Zakir Naik Bilang Malaysia Negara Terbaik Bagi Muslim Untuk Tinggal

Published:

Malaysia itu negara terbaik buat umat Islam tinggal. Bukan Arab Saudi, Iran, Mesir, Turki, Pakistan, dan Indonesia. Tolong dicatat, itu versi Zakir Naik ya. Tokoh Islam asal India yang pernyataan-pernyataannya yang sering menyudutkan ajaran agama lain. Zakir bilang begitu pas ngisi Podcast di Channel Youtube Richard Lee pada 6 Juni lalu. “Sebagai seorang Muslim, Malaysia adalah salah satu yang terbaik. Tidak 100% sempurna ..,” katanya. Menurutnya, tiap negara pasti punya plus-minus, tapi Malaysia punya banyak poin unggul.

Pertama, dia bilang banyak negara Muslim justru dikendalikan oleh non-Muslim. Malaysia adalah salah satu negara yang nggak dikendalikan oleh negara-negara non-muslim,” jelasnya. Kedua, Malaysia punya Islam sebagai agama resmi negara. Padahal, jumlah Muslim di sana cuma sekitar 63%. Sementara negara lain yang jumlah Muslimnya banyak, kayak Indonesia dan Bangladesh, justru dianggap negara sekuler karena nggak menerapkan syariah. “Mereka bukan negara Islam yang mengikuti syariah,” ujarnya. Ketiga, Malaysia dianggap lebih aman. Malaysia dengan sangat baik memposisikan diri sebagai negara yang netral dan tidak memiliki potensi konflik yang besar. Keempat, nilai-nilai Islam di Malaysia keren. Sistem ekonomi syariah, perbankan Islam, asuransi syariah semua sesuai dengan syariah Islam. Jadi, menurut Zakir, buat Muslim yang pengen hidup sesuai syariat, Malaysia adalah tempat paling ideal.

FYI, Zakir melarikan diri dari India pada tahun 2016. Zakir dikabarkan tersangka dalam banyak kasus di India. Pemerintah India menghentikan yayasan milik Zakir dan salurannya, Peace TV, karena dianggap melanggar hukum dan menyebarkan propaganda kebencian. Sejak 2016 Zakir pindah dan menetap secara permanen di Malaysia. Zakir kabarnya punya tempat tinggal di Putrajaya, pusat pemerintahan federal Malaysia. Kalau Zakir memuji Malaysia, itu tentu bisa dipahami. Dia sedang mencoba membangun hubungan baik dengan pemerintah federal Malaysia. Mungkin dia lagi berharap status permanent residence-nya di Malaysia nggak dicabut.

Just info, hubungan Zakir dengan pemerintah Malaysia nggak mulus-mulus amat. Pada 2019, pemerintah Malaysia melarang Zakir ceramah di seluruh wilayah Malaysia karena ceramahnya yang menimbulkan kontroversi. Bahkan Perdana Menteri Malaysia ketika itu, Mahathir Mohamad, dikabarkan menawarkan Zakir ke negara lain yang mau menerimanya. Tapi sayangnya belum ada negara lain yang mau menerimanya. Meski begitu, Mahathir menolak mengirim Zakir kembali ke India karena khawatir akan dibunuh di sana.

Zakir memang sosok yang bermasalah. Ceramah-ceramahnya nyerang keyakinan agama lain, terutama Hindu, Kristen, bahkan ateis. Gaya dakwahnya pake format debat terbuka. Dalam format itu, dia nunjukin ‘kesalahan’ agama lain sambil ngajak non-Muslim masuk Islam. Beberapa komentarnya bahkan bikin dia dikecam karena dianggap merendahkan agama dan etnis lain. Di Malaysia, misalnya, dia pernah bilang warga etnis China hanya tamu di Malaysia dan harus dipulangkan ke negara asalnya. Dia juga bilang umat Hindu di Malaysia sebagai minoritas punya ‘hak seratus kali lipat’ dibanding Muslim yang mayoritas di Malaysia.

Zakir pernah datang ke Indonesia dan ceramah soal keharusan memilih pemimpin yang Muslim di Jakarta pada 2017. Menurutnya, Muslim hanya boleh minta perlindungan kepada Allah dan orang-orang yang beriman kepada-Nya. Zakir bilang begitu ketika kontestasi Pilkada Jakarta 2017 memanas saat Ahok jadi tersangka kasus penistaan agama. Model dakwah Zakir Naik yang konfrontatif menimbulkan resistensi. Padahal dakwah itu harusnya merangkul bukan memukul, menyayangi bukan menyaingi, membina bukan menghina. Kalau Zakir mengikuti nasihat Rais ‘Aam PBNU KH Miftachul Akhyar itu, pasti citra Islam sebagai rahmatan lil alamin nggak akan terciderai. Yuk, beragama dengan akal sehat!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img