Warga Keluhkan Toa Mushola Putar Lagu Qasidah Dengan Kencang

Published:

Bayangin, anda pengen istirahat di rumah, tapi mushola sekitar rumah malah nyetel lagu dangdut pake toa kenceng banget. Udah pasti anda terganggu, apapun agama anda. Nah itu yang dirasain salah satu warga di Kedaung, Pamulang, Tangerang Selatan. Videonya viral setelah di-post akun @tangsel_update tanggal 4 Juni lalu.

Infonya suara itu berasal dari Mushola At-Taqwa dan didengungkan pagi hari. “Pagi ini jam 8.38 baru selesai. Saya mau qadha Subuh dan shalat Dhuha tapi terganggu,” ujar warga Kedaung itu. Dia juga bilang, kalo suara adzan atau lantunan al-Quran dia nggak masalah. Tapi kalo lagu dangdut, itu mengganggu banget.

Netizen langsung rame komen video itu. “Toa masjid itu untuk adzan, suara ngaji, dan suara ngaji pun ada waktu tertentu tdk sembarang waktu.. kalau ini sdh termasuk mengganggu,” komen seorang netizen. “Biasa nya suka ada kegiatan jaring amal tuh dpn masjid..sangat2 ganggu sih spt itu,” komen yang lain.

Tapi nggak sedikit netizen yang gagal fokus. “Itu Qasidah bukan dangdut,” tulis seorang netizen. “Saya setuju mengganggu jika diputar terus2an tanpa ada kegiatan. Tapi tolong ini generasi sekarang masak nggak tau musik Qosidah sih? btw itu bukan dangdut om. Beda,” tulis netizen lain.

Mau dangdut, mau qasidah, kalau udah ganggu warga sekitar ya tetap salah. Parahnya, sering banget orang yang mengeluh soal toa masjid atau mushola malah dihujat habis-habisan. Kayak yang dialami konten kreator @alamss04. Dia posting video di akun Instagramnya soal suara ngaji dari toa masjid deket rumahnya yang kenceng banget 21 Mei lalu.

Di video itu dia keliatan kesel banget. Apalagi anaknya yang masih bayi kebangun gara-gara suara dari toa masjid itu dan nangis kejer. Harusnya kekesalan dia itu bisa dipahamin. Tapi dia malah diserang. Bayangin, udah jatuh tertimpa tangga pula. Yang kaya begini yang bikin banyak orang takut speak up soal suara toa masjid yang ganggu.

Resikonya diserang, dituduh penista agama, bahkan masuk penjara. Contohnya nyata, Meiliana, warga Tanjungbalai, Sumatera Utara. Pada Juli 2016, dia mengeluh suara adzan dari masjid deket rumahnya terlalu keras. Dia minta volumenya diturunin. Tapi tetangganya marah dan menyulut kerusuhan di Tanjungbalai.

Rumahnya dibakar massa. Tiga vihara, 8 klenteng, dan beberapa bangunan lain juga dirusak massa. Tragisnya, dia dijerat pake pasal penodaan agama. Dia dijatuhi hukuman 18 bulan penjara, sementara para pelaku kerusuhan divonis paling tinggi 2 bulanan.

Padahal, soal toa masjid itu udah diatur lewat Surat Edaran Menteri Agama tahun 2022. Toa luar boleh dipake buat azan atau pengumuman, tapi volumenya maksimal 100 desibel. Kalo buat ngaji, tadarus, dan ceramah disarankan pake speaker dalam biar nggak ganggu.

Jadi kalo ada warga ngeluh soal toa, bukan berarti dia anti-Islam atau pelaku penistaan agama. Dia cuma lagi menuntut haknya nggak terganggu sama polusi suara. Kepada semua pengurus masjid atau mushola, plis sensitif gunain toa. Pikirin warga lansia, warga yang punya bayi, warga yang sakit, dan warga yang butuh istirahat.

Bukankah Nabi Muhammad pernah bersabda, “Orang mukmin itu orang yang membuat aman nyawa dan harta umat manusia”. Yuk, beragama dengan akal sehat!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img