Kenapa Mantan Terpidana Terorisme Abu Bakar Ba’asyir Datang ke Rumah Jokowi?

Published:

Mantan terpidana terorisme, Abu Bakar Ba’asyir (ABB) datang ke rumah Pak Jokowi? Ada apa ya? ABB datang Senin siang, 29 September 2025, sekitar jam setengah 1 siang. Pertemuan itu bener-bener mendadak dan Jokowi sendiri bilang kalau dia “sangat kaget dengan kedatangan beliau”. Yang bikin heboh, pertemuan ini nggak diumumkan sama sekali sebelumnya.

ABB datang ditemani dua orang, pakai baju serba putih, disambut Jokowi yang lagi pakai batik dan peci hitam. Nggak cuma salaman, Jokowi bahkan sampai takzim cium tangan Ba’asyir-gestur yang langsung bikin publik mikir: wah, ini simbolis banget. Mereka ngobrol sekitar 20-30 menit dan dilakukan tertutup dari media.

Begitu keluar, Ba’asyir terang-terangan bilang kalau dia datang buat ngasih nasihat. “Saya hanya menasehati. Orang Islam itu wajib menasehati rakyat, pemimpin, dan orang kafir harus dinasehati,” ucap ABB. “Pak Jokowi ini orang yang kuat jadi mudah-mudahan jadi pembela Islam yang kuat. Itu saja,” lanjutnya. Menurut ABB, nasihat utamanya adalah supaya Jokowi kembali mengamalkan hukum Islam dengan baik. Dia bilang dirinya lagi berjuang agar Indonesia diatur dengan hukum Islam, jadi otomatis semua pemimpin wajib diingatkan. Malah dia ngaku udah kasih nasehat serupa ke Presiden Prabowo lewat surat. Nah dari pengakuan Pak Jokowi, dia bilang dirinya hanya dinasehati agar mengabdi pada Islam.

Sekilas kayak silaturahmi biasa. Tapi kalau ditarik ke belakang, ini momentum yang besar dan bikin bertanya-tanya. Soalnya ABB bukan figur sembarangan. Dia pendiri Ponpes Ngruki yang punya sejarah panjang melahirkan kader garis keras. Dia juga pernah divonis 15 tahun karena mendanai pelatihan militer teroris di Aceh, dan namanya ikut nyangkut di kasus Bom Bali. Sejak bebas murni tahun 2021, dia kelihatan lebih “lunak”, tapi konsisten dorong agenda syariat Islam.

Di sisi lain, Jokowi sekarang lagi dekat banget sama PSI—partai yang identik dengan pluralisme dan toleransi. Publik masih ingat gimana Jokowi hadir di Kongres PSI 2025 dan dapat teriakan “Masuk PSI!”. Walaupun belum resmi gabung, sinyalnya jelas banget. Nah, di titik ini publik jadi bertanya: kenapa ABB mampir ke Jokowi, bukan ke tokoh lain? Kalau murni agama mungkin bisa dipahami. Tapi bisa juga dibaca sebagai strategi ABB buat nunjukin eksistensinya. Dengan menasehati Jokowi, otomatis gaungnya lebih luas.

Dari sisi politik, Jokowi dapat dua hal: citra religius di mata kelompok konservatif. Dan sekaligus kesempatan ngebangun jembatan dengan pihak yang biasanya keras mengkritiknya. Tapi resikonya juga gede: publik bisa salah tafsir, seolah Jokowi lagi geser ke kanan. Nah kami di PIS, lebih yakin kalau Pak Jokowi itu punya prinsip. Dia terbukti konsisten dengan jalur pluralisme, apalagi kalau beneran masuk PSI. ABB mungkin berhasil datang kasih nasihat, tapi itu nggak berarti Jokowi ikut arus.

Dalam Islam, menasehati itu baik. Tapi kalau nasihatnya diarahkan pada ideologi tunggal apalagi yang pernah bawa bangsa ini ke luka terorisme, itu bahaya. Indonesia berdiri di atas keberagaman dan kita nggak bisa normalisasi narasi ekstrem. Jadi, intinya bukan soal siapa mempengaruhi siapa. Pertanyaannya: apakah bangsa ini masih teguh menjaga keberagaman? Jangan sampai silaturahmi dijadikan legitimasi buat ideologi sempit. Indonesia lebih besar dari satu tafsir, dan Jokowi pasti paham betul soal itu!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img