**Verrel Bramasta Ragu Program Kirim Anak Ke Barak Militer Efektif**
Pendidikan militer buat anak nakal yang digagas Gubernur Dedi Mulyadi, diragukan keefektifannya oleh anggota DPR Komisi X, Verrel Bramasta. Menurutnya, pendekatan militer bisa aja malah bikin karakter anak jadi keras. Apalagi kalau gak dibarengin sama pendekatan psikologis dan spiritual. Keraguan Varel disampaikan melalui akun Instagramnya pada 12 Mei lalu. Varel sepakat kalau pendidikan karakter adalah fondasi penting untuk membangun generasi muda.
Verrel juga mengapresiasi usaha pemda buat nanemin kedisiplinan dan akhlak ke anak-anak. Namun dia ragu apakah pendekatan militer akan efektif untuk menyelesaikan persoalan itu. Dia justru khawatir, pendekatan militer malah akan membentuk anak-anak muda yang keras, bukan anak muda tangguh. “Banyak yang bertanya, apakah metode ini benar-benar efektif untuk men-tackle akar permasalahan?” ujar Varel. Menurutnya, banyak kelakuan nyeleneh dari remaja tuh sebenernya muncul karena masalah keluarga atau tekanan emosional, bukan cuma karena kurang disiplin. Karena itu menurutnya, mungkin pendekatan psikologis dan spiritual akan lebih efektif.
Sontak saja, video Verrel dikomentari banyak netizen, termasuk Bupati Purwakarta Saeful Bahri Bin Zein, atau Om Zein. Sebagian besar para netizen meminta Varel untuk turun langsung, melihat program itu. “Turun langsung coba mas, tanya masalah rakyat, bukan cuma dadah-dadah,” tulis seorang netizen. Bupati Purwakarta, Om Zein juga meminta Varel untuk melihat sendiri programnya. “Verrel harusnya turun langsung ke lapangan buat liat sendiri programnya, bukan cuma komentar dari jauh,” tulisnya.
Buat yang belum tahu, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, ngeluncurin program Pendidikan Karakter, Disiplin, dan Bela Negara Kekhususan yang ditujukan buat siswa-siswa yang dianggap “nakal” atau sulit dibina. Mereka dikirim ke barak militer, ikut pelatihan semi-militer selama 14 hari buat dibentuk karakternya. Yang dikirim ke barak ini siswa yang suka tawuran, kecanduan game, mabuk, merokok, sampai yang pake knalpot brong. Program ini udah jalan di beberapa daerah kayak Purwakarta, Bandung dan Indramayu. Selama di barak, anak-anak ini didampingi psikolog, guru, dan petugas medis. Kabarnya sih anak yang dibawa ke sana sudah dengan persetujuan orang tua dan nggak ada yang dipaksa.
Meskipun dikritik, ternyata banyak juga yang dukung program ini. Misalnya, Menteri HAM Natalius Pigai bilang, dia bakal menyarankan program ini ke Mendikdasmen Abdul Mu’ti. Pigai juga berpandangan kalau pendidikan siswa bermasalah di barak tidak melanggar HAM selama program tersebut dijalankan tanpa hukuman fisik. Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi juga mendukung program ini. Kak Seto nilai program pendidikan berkarakter itu nggak melanggar hak anak. Meskipun di lingkungan militer, anak-anak tetap dapat hak buat belajar, tumbuh, dilindungi. Bahkan punya ruang buat nyampein pendapat.
Emang sih, gak semua anak betah di barak, tapi kebanyakan menerima. Di tengah makin banyaknya anak muda yang kecanduan gadget, tawuran, mabuk, sampe putus sekolah, pendekatan kayak gini bisa jadi solusi alternatif. Dedi Mulyadi berani ambil jalan beda, kerjasama sama TNI buat bentuk karakter anak-anak yang susah dibina. Ini bukan hukuman, tapi bimbingan. Lanjutkan, Kang Dedi!


