Aktivis Greta Thunberg Sudah Dipulangkan, Bagaimana Nasib Aktivis Yang Masih Ditahan Otoritas Israel?

Published:

Aktivis Lingkungan Greta Thunberg akhirnya menemui titik terang. Dia dipulangkan ke Prancis sebelum menuju ke negaranya, Swedia, setelah keberadaannya nggak diketahui selama beberapa hari. Di bandara Prancis, dia menyerukan pembebasan aktivis lainnya yang masih ditahan militer Israel. FYI, Greta sebelumnya ikut dalam misi kemanusiaan ke Gaza buat membantu warga Gaza yang menderita parah akibat kelaparan. Greta gabung bersama 11 aktivis internasional lainnya di kapal bernama Madleen. Mereka tergabung dalam Freedom Flotilla Coalition (FFC), gerakan solidaritas global yang menolak blokade Israel atas Gaza.

Mereka berlayar dari Italia menuju Jalur Gaza sejak 1 Juni lalu. Mereka membawa bantuan berupa beras, tepung, susu bayi, dan barang-barang penting lainnya buat warga Gaza yang udah kelaparan selama berbulan-bulan. Tapi, niat baik mereka itu digagalkan tentara Israel. Di tengah perjalanan, sekitar 200 km dari Gaza, kapal mereka dicegat Angkatan Laut Israel. Kapal mereka digiring ke Pelabuhan Ashdod, Israel. Greta dan 11 aktivis lainnya ditangkap tanpa izin di atas kapal. Media internasional, AFP, melaporkan kehilangan kontak dengan kapal itu. AFP menyebut para aktivis itu kemungkinan besar “diculik.”

Mahmud Abu-Odeh, salah seorang jurnalis FFC yang berbasis di Jerman, bilang para aktivis itu diduga ditahan. Dan benar aja, semuanya dibawa ke Bandara Internasional Ben Gurion, Israel. Tampaknya pemerintah Israel menawarkan kepada para aktivis 2 pilihan. Dideportasi secara sukarela atau dideportasi paksa. Greta memilih tawaran yang pertama. Greta bersama 2 aktivis dan seorang jurnalis sudah dideportasi. Sementara 8 aktivis lainnya menolak dipulangkan secara sukarela. Mereka sekarang menghadapi proses hukum dan kemungkinan ditahan di penjara Israel.

Greta menggambarkan situasi selama penahanan yang kacau dan nggak pasti. “Tapi kondisi yang kami hadapi sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang dialami orang-orang Gaza yang tiap hari hidup di bawah penjajahan dan kelaparan,” katanya. Dia juga bilang, dia dan para aktivis “diculik di laut internasional”. Dan itu jelas-jelas melanggar hukum internasional. Greta juga mengecam keras tindakan Israel yang disebutnya sebagai “genosida sistematis” dan “kelaparan massal” terhadap lebih dari 2 juta warga Gaza.

FFC mendorong agar 8 aktivis dibebaskan tanpa deportasi. FFC juga sudah menyiapkan pengacara yang akan menuntut agar 8 aktivis diizinkan menyelesaikan misi di Gaza. Dari 8 aktivis yang masih ditahan, 6 orang di antaranya berkewarganegaraan Prancis. Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengecam keras tindakan Israel itu dan minta warganya dibebaskan secepat mungkin. Pemerintah Prancis juga meminta Israel untuk memastikan perlindungan para aktivis. Macron juga menyebut blokade Israel atas Gaza sebagai ‘skandal kemanusiaan’ dan ‘aib dunia internasional’. “Prancis ‘waspada’ dan mendukung semua warga negaranya saat mereka dalam bahaya,” kata Macron.

Amnesty International dan berbagai organisasi HAM menyebut tindakan Israel itu sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Bukannya membuka jalan buat masuknya bantuan kemanusiaan, Israel malah nangkep aktivis yang nggak bersenjata. Padahal tujuan mereka mau membantu dan peduli dengan nasib warga di Gaza. Mereka membawa makanan dan susu bayi buat meringankan penderitaan warga di Gaza. Kita harus makin bersuara keras buat Israel. Ini bukan cuma soal pelanggaran hukum, tapi juga penghinaan terhadap aksi kemanusiaan. Semoga 8 aktivis yang masih ditahan di Isreal berhasil menyelesaikan misi mulia mereka. Solidaritas kita untuk Palestina!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img