PEREMPUAN INI UNGKAP IDENTITAS PRIA YANG MEMPERKOSANYA DI KLUB MALAM

Published:

Seorang perempuan speak up ke sosial media soal pengalaman kelam yang dia alami. Dia mengaku jadi korban pemerkosaan di sebuah klub malam. Bahkan, dia mengungkap identitas pria, yang diduga telah memperkosanya. Nama perempuan itu, Cinta Ruhama Amelz atau dipanggil Tara.

Lewat akun instagramnya, 15 februari lalu, dia secara terbuka mengungkap identitas pria yang diduga telah memperkosanya. Langkah ini dia sebut sebagai bentuk perlawanan, karena merasa selama proses hukum berjalan, dia mengalami tekanan, pembungkaman, dan ketidakjelasan. “Rendy Brahmantyo biasa dipanggil Embo” kata Tara membeberkan identitas pelaku. “Dia kerja di PT Dela House Investindo Indonesia dengan bisnis hiburan MINQ Jakarta, Wormwood Jakarta, Resto Ki Izakaya, Resto Panjang Umur, Retail Capital Jakarta, dan Kiky Stationery” lanjutnya.

Dia bilang, pengungkapan identitas itu dilakukan supaya publik tahu sosok yang dia tuduh, sekaligus meningkatkan kewaspadaan di lingkungan sosial dan profesional. Menurutnya, ini juga demi mencegah kemungkinan ada korban lain. Tara bilang, sejak melaporkan kasus ini ke polisi, dia menghadapi tekanan sosial yang berat. Dia menduga ada upaya intimidasi melalui relasi dan pengaruh terduga pelaku. Termasuk pendekatan ke lingkungan pertemanan suaminya dan hambatan terhadap karier keluarga. Menurutnya, ada juga narasi yang beredar yang tidak sesuai fakta dan memutarbalikkan kronologi. Karena itu dia memilih menyampaikan versinya sendiri secara terbuka.

Dia juga mengajak publik menandatangani petisi yang dia buat untuk menuntut transparansi proses hukum dan penanganan yang berpihak pada korban. Di postingan lanjutan tanggal 17 Februari, Tara menceritakan detail kejadian yang dia alami. Kejadiannya di Jakarta Selatan, 12 Oktober 2017, di sebuah venue yang tidak disebutkan namanya. Malam itu dia datang ke acara brand fashion dan merasa aman karena bareng teman-temannya. Dia pakai outfit santai, cardigan hitam panjang, tank top hitam, dan celana merah. Nggak ada firasat apa-apa.

Menjelang pukul 2 pagi, setelah minum beberapa minuman beralkohol, dia masih di lokasi karena nunggu temannya selesai main di DJ booth buat minta dianter pulang. Di ruangan itu ada beberapa orang yang dia kenal, termasuk pelaku — yang disebutnya adalah teman suaminya sendiri. Ada juga saksi yang disebut dalam kondisi tidak sadar penuh karena pengaruh obat. Tara bilang, saat lagi duduk ngobrol, tiba-tiba tangannya dicengkeram dan dia diseret ke area belakang yang lebih sepi. Dia mengaku sudah berusaha melawan, menahan, bahkan mencoba minta tolong. Tapi nggak berhasil.

Sekitar 50 meter dari area pesta, di sebuah ruangan gelap tertutup, dia mengaku mengalami kekerasan seksual. Dalam kondisi takut dan merasa keselamatannya terancam, dia bilang terpaksa menuruti pelaku karena takut dibunuh. Setelah itu, menurut ceritanya, pelaku bersikap seolah nggak terjadi apa-apa. Bahkan disebut sempat berkata kalau sampai hamil, anak itu disebut saja sebagai anak suaminya. Nggak lama kemudian ada yang mengetuk pintu. Pelaku keluar, dan Tara akhirnya pulang dalam kondisi syok. Di perjalanan, dia sempat cerita ke seseorang, tapi respons yang diterima justru menyarankan agar tidak memberi tahu suaminya.

Netizen pun ramai-ramai berkomentar. “2017? semoga masih bisa diusut kak, semoga dapat keadilan” tulis seorang netizen. “Kak kamu hebat banget bisa bertahan dari trauma selama ini, peluk jauh kak” tulis yang lain. “Siapapun, dimanapun, gak bisa dapet perlakuan itu! Ikut syok deg2an sm penjelasannya” tulis yang lain.

Kekerasan seksual, dalam bentuk apa pun, tidak pernah bisa dibenarkan. Apalagi kejadiannya tahun 2017 dan terduga pelaku masih bebas berkeliaran sampai sekarang. Nggak peduli dia anak siapa, punya relasi siapa, sekuat apa jejaring sosialnya, atau setinggi apa posisinya. Sejauh ini belum ada tanggapan dari terduga pelaku soal pengakuan korban.

Hukum seharusnya berdiri untuk melindungi korban, bukan memberi ruang aman bagi pelaku. Ini soal keadilan. Kalau benar ada tindak kekerasan seksual, maka itu harus diproses secara serius dan transparan. Nggak boleh ada perlakuan istimewa hanya karena koneksi, jabatan, atau pengaruh. Kekerasan seksual adalah kejahatan. Dan setiap kejahatan harus ditindak, tanpa pandang bulu. Semoga keadilan benar-benar menemukan jalannya.

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img