Aksi pembakaran al-Quran masih jadi sorotan. Bahkan, sampai dibahas di Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Jadi, Dewan HAM PBB mengeluarkan resolusi mengutuk serangan aksi pembakaran al-Quran atau kitab suci lainnya.
Btw, rancangan resolusi itu diinisiasi Pakistan. Pakistan mewakili Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dan negara-negara yang tergabung dalam Dewan HAM PBB. Dalam resolusi itu disebutkan pembakaran al-Quran atau kitab suci lainnya harus dikecam dan dianggap sebagai tindakan kebencian terhadap agama.
Tidak tanggung-tanggung, resolusi itu didukung 28 negara, terutama negara-negara mayoritas muslim. Tapi, ada juga negara non mayoritas muslim yang ikut mendukung, di antaranya Cina, Argentina, dan lainnya. Di kubu lain, Amerika Serikat dan beberapa negara barat lainnya menolak resolusi itu.
Amerika dan Uni Eropa ogah mengutuk aksi pembakaran al-Quran. Kata mereka, resolusi itu bertentangan dengan kebebasan berekspresi dan berpendapat. Tujuh negara lainnya abstain.
Terlepas dari sikap Amerika dan Uni Eropa, resolusi itu telah disahkan Dewan HAM PBB. Wakil Menteri Luar Negeri Turki, Yasin Ekrem Serim, bilang segala bentuk penghinaan terhadap kitab suci mana pun bertentangan dengan prinsip toleransi. Kebebasan berekspresi, katanya, adalah hak asasi manusia, tapi jangan sampai disalahgunakan untuk menyebarkan kebencian.
OKI minta semua otoritas untuk mengambil tindakan yang tegas agar kejadian serupa tidak terjadi lagi. Aksi pembakaran al-Quran terjadi beberapa kali di sejumlah negara Eropa belakangan ini. Yang terbaru, imigran asal Irak, Salwan Momika, membakar al-Quran di depan masjid Stockholm, Swedia, saat perayaan Idul Adha kemarin.
Btw, keputusan Amerika dan negara-negara barat lainya terkait resolusi itu tidak berarti mereka pro pada aksi pembakaran al-Quran. Jangan di-spin seolah-olah ini semakin meneguhkan pandangan bahwa Amerika dan negara-negara Barat memang benar anti Islam. Tidak sehitam-putih itu, Ferguso.
Ya, kita mungkin tidak suka dengan keputusan Amerika dan negara-negara Eropa itu. Tapi, kita harus ingat, setiap negara punya prinsip yang seringkali berbeda dengan prinsip yang dipegang teguh negara lain.
Yuk, kita saling menghargai prinsip dan keyakinan pihak lain!



