Jakarta Sambut Tahun Baru Tanpa Kembang Api

Published:

Perayaan malam tahun baru di Jakarta tahun ini bakal beda dari biasanya. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung minta supaya perayaannya nggak usah berlebihan. Sikap ini muncul karena ia melihat kondisi bangsa yang saat ini sedang tidak baik-baik saja. Di berbagai daerah, musibah datang silih berganti dan meninggalkan duka mendalam.

Karena itu, Pramono ingin Jakarta mengedepankan empati terhadap para korban bencana. Khususnya di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Ia tak ingin ada pesta mewah di ibu kota saat banyak saudara kita masih berjuang memulihkan hidup mereka. Menurutnya, ada momen di mana rasa kemanusiaan harus dikedepankan.

Karena itu, Pemprov DKI milih mengemas malam tahun baru dengan cara yang lebih sederhana dan bermakna. Salah satu kegiatan utama yang akan digelar adalah doa bersama. Doa bersama ini menjadi simbol solidaritas Jakarta terhadap masyarakat yang terdampak bencana. Pramono ingin pergantian tahun diisi dengan refleksi, bukan sekadar hura-hura. Ia juga mengajak warga Jakarta untuk mensyukuri datangnya tahun baru dengan cara yang sederhana, tapi penuh makna.

Bahkan, Pemprov DKI akan menyiapkan ruang khusus bagi warga yang ingin berdoa. Ruang ini difokuskan untuk mendoakan para korban bencana di tiga provinsi tersebut. Meski begitu, Pramono menegaskan pemerintah tak melarang masyarakat mengekspresikan rasa syukur. Ia hanya mengingatkan agar ekspresi tersebut tetap menjaga kepatutan dan empati sosial. Artinya, kebebasan tetap ada, tapi harus dibarengi kesadaran bersama.

Salah satu kebijakan pentingnya adalah meniadakan pesta kembang api yang biasanya jadi simbol perayaan. Sebagai gantinya, Pemprov DKI akan menghadirkan pertunjukan atraksi drone. Atraksi ini diharapkan tetap memberi nuansa perayaan tanpa kesan berlebihan. Pramono mengatakan konsep final perayaan tahun baru akan diputuskan dalam waktu dekat. Tapi satu hal yang sudah pasti adalah prinsip kesederhanaan dan empati. Pramono juga menegaskan pergantian malam tahun baru tetap ada perayaan, cuma suasana yang beda. Dia sadar betul kalau Jakarta itu Ibu Kota dan bakal jadi sorotan dunia.

Apa pun yang terjadi di Jakarta pasti disorot banyak orang. Karena itu, Pemprov DKI bakal bikin tim khusus biar acaranya berjalan lancar. Tujuannya supaya Jakarta tetap kelihatan optimistis nyambut 2026 tanpa harus pamer kemewahan. Justru dari kesederhanaan itulah Jakarta bisa menunjukkan kedewasaannya sebagai ibu kota.

Pramono juga cerita kalau Pemprov DKI terus mantau kondisi nasional. Terutama soal dampak bencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Ia menegaskan Jakarta tidak tinggal diam melihat penderitaan daerah lain. Hingga saat ini, katanya, Pemprov DKI masih terus menyalurkan bantuan. Khususnya ke daerah-daerah yang paling terdampak. Meskipun tanpa dipublikasikan secara besar-besaran. Tapi, Pramono memastikan distribusinya dilakukan secara merata dan berkelanjutan.

Langkah Pramono ini keren ya dan patut diapresiasi. Dan semoga juga bisa diikuti oleh pemimpin-pemimpin daerah yang lain. Di tengah banyaknya musibah yang datang bertubi-tubi, empati memang seharusnya jadi wajah utama pemerintah. Perayaan tahun baru boleh tetap ada. Tapi rasa kemanusiaan tidak boleh ikut libur. Kesederhanaan justru membuat makna pergantian tahun jadi lebih dalam. Ada ruang untuk refleksi, doa, dan harapan. Bangsa ini tidak kehilangan wibawa hanya karena tidak berpesta besar. Justru dari sikap empati inilah bangsa ini menunjukkan kelasnya sebagai negara yang beradab. Yuk, sambut tahun baru dengan kepedulian dan kepekaan!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img