Wapres Gibran Rakabuming Raka dorong AI masuk kurikulum sekolah, tapi sekarang siswa SD-SMA malah dilarang pakai ChatGPT dan chat bot lainnya. Lho, ini bukannya kontradiktif? Postingan itu diposting lewat akun IG @kabarmahasiswa.id. Narasinya seolah-olah menyindir sikap pemerintah yang berubah soal AI. Pertanyaannya, apa memang benar begitu?
Kalau ditelusuri lebih teliti, dua hal ini sama sekali nggak bertentangan. Nah, biar nggak salah paham, yuk kita lihat konteksnya!
Pertama, kita flashback dulu soal pernyataan Gibran soal AI di sekolah. Gibran memang pernah menyatakan keinginannya agar mata pelajaran AI masuk ke kurikulum SD, SMP, SMA, dan SMK pada Mei 2025 lalu saat berkunjung di kampus Binus University. Rencananya ini ingin mulai diterapkan pada tahun ajaran baru 2025/2026. Tujuannya jelas, supaya generasi muda Indonesia lebih siap menghadapi era teknologi yang berkembang super cepat. AI bukan hanya soal teknologi tinggi, tapi bisa menjadi solusi konkret bagi masalah-masalah sosial, pendidikan, hingga pengembangan UMKM.
Tapi penting banget dicatat, yang dimaksud Mas Gibran bukan “bebas pakai ChatGPT untuk ngerjain PR atau tugas sekolah”. Yang dia maksud adalah kurikulum AI, yaitu belajar tentang bagaimana AI itu bekerja, bukan sekadar mengandalkan produk AI instan. “AI bukan hanya soal teknologi tinggi, tapi bisa menjadi solusi konkret bagi masalah-masalah sosial, pendidikan, hingga pengembangan UMKM,” katanya. Gibran mengingatkan AI jangan sampai menghilangkan critical thinking. “Jangan sampai PR hanya mengandalkan AI. Tetap harus cari sendiri jawabannya.” Ia juga menegaskan, pemanfaatan AI nggak boleh bikin siswa bergantung sepenuhnya pada teknologi. Kemampuan berpikir kritis harus tetap jadi fondasi utama pendidikan.
Nah, sekarang kita lihat kebijakan yang baru muncul. Pemerintah resmi mengeluarkan aturan lewat Surat Keputusan Bersama atau SKB Tujuh Menteri. SKB ini ditandatangani pada 12 Maret lalu di kantor Kemenko PMK, Jakarta. Isinya melarang siswa SD sampai SMA menggunakan AI instan seperti Chat GPT untuk keperluan belajar. Alasannya karena pemerintah khawatir dengan dua fenomena yang makin mengancam generasi muda. Pertama adalah brain rot, yaitu menurunnya kemampuan berpikir kritis karena terlalu sering bergantung pada teknologi. Kedua adalah cognitive debt, yaitu kondisi dimana otak malas berpikir sendiri karena semua tugasnya diserahkan ke AI. Bayangin aja, setiap ada soal susah, langsung buka Chat GPT, otak nggak pernah dilatih, lama-lama bisa jadi tumpul. Karena itu banyak siswa pakai AI bukan untuk belajar, tapi untuk bypass proses berpikir. Mereka dapat jawaban instan, tanpa ngerti prosesnya, tanpa melatih nalarnya sama sekali. Padahal, kemampuan berpikir itu ya dilatih dari kebiasaan, bukan dari jalan pintas.
Yang penting dipahami, pemerintah nggak melarang AI sepenuhnya. Yang dilarang adalah penggunaan AI instan yang menggantikan proses berpikir siswa. Ada bedanya besar antara AI yang mendukung belajar dan AI yang menggantikan belajar. Mendikdasmen Abdul Mu’ti juga bilang, SKB ini justru mau ngajarin siswa cara pakai AI dan coding dengan benar. Guru-guru pun udah disiapkan pelatihannya, dan materi ajar sudah dikirimkan ke sekolah-sekolah. Artinya, visi Gibran dan kebijakan SKB ini justru “satu napas”. Keduanya sama-sama ingin generasi muda melek AI, tapi tetap punya kemampuan berpikir mandiri.
Masalahnya, banyak yang baca judul doang tanpa mau memahami konteksnya secara utuh. Akibatnya, narasi yang beredar jadi seolah-olah pemerintah sedang bertentangan dengan dirinya sendiri. Jadi intinya AI itu adalah alat, bukan pengganti otak. Kalau dari kecil anak-anak udah dibiasain mikir sendiri dulu, baru pakai teknologi sebagai pendukung, hasilnya pasti beda. Mereka bakal tumbuh jadi generasi yang adaptif, kritis, dan nggak gampang bergantung. Generasi yang menguasai AI, bukan generasi yang dikuasai AI.
Jadi sebelum ikut-ikutan nyebar atau percaya kabar yang bikin bingung, kita harus lakuin “riset” terlebih dulu. Karena di era informasi seperti sekarang, kemampuan mencerna berita dengan cermat itu sama pentingnya dengan melek teknologi. Yuk, jadi netizen cerdas!


