinggi..” tambah yang lain. Tapi ada juga yang kontra dan bersikap sebaliknya. “Hal yg kita anggap sepele akan menjadi hal besar,bila kita meminta kepada Allah bukan gitu jg cara nya”, tulis yang lain. “Mana boleh memaksa Tuhan yang ada tu mengharap, merendah”, tambah yang lain.

Yang jadi masalah, pola kayak gini sebenarnya udah sering kejadian. Dulu lagu “Yang Ku Mau” dari Krisdayanti, ciptaan Melly Goeslaw, juga pernah dianggap menyinggung karena liriknya dinilai terlalu “berani” secara religius. Di bagian reff-nya, ada kalimat: “Ku tak takut kehilanganmu, Tuhan pun tahu aku mencintaimu.” Waktu itu, sebagian orang menilai kalimat “Tuhan pun tahu aku mencintaimu” seolah menempatkan cinta manusia sejajar dengan Tuhan. Kalimat ini dianggap kurang pantas. Nah, bandingin sama kasus “Tuhan Den Paso” hari ini. Dulu masyarakat masih bisa memisahkan karya seni dari tafsir agama. Sekarang, suasana sosial makin sensitif, dan media sosial bikin isu agama cepat banget meledak.

Kami di Gerakan PIS memahami kemarahan sebagian ulama itu, tapi kami menganggap kemarahan para ulama itu terlalu berlebihan. Karena apa yang mereka perdebatkan rasanya bukan lagi teguran atau nasihat, tapi semacam ketakutan berlebihan pada ekspresi seni. Lirik “Tuhan Den Paso” gak bisa langsung disamakan dengan penistaan. Itu ekspresi, bentuk luapan emosi, bahasa simbolik, bahkan bisa dianggap bagian dari tradisi sastra dan spiritualitas. Dalam dunia seni, bahasa ekstrem itu hal biasa. Justru dari situ muncul kedalaman rasa, karena manusia sering berdoa sambil “memaksa” Tuhan dalam harapan dan tangisan. Jadi bukan tentang menantang, tapi tentang betapa manusia ingin didengar oleh Tuhannya.

Kalau semua hal yang pakai kata “Tuhan” dianggap penistaan, kita gak akan punya ruang seni sama sekali. Anak muda jadi takut ngomong, takut berekspresi, takut salah tafsir. Padahal seni itu wadah buat mengekspresikan perasaan yang gak bisa dijelaskan lewat logika. “Tuhan Den Paso” mungkin kedengarannya nyeleneh, tapi gak semuanya harus ditafsir harfiah. Kadang, manusia cuma pengin curhat ke Tuhan dengan cara yang emosional. Jadi, berhentilah menakut-nakuti orang yang lagi mengekspresikan perasaannya pakai agama. Cukup diingatkan bahwa ada cara yang lebih pantas mengekspresikan perasaan khususnya terkait dengan tuhan, seperti yang disampaikan Ustaz Derry Sulaiman. Yuk, jadi pemuka agama yang merangkul, bukan memukul!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img