Band Indie Tanda Seru! Kritik Jualan Agama di Indonesia

Published:

Sebuah band indie bernama Tanda Seru! mengkritik penyalahgunaan agama di Indonesia. Melalui lirik lagunya, mereka bertanya, kenapa jualan agama di Indonesia laku? Band Tanda Seru! digawangi oleh Yunan Hilmi sebagai vokalis dan penulis lagu. Hilmi selama ini dikenal sebagai penulis lagu pop dan lagu-lagu anak. Personel yang lainnya Eunike Theresia sebagai drummer dan Evanny Noei Rana sebagai bassist.

Band ini mengisi tema lagunya tentang keadaan dan isu-isu yang sering terjadi di Indonesia. Diekspresikan melalui musik grunge dengan distorsi keras dan sebagai wujud kemarahan terhadap kondisi sosial-politik di tanah air. Dalam caption videonya di Instagram, mereka menyebut musiknya seperti pertanyaan: “Jual, jual apa yang pasti lakunya?”

Dalam debut pertamanya, mereka menelorkan album bernama *Negeri Para Begundal*. Berisi 5 lagu berintensitas tinggi yang menyoroti isu korupsi, penyalahgunaan agama, dan ketidakadilan di Indonesia. Lirik lagunya penuh dengan sindiran. Contohnya pada lagu yang berjudul *Panitia Akhirat*.

Pada lagu *Panitia Akhirat*, Band Tanda Seru mengkritik tajam terhadap penyalahgunaan agama. Dan lagu ini merupakan tema utama pada album *Negeri Para Begundal*. Coba kita dengar lirik lagu-lagunya. “Jual, jual apa yang pasti lakunya?” “Jual Ayat Tuhan Ditakuti Orang” “Yang Tunduk Dibilang Pasti Masuk Surga” “Yang Bertanya Kritis Diancam Neraka” “Atur Atur Aja Semuanya” “Wahai Kau Panitia Akhirat”.

Jualan agama adalah kritik yang sering digaungkan oleh banyak pihak di Indonesia. Tapi kritik-kritik itu tidak pernah mampu menyurutkan praktik itu. Mungkin karena geram dengan situasi itu, Band Tanda Seru! pun ikut menyuarakan isu itu. Jualan agama sendiri adalah praktik menjadikan agama sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu. Kayak cari duit, pengaruh politik, dan popularitas.

Untuk tujuan itu, mereka pun tak segan menggunakan ayat-ayat suci, apakah itu Al-Quran, Alkitab, dan kitab-kitab suci lainnya. Indonesia adalah negara dengan tingkat religiusitas yang sangat tinggi. Mayoritas penduduknya menganut agama Islam. Agama di Indonesia bukan cuma sekadar keyakinan pribadi, tetapi juga bagian integral dari identitas sosial, budaya, dan bahkan politik.

Mengutip ayat-ayat suci sering kali dianggap sebagai cara untuk memberikan legitimasi, kewibawaan, atau bahkan “berkah” pada suatu tindakan atau pesan. Termasuk pada bisnis pelaku penjual agama ini. Bahkan mereka menambah-nambahkannya dengan embel-embel berkah, sunnah nabi, atau karomah nabi. Ini misalnya dilakukan oleh Habib Alhabsyi pada produk air mineral kemasan miliknya. Atau rokok herbal punya Ustad Solmed, dan sejumlah ustad lainnya.

Banyak politisi melakukan hal yang sama demi tujuan politiknya. Agama sering dijadikan jualan karena memang banyak juga “pembelinya”. Sebabnya satu, karena kita tak mau menjadikan akal sehat kita untuk mengkritisi praktik-praktik agama yang tak logis. Suara lantang Tanda Seru! mengingatkan kita kembali agar kita beragama dengan rasional. Yuk, gunakan akal sehat kita dalam beragama!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img