Cindy Florencine | Kampus Muhammadiyah di Papua ini Jadi Bukti Nyata Toleransi antar Umat Beragama

Published:

Jakarta, PIS – Ada yang unik di Universitas Pendidikan Muhammadiyah (Unimuda) Sorong. Mayoritas mahasiswanya beragama Kristen. Padahal kampus itu jelas-jelas di bawah naungan Muhammadiyah.

Sejak berdiri tahun 2004, Unimuda sudah didominasi mahasiswa beragama Kristen. Jumlah mahasiswa yang beragama Islam bahkan kurang dari 30 persen. Tapi, kabar baiknya nggak ada konflik berbasis agama di antara sesama mahasiswa di sana.

Sebaliknya, mereka justru saling menghargai, toleran, mendukung, dan menguatkan. Kata Rektor Unimuda Sorong, Dr. Rustamadji ini nggak lepas dari sikap orang Papua sendiri terhadap Muhammadiyah.

Orang Papua nggak ada yang fobia terhadap Muhammadiyah. Bahkan, kata rektor, banyak orangtua di Papua yang sudah bercita-cita akan menguliahkan anaknya di Unimuda. Sikap terbuka orang Papua ini diimbangi pihak kampus dalam sejumlah kebijakan.

Pada mata kuliah agama, pihak kampus menghadirkan dosen yang seagama dengan mahasiswa yang beragama Kristen. Di dalam kampus juga dibangun gereja besar. Ketika kegiatan di kampus sedang aktif, gereja itu ramai dan penuh.

Yang juga menarik, banyak biarawati yang sengaja kuliah di Unimuda.  Itu karena di Unimuda ada jurusan yang banyak diminati biarawati, yaitu pendidikan guru PAUD dan SD. Kedekatan dan simpati umat kristen kepada Muhammadiyah bukan cuma ditemukan di Papua.

Itu karena dakwah Muhammadiyah melalui pendidikan dan toleransi massif dilakukan di daerah 3T: terdepan, terpencil, tertinggal. Karena itu, belakangan ini muncul istilah KrisMuha atau Kristen Muhammadiyah.

KrisMuha adalah orang-orang Kristen yang jadi simpatisan Muhammadiyah. Ini adalah varian warga dari hasil interaksi yang terjadi antara murid Muslim dan Kristen dalam lingkungan sekolah-sekolah Muhammadiyah. Muhammadiyah, keren!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img