Video Capaian Presiden Prabowo Masuk Bioskop: Sosialisasi atau Propaganda?

Published:

Bayangin lagi duduk manis di bioskop, popcorn siap, film bentar lagi mulai… Eh, tiba-tiba muncul video Presiden Prabowo. Yup, itu yang lagi rame banget dibahas sekarang di media sosial. Video Presiden Prabowo itu tayang sebelum film diputar.

Konsepnya mirip iklan komersial, tapi isinya capaian pemerintah. Dalam video itu, presiden bilang selalu siap untuk menghapuskan kemiskinan di Indonesia. Presiden juga juga menunjukkan keberhasilan program makan bergizi gratis (MBG) yang sudah berjalan sejak awal tahun ini. Dikatakan MBG sudah menjangkau 20 juta penerima manfaat. Koperasi Desa Merah Putih yang juga salah satu program presiden dikatakan sudah mencapai 80 ribu koperasi yang dibuka. Juga satuan pelayanan pemenuhan gizi atau SPPG sudah beroperasi di 5.800 satuan di seluruh Indonesia. Dalam video itu juga dikatakan produksi total beras nasional kita mencapai total 21.760.000 ton sejak Januari sampai Agustus 2025. Sawah yang dibuka mencapai angka 225 ribu hektare. Ekspor jagung kita sebanyak 1.200 ton pada awal tahun. Semua capaian pemerintahan Prabowo-Gibran itu dibungkus singkat dalam video durasi 1 menit.

Pertanyaannya, kok bisa video ini nongol di layar bioskop? Menurut Kepala Kantor Komunikasi Presiden, Hasan Nasbi, layar bioskop itu ruang publik. Sama kayak billboard di jalan atau slot TV. Jadi wajar kalau dipakai pemerintah. Penayangan video itu dimulai sejak 9 September 2025. Kabarnya video singkat itu diputar di jaringan bioskop XXI se-Indonesia. Bukan cuma di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi atau Jabodetabek. Video ini tayang sampai 14 September 2025. Dan setelah itu resmi nggak diputar lagi. Menurut Hasan, pemutaran video itu gratis, nggak pake duit negara. Katanya, hasil kerjasama dengan pihak swasta yang dukung sosialisasi.

Sebagian netizen kontra dengan pemutaran video itu di bioskop. “lho, ini propaganda dong?” komen seorang netizen. “Saya ke bioskop buat hiburan, bukan buat diceramahi,” komen yang lain. Bahkan beredar ajakan penonton masuk ke studio 15 menit setelah jadwal penayangan. Tujuannya supaya bisa skip video itu. Ajakan itu memperoleh cukup banyak dukungan netizen. Kekhawatiran pemutaran video itu bikin ilfeel penonton bisa dipahamin. Kan yang nonton bioskop nggak semuanya pendukung Prabowo-Gibran. Kalau pun pendukung Prabowo-Gibran ya mereka datang ke bioskop buat nonton film, bukan nonton yang lain.

Pemerintah punya alasan soal ini. Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital, Fifi Aleyda Yahya, bilang pemerintah memanfaatkan berbagai media komunikasi, termasuk bioskop, untuk menyampaikan informasi resmi kepada masyarakat. Komunikasi publik nggak terbatas di media sosial dan TV buat menjangkau semua lapisan. Layar bioskop dianggap efektif buat meraih audiens yang lebih luas. Jadi ini semacam jalan cepat sosialisasi capaian program.

Tapi balik lagi, caranya tepat nggak? Karena komunikasi publik itu sensitif banget. Kalau terasa dipaksa, pesan positif bisa jadi bumerang. Mensesneg Prasetyo Hadi juga ikut komentar. Katanya, selama nggak langgar aturan dan nggak ganggu kenyamanan, wajar pemerintah pakai media publik buat menyampaikan pesan.

Penayangan video ini di bioskop ada plus minusnya. Plusnya informatif, transparan, masyarakat jadi tahu hasil kerja. Tapi minusnya bisa dianggap propaganda, ganggu kenyamanan, atau malah kontraproduktif. Memang, video ini sudah nggak diputar lagi per tanggal 15 September. Tapi, video seperti ini seharusnya ditayangkan nggak sih di bioskop? Tulis pendapat Anda di komentar yaa!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img