Inovasi Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, ini keren abis! Beliau wajibin para siswa SMA/SMK baca 20 buku sebagai syarat kelulusan. Kebijakan ini tertuang dalam Surat Edaran Gubernur Sulbar tentang Kewajiban Siswa SMA/MA Membaca 20 buku.
Hal ini dia sampein dalam acara gerakan peningkatan literasi masyarakat di Mamuju pada Minggu, 13 Juli 2025. “Setiap siswa-siswi SMA/SMK sederajat wajib membaca minimal 20 judul buku selama masa studi. Ini bagian dari pembinaan literasi, sekaligus syarat kelulusan,” ujarnya.
Menurut Gubernur Suhardi, tujuan kewajiban membaca ini adalah upaya untuk membudayakan budaya membaca bagi siswa dan siswi. Gubernur Suhardi juga menginstruksikan seluruh instansi pemerintah, termasuk sekolah dan perangkat daerah, menyediakan pojok baca atau perpustakaan mini. Selain itu, dia menetapkan kebijakan kunjungan rutin ke perpustakaan minimal satu kali dalam seminggu bagi siswa. Hal ini dilakukan guna membiasakan interaksi dengan bahan bacaan dan menumbuhkan budaya membaca secara konsisten.
Kebijakan yang dituangkan melalui surat edaran ini ditujukan kepada seluruh kepala daerah, perangkat daerah, dan instansi vertikal se-Sulbar. Suhardi menyebut dari 20 judul buku ini, buku tentang Andi Depu dan Baharuddin Lopa, menjadi buku wajib. Soalnya, kedua tokoh asal Sulbar tersebut mengukir sejarah penting bagi perjalanan Indonesia.
Yang jadi pertanyaan, seurgensi apa minat baca di Indonesia? Melalui berbagai penelitian, Indonesia kerap disorot karena rendahnya tingkat literasi masyarakat. UNESCO menyebut Indeks minat baca masyarakat Indonesia hanya di angka 0,001% atau hanya 1 dari 1000 orang Indonesia yang rajin membaca. Studi ‘World’s Most Literate Nations Ranked’ yang dirilis Central Connecticut State University pada 2016 turut memperkuat gambaran tersebut. Dalam riset ini, Indonesia ada di peringkat ke-60 dari 61 negara yang dikaji berdasarkan indikator literasi. Tepat di bawah Thailand (peringkat 59) dan hanya sedikit lebih tinggi dari Botswana (peringkat 61).
Ada juga Laporan Programme for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Berdasarkan hasil PISA 2022 yang dirilis pada Desember 2023, Indonesia memperoleh skor 366 pada domain matematika, 359 pada membaca, dan 383 pada sains. Skor literasi membaca Indonesia sebesar 359 jauh di bawah rata-rata negara OECD yang mencapai 476. Skor Indonesia bahkan lebih rendah jika dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara.
Memang, studi Stanford University (2010) nunjukin, ketika siswa membaca narasi kompleks, terjadi aktivasi simultan pada bagian otak yang menangani bahasa, atensi, dan imajinasi. Ini artinya, membaca secara aktif mengasah integrasi kognitif. OECD secara konsisten menemukan bahwa siswa yang suka membaca memiliki nilai lebih tinggi di semua bidang, termasuk matematika dan sains.
Jadi ini jelas kebijakan yang luar biasa dari seorang gubernur. Kebijakan seperti ini juga terasa banget inklusivitasnya. Karena tidak menyasar sekelompok siswa atau siswi dari golongan tertentu atau agama tertentu.
Tapi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Salah satunya, perlunya kurasi terhadap buku-buku yang harus dibaca. Kemudian, pemerintah juga harus membantu pihak sekolah untuk membuat perpustakaan yang layak. Semoga program ini berjalan mulus dan berhasil meningkatkan kualitas SDM kita di masa datang. Yukk terus membaca buku!


