Politisi PDIP Ini Sebut Kunjungan Presiden Prabowo ke Luar Negeri Sekedar Puaskan Hobi Jalan-jalan

Published:

Politikus PDIP satu ini ngawur banget deh. Masa kunjungan diplomasi Presiden Prabowo dibilang memuaskan hobi Prabowo untuk jalan-jalan? Padahal realitanya yang dibawa pulang itu potensi kerja buat jutaan orang. Isu ini lagi ramai setelah politikus PDIP, Guntur Romli, lontarin kritiknya ke Presiden Prabowo Subianto soal intensitas kunjungan luar negerinya. Dalam 17 bulan menjabat, Prabowo memang tercatat sudah mengunjungi 28 negara. Dari jumlah itu, beberapa negara dikunjungi berulang kali seperti Malaysia, Uni Emirat Arab, hingga Amerika Serikat dan Inggris.

Buat Guntur, frekuensi ini patut dipertanyakan. Dia menilai ada potensi diplomasi yang dilakukan hanya bersifat simbolik, bukan strategis. “Pernyataan beliau bisa kita pertanyakan, bisa kita kritik karena terkesan kontradiktif dengan narasi yang beliau sampaikan”, ucapnya lewat Instagram @gunromli. “terkait penghematan, efisiensi anggaran, bahkan pemotongan transfer ke daerah,” lanjutnya. Dia juga lalu mempertanyakan apakah kunjungan ke luar negeri itu benar untuk menjaga ekonomi rakyat atau hanya memuaskan ego sebagai sosialita internasional.

Sekilas, kritik ini kedengeran “masuk akal”—apalagi kalau dilihat dari angka kunjungan yang tinggi. Tapi kalau ditarik lebih dalam, framing seperti ini justru berisiko menyederhanakan realitas diplomasi yang jauh lebih kompleks. Karena faktanya, kunjungan luar negeri yang dilakukan Prabowo bukan agenda seremonial kosong. Penjelasan ini bisa kita lihat lewat video di channel youtube resmi Prabowo Subianto, yang berjudul “Presiden Prabowo Menjawab!!! (Part 2)”. “Mungkin ada yang menyangka saya suka jalan-jalan ke situ. Padahal, saya jalan-jalan untuk menjaga rakyat saya, menjaga lapangan kerja mereka,” tegasnya.

Di era sekarang, diplomasi bukan lagi sekadar soal hadir di forum internasional. Ini soal geoekonomi—bagaimana negara bisa membuka akses pasar, menekan tarif ekspor, dan menjaga keberlangsungan industri dalam negeri. Dan di sinilah peran kepala negara jadi krusial. Prabowo jelasin, banyak negosiasi ekonomi global yang mentok di level teknis. Ketika itu terjadi, keputusan akhir hanya bisa diambil lewat komunikasi langsung antar pemimpin negara. “Kadang-kadang kalau kita berunding, mereka selalu bilang harus lapor ke nomor satu mereka,” ujarnya. Karena itulah menurutnya dia harus datang dan berunding langsung dengan para kepala negara.

Presiden Prabowo lalu kasih contoh konkret yang jelas. Saat ini Indonesia berhasil menembus pasar Uni Eropa dan Kanada, termasuk menekan tarif ekspor untuk komoditas seperti tekstil dan sepatu hingga nol persen. Ini bukan hal kecil—karena dampaknya langsung ke industri dan tenaga kerja di dalam negeri. “Kalau saya tidak datang langsung ke Raja Belgia, Raja Belanda, atau pimpinan Uni Eropa, mungkin kita tidak akan tembus,” jelasnya. Artinya, kehadiran Prabowo bukan simbolik, tapi strategis. Ini bentuk diplomasi langsung yang memang jadi praktik umum dalam hubungan internasional modern.

Buat kami di Gerakan PIS, kritik terhadap pemerintah tetap penting dan tentunya sah. Tapi kritik juga harus proporsional dan berbasis substansi. Narasi seperti “kebanyakan jalan-jalan” justru dangkal banget. Jatuhnya malah mereduksi kerja diplomasi yang kompleks jadi sekadar aktivitas fisik berpindah negara. Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Prabowo sedang menjalankan strategi diplomasi ekonomi yang tujuannya jelas: membuka pasar, menjaga industri nasional, dan memastikan lapangan kerja tetap ada. Dalam konteks global yang makin kompetitif, pendekatan seperti ini bukan pilihan, tapi kebutuhan.

Efisiensi yang disinggung juga tidak bisa dimaknai sempit sebagai pengurangan aktivitas. Efisiensi itu soal hasil. Kalau satu kunjungan bisa menghasilkan kesepakatan dagang, membuka akses pasar, dan menyelamatkan sektor industri, itu justru bentuk efisiensi yang nyata. Apalagi dalam banyak kasus, kehadiran langsung kepala negara memang jadi penentu. Tanpa itu, negosiasi bisa berlarut-larut tanpa hasil. Karena itu, alih-alih fokus pada seberapa sering Presiden bepergian, yang lebih relevan adalah melihat apa yang dihasilkan dari setiap perjalanan tersebut. Dan sejauh ini, penjelasan yang disampaikan Prabowo menunjukkan bahwa setiap kunjungan punya tujuan konkret, bukan sekadar simbolik, apalagi personal.

Di tengah dinamika global yang makin keras, pendekatan diplomasi aktif seperti ini justru jadi sinyal bahwa Indonesia tidak sedang diam, tapi bergerak. Dan mungkin, itu yang sering luput dari narasi yang terlalu sibuk menghitung frekuensi, tapi lupa mengukur dampak. Yuk lontarin kritik yang bijak dan proporsional!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img