Gunungan Sampah di Kolong Flyover Ciputat, Pemda Nggak Becus?

Published:

Gunungan sampah di kolong flyover Ciputat, Tangerang Selatan cuma ditutup terpal. Iya, anda gak salah denger, sampah ditutup terpal. Saking lamanya nggak dibersihin, cairan lindi mulai luber dan banyak belatung nyebar di jalan. Kebayang dong bau sampah yang membusuk lama. Kondisi ini kelihatan jelas di video yang diunggah akun Instagram @kompascom tanggal 16 Desember. Di video itu, sampah terlihat menggunung di beberapa titik di pinggiran flyover Ciputat.

Salah satu warga, Sri (30), bilang dia khawatir kalau sampah ini terus dibiarkan, bisa jadi sumber penyakit. Katanya sih jalanan sempat disiram air bersih. Tapi pas jurnalis Kompas turun langsung ke lokasi, baunya tetap nyengat parah. “Kombinasi bau pesing campur dengan sayuran yang membusuk” kata jurnalis itu.

Netizen pun ramai-ramai berkomentar. “Iya lagi pernah liat iniii, akhirnya di notice media” tulis seorang netizen. “Solusinya wilayah Tangsel diambil alih oleh pihak swasta dengan luas wilayah 95% untuk swasta dan 5% untuk pemerintah kota Tangsel” tulis netizen lain. “Ini walkotnya gimana sih mikir nya” tulis yang lain.

Tumpukan sampah ini muncul gara-gara Tempat Pembuangan Akhir(TPA) Cipeucang ditutup sementara selama sekitar seminggu. Akibatnya, sampah-sampah Tangsel yang biasanya dibuang ke sana malah numpuk di bawah flyover. Sejak 10 Desember lalu, tumpukan sampah sudah mulai kelihatan di beberapa ruas jalan. Salah satunya di kawasan Ciputat, tepatnya di depan Pasar Cimanggis. Meski sempat dilakukan penataan dan pengangkutan, faktanya sampah terus balik numpuk lagi.

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPTD) TPA Cipeucang Desna Gera Andika bilang pihaknya terus melakukan pengangkutan. “Kami juga sedang menata dalam TPA, sementara ini kita angkut dan kelola di TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle) yang ada,” katanya. Menurutnya, Pemkot Tangsel juga masih berupaya cari solusi biar kondisi bisa normal lagi. Informasinya, penutupan TPA ini dipicu dampak banjir yang dirasakan warga sekitar TPA yang sudah overload. Kondisi itu bikin lingkungan warga sekitar tercemar.

Tapi disisi lain, ada juga yang ngaitin masalah sampah ini dengan kasus korupsi pengelolaan sampah di Tangsel. Pada tahun anggaran 2024, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tangsel mengontrak jasa pengangkutan dan pengelolaan sampah senilai Rp75,9 miliar. Kontrak itu diberikan ke PT Ella Pratama Perkasa (PT EPP). Penyidik Kejati Banten menemukan indikasi kuat adanya korupsi dalam proyek tersebut. Disebutkan ada kolusi sebelum tender supaya PT EPP yang menang. Meski menerima pembayaran penuh Rp75,9 miliar, PT EPP kabarnya tidak menjalankan kewajiban sesuai kontrak.

Bahkan, perusahaan itu disebut tidak punya fasilitas dan kapasitas pengelolaan sampah yang memadai. Kejati Banten sudah menetapkan empat tersangka, termasuk Kepala DLH Tangsel dan Dirut PT EPP. Sejumlah tersangka pun telah ditahan, dengan Kepala DLH Tangsel dititipkan di Rutan Kelas IIB Pandeglang.

Kalau benar penumpukan sampah ini imbas dari tata kelola yang korup, maka solusi asal-asalan jelas nggak bisa dibenarkan. Menutup sampah pakai terpal itu bukan solusi, tapi cuma nunda masalah. Risiko bau, penyakit, dan gangguan kesehatan warga malah makin parah. Pemkot Tangsel harus hadir dengan solusi yang serius, sistematis, dan berpihak ke warga. Dan yang paling penting, solusinya harus yang masuk akal. Menutup sampah hanya dengan terpal itu terlihat seperti solusi yang asal-asalan. Karena masyarakat bukan pihak yang pantas nanggung akibat dari carut-marutnya pengelolaan sampah. Yuk Pemda Tangsel, buktiin kalian becus mengurus persoalan sampah.

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img