Diduga karena di bullying, seorang siswi di MTsN 3 Sukabumi putusin bunuh diri dan sempat tinggalin surat wasiat. Duh, ini sedih sekaligus miris sih! Korban yang berinisial AK yang berumur 14 tahun ditemukan meninggal 28 Oktober lalu di rumah neneknya di Cik Cikembar, Sukabumi. Pihak keluarga mengaku menemukan AK meninggal pukul 23.15 WIB bersama surat wasiatnya.
Surat itu berisikan dua halaman yang ditulis menggunakan bahasa Sunda dan Indonesia. Isi surat itu jelas banget menggambarkan rasa lelah yang sudah dia tahan sejak lama. “Eneng beres cape, eneng cuman hayang ketenangan,” tulisnya, yang maksudnya dia sudah lelah dan hanya membutuhkan ketenangan. Ada bagian tulisan yang rapi, tapi goyang di beberapa titik, kayak lagi ditulis sambil ngejaga diri tetap kuat tapi gagal.
Keluarga dan orang-orang terdekat menduga AK mengalami perundungan. Dalam suratnya, ia bahkan menyebut beberapa nama teman yang sering menyindir dirinya. Ada satu kalimat yang bikin siapa pun merinding: “Paeh we, paeh lah,” yang artinya “mati aja, mati lah”. Di bagian lain, AK juga ngaku ingin pindah sekolah tapi keluarga terkendala biaya. Dia minta maaf berkali-kali kepada orang tua, guru, teman. Dia menulis bahwa ia berusaha memaafkan, tapi rasa sakitnya masih nyata. “Lain alim maafkeun maraneh, ajeng lain dendam tapi ajeng bes berusaha maafkeun karirian tapi naon, maraneh anu sering bikin luka,” tulisnya.
Penyelidikan pun langsung jalan. Kasatreskrim Polres Sukabumi, Iptu Hartono, mengonfirmasi fokus awal adalah dugaan bullying. Sebanyak 12 saksi sudah diperiksa—dari teman sekelas, guru, hingga keluarga. Surat wasiat yang ditemukan juga akan diperiksa ahli.
Dari sisi pemerintah daerah, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Sukababumi, Agus Sanusi langsung turun tangan. Dia menyampaikan belasungkawa, dan tegasin pentingnya peka soal kondisi anak. “Jangan menormalisasi ejekan atau candaan yang berlebihan yang sifatnya membuat orang lain merasa tertekan,” tegasnya. Mereka juga mulai dampingi keluarga, termasuk dukungan psikologis dan hukum.
Tapi berbeda dengan itu, pihak sekolah membantah adanya bullying. Kepala MTsN 3 Sukabumi, Wawan Setiawan menyebut AK anak aktif: Pramuka Garuda, koordinator program makan bergizi. Dan bahkan baru jadi pengibar bendera dua hari sebelum kejadian. “Jadi secara psikologis kalau anak dalam tekanan tidak mungkin bisa menjadi petugas pengibar bendera,” lanjutnya. Menurutnya, tidak ada laporan apa pun soal perundungan. Tapi Wawan mengaku akan kooperatif dan terbuka dengan pihak berwenang apabila diperlukan.
Walau dibantah, Ketua Komisi IV DPRD Sukabumi, Ferry Supriyadi justru mengonfirmasi adanya perselisihan antara AK dan kakak kelasnya. “Dari hasil pendalaman memang dibenarkan ada perselisihan yang menyebabkan korban merasa diasingkan, banyak disindir, sehingga timbul tekanan dan depresi,” ujarnya. Perselisihan itu kabarnya sudah diselesaikan oleh pihak sekolah dan guru Bimbingan Konseling (BK). “Secara kasat mata terlihat selesai, tapi ternyata korban masih menyimpan beban dan perselisihan kecil yang membuatnya tertekan,” tambahnya.
Sampai sekarang, penyebab pastinya masih diselidiki. Tapi benang merahnya kelihatan: ada tekanan sosial yang besar, ruang aman yang kosong, dan seorang anak yang nggak punya tempat untuk cerita. Kasus AK ini bukan sekadar tragedi, ini alarm keras. Dan jujur, alarm ini sudah bunyi berkali-kali, bukan pertama kalinya nyawa melayang karena bullying.
Kita harus berhenti nganggep bullying sebagai “perselisihan kecil”. Kalau sampai ada anak menerima ucapan “paeh we” di sekolah, itu bukan candaan, itu kekerasan verbal. Kami berharap ada audit psikososial menyeluruh di sekolah. Bukan cuma tanya guru dan wali kelas, tapi dengar suara siswa secara anonim, termasuk relasi sosial, dinamika kelas, dan tekanan yang dialami.
Layanan konseling harus diperkuat. BK jangan dikenal sebagai “tempat dimarahin”, tapi harus hadir jadi ruang aman bagi anak untuk didatangi saat mereka membutuhkan. Konselor harus proaktif mendeteksi perubahan perilaku siswa. Dan untuk kasus bullying, protokolnya harus survivor-centered, sensitif usia, dan wajib melibatkan DP3A, bukan hanya diselesaikan internal sekolah.
Yang paling penting: anak butuh ruang aman untuk bicara. Anak seusia AK harusnya sibuk nugas, bukan menahan beban sampai menulis surat terakhir. Kasus ini nggak boleh berhenti di “turut berduka”. Ini harus jadi titik balik, jangan nunggu ada AK berikutnya. Stop bullying di sekolah, sekarang!


