Jakarta, PIS – Sentimen terhadap saudara kita, etnis Tionghoa, selalu saja ada yang mengipasi. Yang terbaru dari mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). JK menyinggung soal penguasaan ekonomi di Indonesia.
Kata dia, 50 persen lebih ekonomi Indonesia dikuasai oleh etnis Tionghoa. Padahal, katanya, etnis Tionghoa jumlahnya nggak lebih dari 5 persen. Dia lantas menyebut Malaysia sebagai contoh yang lain.
Kata JK, di Malaysia warga Tionghoa cuma 30 persen, tapi menguasai 60 persen ekonomi. JK lalu menyebut minimnya warga Indonesia yang jadi pengusaha adalah masalah besar.
Apa yang dikatakan JK ini sangat disayangkan. JK, misalnya, memakai istilah “mereka” untuk menyebut etnis Tionghoa. Sebaliknya, memakai istilah “kita” untuk menyebut etnis di luar Tionghoa.
JK nampak sengaja memisahkan dua kelompok masyarakat secara kontras. Pernyataan JK itu menyiratkan, seolah-olah saudara kita etnis Tionghoa bukanlah orang Indonesia. Apalagi, itu disampaikan JK di acara Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).
ICMI jelas bukan organisasi yang menghimpun para pengusaha. ICMI didirikan mendiang BJ Habibie untuk jadi wadah bagi cendekiawan muslim berskala nasional. Tokoh ICMI yang ternama di antaranya Dawam Rahardjo, Imaduddin Abdurrahim, Syafi’i Anwar.
Anggap JK ingin memberikan motivasi kepada etnis non-Tionghoa untuk jadi pengusaha. Tapi itu tetap tidak pantas dilakukannya karena mengkotak-kotakan kelompok masyarakat. Sebagai mantan wakil presiden, JK seharusnya tampil sebagai sosok yang mempersatukan, bukan sosok yang membelah. Rawat kebhinekaan, enyahkan rasisme!



