Sikap toleransi sutradara film Hanung Bramantyo ini patut ditiru oleh umat Islam lainnya. Hanung bersedia mengubah arah toa masjidnya setelah mendapat komplain dari warga non muslim. Hal ini Hanung sampaikan sendiri dalam postingan di media sosialnya, yang ternyata viral dan diposting ulang oleh banyak netizen lainnya.
Di postingannya Hanung menceritakan, pada pertengahan Ramadhan kemarin dia didatangi oleh salah satu warga di sekitar masjid Salim Kamil miliknya. Warga itu meminta agar speaker masjid itu tidak diarahkan ke rumahnya. Dia beralasan di rumahnya tinggal orang tuanya yang sudah sepuh dan sering sakit-sakitan. Mendengar permintaan itu Hanung tidak membalas dengan dalil panjang atau membahas tentang hak dan kebiasaan. Dia justru segera memenuhi permintaan itu, bahkan dengan tangannya sendiri.
“Kami beritikad baik memutar arah toa, yang sebelumnya mengarah ke rumah mereka, kami putar ke arah rumah kami,” ucap Hanung di postingannya. “Kami ingin kehadiran masjid kami membawa berkah tidak hanya buat muslim, tapi juga buat umat yang lain,” lanjutnya. Menurut Hanung, toa masjid yang tidak digunakan dengan bijak bukan saja bisa mengganggu umat agama lain, bahkan buat umat Islam sendiri. Fungsi toa masjid sejatinya hanya untuk mengumandangkan adzan dan adzan itu berhenti sampai jam 7 malam. “Gak ada adzan sampai jam 9 malam apalagi jam 12 malam,” tegasnya.
Hanung juga menginginkan agar kita mengembalikan marwah masjid. Bukan hanya digunakan untuk ibadah, tapi juga untuk aksi-aksi kemanusiaan. Menurutnya apa yang dilakukannya merupakan ijtihadnya bahwa masjid harus merahmati siapapun, tanpa melihat dia agamanya apa.
Netizen pun ramai-ramai mengapresiasi apa yang dilakukan Hanung melalui kolom komentar postingannya. “Luar biasa Mas Hanung, Tuhan memberkati. Berkah dalem Gusti,” tulis seorang netizen. “Indahnya kalau begini, saling menghargai,” tulis yang lain. “Alhamdulillah terima kasih Mas Hanung sudah memberikan contoh untuk mendengarkan serta menghormati orang lain. Semoga kebaikan ini menular,” tulis yang lain lagi. “Keren, salam toleransi,” timpal yang lain lagi.
Berbagai komplain mengenai speaker di mushola dan masjid sudah sering kita dengar. Apalagi saat bulan Ramadhan, karena banyak masjid dan mushola sering tidak mengenal waktu dalam penggunaannya. Bahkan banyak yang menggunakannya sampai tengah malam. Tentu kondisi ini membuat tidak nyaman banyak warga lainnya, termasuk umat Islam sendiri. Tapi sayangnya komplain-komplain itu tak membuat umat Islam menyadarinya. Sebagian bahkan bersikap tak mau peduli. Akibatnya hal itu sering memicu kericuhan. Sebagian warga akhirnya memutuskan untuk menjual rumahnya yang dekat masjid, daripada harus ribut dengan pengurus masjid.
Terkait penggunaan speaker masjid sebenarnya pemerintah telah mengaturnya. Tapi tetap saja aturan itu diacuhkan banyak pengurus masjid. Tindakan yang dilakukan Hanung seperti menjadi oase di ladang tandus. Memberi teladan yang baik bagi umat Islam lainnya. Semoga ini ditiru oleh pengurus atau pemilik masjid dan mushola lainnya. Yuk, bijak dalam beragama!


