Kontroversi soal pengibaran bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) ditengah proses pemulihan bencana di Sumatera terus berlanjut. Belakangan, muncul narasi yang lebih serius. Bukan cuma soal simbol, tapi dugaan intimidasi terhadap masyarakat sipil. Kabarnya, truk bantuan untuk korban bencana disebut-sebut tidak boleh melintas jika tidak mengibarkan bendera GAM. Narasi ini pertama kali beredar lewat unggahan akun Instagram @yuyunlayuyu pada 18 Desember 2025.
Dalam video yang diunggah, terlihat kerumunan massa yang menyebabkan kemacetan di jalan. Beberapa truk bantuan tampak terhambat, dan di sekitar lokasi terlihat banyak bendera Bulan Bintang berkibar.
”Mobil bantuan dilarang melintas jika tidak mengibarkan bendera GAM”, tulis akun itu. ”Mobil akan disuruh putar balik kalau tidak patuh masyarakat jadi korban”, lanjut narasinya. Ditambah caption akun itu yang tertulis, “ini alasannya kenapa bantuan terlambat”. Unggahan itu langsung memicu reaksi keras. Kolom komentar dipenuhi emosi. Ada yang menulis, ”GAM itu emang gak tau diri untuk menghasut masyarakat supaya percaya bahwa GAM yang membantu”. ”Kalau lapar koar-koar, kalau dah kenyang maunya merdeka, itulah GAM”, tambah yang lain.
Fyi, klaim soal intimidasi truk bantuan ini belum terverifikasi. Sampai saat ini, belum ada pernyataan resmi dari aparat maupun laporan media arus utama yang mengonfirmasi adanya pemaksaan truk bantuan untuk mengibarkan bendera GAM atau disuruh putar balik. Yang sudah terkonfirmasi secara resmi adalah pengibaran bendera Bulan Bintang yang diasosiasikan dengan GAM di beberapa titik di Aceh pascabencana. Peristiwa ini diberitakan oleh sejumlah media nasional seperti Tempo, Kompas, dan The Aceh Post. Dalam laporan-laporan tersebut, aparat keamanan menjelaskan bahwa pemeriksaan dilakukan karena simbol tersebut berpotensi memicu gangguan keamanan, terlebih di situasi pascabencana yang sangat sensitif. Jadi, sampai di titik ini, fakta yang bisa dipastikan adalah soal pengibaran simbolnya, bukan intimidasi terhadap distribusi bantuan.
Di sinilah kita perlu ekstra hati-hati. Narasi “truk bantuan dipaksa kibarin bendera GAM” memang belum terbukti, tapi sudah telanjur beredar luas, emosional, dan gampang memancing amarah. Dan ini yang berbahaya. Isu seperti ini sangat mudah digoreng untuk memecah belah masyarakat, dengan menjadikan Aceh sebagai kambing hitam. Mulai dari stigma “Aceh gak tau diri”, “udah dibantu malah mau merdeka”, sampai generalisasi seolah seluruh warga Aceh identik dengan GAM.
Padahal ini jelas tidak adil. Aceh bukan satu suara, bukan satu kelompok, dan bukan satu ideologi. Banyak warga Aceh adalah korban konflik masa lalu, korban bencana hari ini, dan tidak punya kaitan apa pun dengan GAM. Di tengah krisis, mayoritas masyarakat sipil Aceh justru fokus bertahan hidup dan saling membantu. Di sisi lain, kita juga perlu jujur melihat posisi aparat. Dalam kondisi pasca bencana, keamanan wilayah, distribusi bantuan, dan stabilitas sosial adalah prioritas. Isu simbol separatis yang viral wajar membuat aparat bersikap lebih waspada sebagai langkah pencegahan eskalasi konflik.
Jadi, problem utamanya bukan cuma soal benar atau tidaknya satu unggahan Instagram. Problem besarnya adalah bagaimana informasi yang belum diverifikasi bisa berubah jadi bahan saling menyalahkan. Bencana yang seharusnya mempersatukan, justru dijadikan ruang adu emosi dan identitas. Sikap paling masuk akal hari ini adalah menahan diri, cek sumber, dan tidak ikut menyebarkan klaim yang belum dikonfirmasi.
Kritik boleh. Kewaspadaan perlu. Tapi menghukum satu daerah atau satu kelompok lewat asumsi liar bukan solusi. Saat bencana terjadi, yang paling dibutuhkan adalah solidaritas, ketenangan, dan akal sehat. Bukan saling curiga. Bukan saling menyalahkan. Karena kalau kita lengah, yang menang bukan korban bencana—tapi mereka yang ingin kita terpecah belah. Yuk saling jaga, jangan sampai mudah diadu domba!


