Seorang alumni pesantren ngaku nyesel masuk pesantren. Gara-gara niatnya mau belajar agama, eh yang didapet malah ketemu anak-anak nakal. Pengakuan itu disampaikan oleh seorang perempuan alumni pesantren, yang diposting ulang oleh akun @lambegosiip. Ya walaupun kita mesti hati-hati sih, jangan 100 persen percaya dengan postingan akun ini. Tapi emang, berbagai keluhan tentang pesantren sudah sering kita dengar.
Keluhan dari alumni santri ini diposting dalam bentuk beberapa slide yang disertai narasi penyesalan. Di slide pertama, dia berandai-andai tentang adanya kehidupan selanjutnya atau kehidupan yang bisa diulang. Di slide berikutnya, perempuan ini menulis “aku gak mau mondok di pesantren”. Di slide terakhir, dia jelasin alasan kenapa gak mau balik ke dunia pesantren. “Niatnya biar paham agama, tapi isinya anak-anak nakal, makan gak teratur, jorok banget,” tulis dia.
Gak cuma itu, dia juga sorot budaya pesantren yang menurutnya gak masuk akal. Misalnya, terlalu berlebihan memuja kyai. Contoh yang lainnya: waktu ada santri yang sakit, bukannya diajak berobat malah malah dibilang diganggu jin. Postingan itupun mendapat banyak komen dari netizen, ada yang pro ada juga yang kontra, tak sedikit yang justru ngegas. “Minimal jangan menjelekkan instansinya ..karena ulah oknum, malah di kontenin”, tulis salah satu netizen. “Hati-hati ngomong kayak gini di sosmed.. kena balaknya pondok…”, tulis netizen lain. “Takdzim sama kyai itu level penghormatan atas ilmunya, masalahnya kakaknya belum meluruskan niat”, tambah netizen lain.
Miris ya dengan komen-komen itu. Padahal kalau kita jujur dan mau dengerin, testimoni kayak gini bisa jadi bahan refleksi penting. Kayak pertanyaan: ‘Kenapa sih kok niat baik buat belajar agama malah berujung trauma?’ itu penting buat dibahas. Masalah makan gak layak dan lingkungan jorok itu bukan soal remeh. Apalagi kebersihan dan gizi itu bagian dari ibadah juga. Terus soal menghormati kyai, ya boleh, asal gak sampai bikin murid takut ngomong. Kalau ada santri sakit, ya bawa ke dokter dong, bukan malah dirukyah apalagi dibilang karena gangguan jin. Takutnya malah yang sakit itu kena sakit serius, apakah itu tifus, DBD atau yang lainnya.
Dan yang penting kita ingat, bahwa ada banyak kasus kekerasan dan pelecehan seksual terjadi di pesantren. Kalau terus kita tutupi dengan alasan untuk jaga nama baik pondok, bisa jadi kasus-kasus itu akan terus terjadi. Padahal kasus-kasus semacam itu sudah banyak banget terjadi. Data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) tahun 2024 mencatat ada 573 kasus kekerasan di sekolah dan pesantren, dan lebih dari 100 kasus terjadi di pesantren. Contohnya, Januari 2025 lalu, pemilik pondok di Jakarta Timur ditangkap karena mencabuli lima santri laki-laki. Walau Kemenag udah ngeluarin regulasi baru buat perlindungan anak di pesantren, kasus-kasus itu terus terjadi.
Jadi kalangan pesantren harus terbuka sama kritik. Ngomongin kasus-kasus di pesantren bukan berarti benci agama. Ngomong jujur menyesal mondok di pesantren, bukan berarti benci pesantren. Ini adalah kritik, agar pesantren memperbaiki diri. Jadi buat kamu yang pernah mondok dan punya pengalaman mirip, yuk berani speak up. Agar pesantren-pesantren jadi mau berbenah. Agar pendidikan di pesantren semakin baik.


