Fiks, FIFA bersikap standar ganda soal Israel. Tuduhan itu nggak terbantahkan setelah Presiden FIFA, Gianni Infantino, bersikap berbeda terhadap Israel dibanding Rusia. Bayangin, FIFA menolak seruan untuk menangguhkan keikutsertaan tim nasional dan klub Israel dari seluruh kompetisi internasional. Menurut Infantino, FIFA nggak bisa menyelesaikan masalah geopolitik.
“Tapi kami harus terus mengedepankan nilai-nilai edukatif, budaya, dan kemanusiaan dari sepak bola yang menyatukan,” katanya pada 6 Oktober lalu. Pernyataan itu disampaikan Infantino untuk merespons sejumlah federasi Eropa, termasuk Norwegia dan Turki, yang mendesak agar Israel diskors dari pertandingan internasional. FIFA juga tidak memasukkan isu skorsing Israel dalam agenda resmi pertemuan. Langkah ini memicu kecaman dari aktivis HAM dan sejumlah pejabat olahraga. Mereka menilai FIFA menerapkan standar ganda, mengingat FIFA pernah bersikap keras kepada Rusia ketika menginvasi Ukraina pada 2022.
Dalam hitungan hari, semua tim Rusia, tim nasional maupun klub, langsung dibekukan. Mereka dilarang ikut semua turnamen internasional. Bahkan Rusia nggak boleh lagi jadi tuan rumah event FIFA atau UEFA. Alasan FIFA ketika itu, politik dan olahraga tidak bisa dipisahkan.
Tapi ketika Israel melakukan genosida di Gaza, FIFA diam seribu bahasa. Ketika banyak pihak meminta FIFA bersikap tegas ke Israel, alasan FIFA berubah total. FIFA bilang mereka nggak ikut campur urusan geopolitik. Maka wajar kalau publik internasional geram melihat sikap FIFA. Mereka merasa FIFA bersikap standar ganda. FIFA bisa bertindak cepat dan tegas terhadap kejahatan HAM Rusia. Sebaliknya, FIFA bungkam soal kejahatan HAM Israel. FIFA tetap membiarkan tim nasional Israel ikut kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa. Klub-klub Israel masih bebas bertanding di kompetisi Eropa seperti Europa League. Nggak ada tanda-tanda bakal ada sanksi, apalagi pembekuan.
FIFA, terutama Infantino, dianggap nggak konsisten dan tunduk pada tekanan politik Amerika Serikat. Beberapa negara mulai mempertanyakan langkah ekstrem. Spanyol, misalnya, dikabarkan mengancam akan keluar dari FIFA sebagai bentuk protes atas ketidakadilan ini. Di media sosial, tagar seperti #BoycottFIFA dan #BanIsraelFromFIFA ramai digunakan oleh warganet dari berbagai negara. Sebenarnya banyak yang menilai tindakan FIFA bukan murni soal sportivitas. Tapi ada faktor politik dan finansial besar di balik keputusannya. Menghukum Rusia relatif aman karena nggak bakal bikin sponsor besar di Barat marah.
Tapi kalau FIFA berani menghukum Israel, beda ceritanya. Bisa-bisa FIFA kehilangan dukungan dan dana dari sponsor yang punya kepentingan politik di sana. Jadi, keputusan FIFA ini bukan cuma soal bola. Tapi, juga soal siapa yang punya kuasa dan uang. Masalahnya, dilema itu membuat FIFA menganakemaskan Israel sementara Rusia dianaktirikan.
Padahal, prinsip dasar olahraga adalah kesetaraan dan keadilan tanpa pandang bulu. Jika Rusia bisa langsung dibekukan empat hari setelah invasi, kenapa Israel tidak mendapat perlakuan yang sama melakukan genosida di Gaza? FIFA harusnya bersikap konsisten dan menegakkan prinsip “fair play”. Bukan cuma di lapangan, tapi juga di dunia nyata.
Kalau tidak, slogan “football unites the world” yang sering diucapkan Infantino terasa cuma jadi slogan kosong. Sudah saatnya FIFA berlaku adil tanpa pandang bulu. Itu jika FIFA benar-benar mau jaga integritas sepakbola dunia. Yuk, dorong FIFA konsisten menegakkan keadilan dan kemanusiaan di dunia sepakbola!


