Influencer Ferry Irwandi menepis tudingan kalau dirinya mempolitisasi derita korban banjir dan membuat konten tentang adanya pemerkosaan di lokasi bencana. Dia juga menegaskan, dirinya tidak pernah menyebut ketidakhadiran negara untuk membantu para korban. Ferry merasa perlu mengklarifikasi tuduhan itu, karena tuduhan sudah menjadi fitnah dan dinarasikan oleh banyak orang.
Klarifikasi itu dia sampein melalui akun Instagramnya @ferryirwandi. Ada dua poin utama klarifikasi Ferry. Pertama, Ferry menegaskan, sama sekali dia tidak pernah mengatakan pemerintah tutup mata terhadap para korban bencana longsor dan banjir di Sumatera. Kedua, dia juga menegaskan tidak pernah mempolitisasi dengan menyebarkan informasi sensitif terkait adanya pemerkosaan di lokasi bencana.
Ferry mengatakan, dia hanya menerima voice note atau pesan suara yang menyampaikan adanya peristiwa itu. Tapi sama sekali dia tidak menarasikan lebih jauh peristiwa itu seperti yang diberitakan banyak media. “Satu-satunya pembicaraan ini muncul cuma di live penggalangan dana seminggu yang lalu,” ucap Ferry. Karena itu Ferry meminta kepada media yang telah membuat berita itu untuk juga melakukan klarifikasi. “Teman-teman media yang menulis berita ini, mohon klarifikasi dan verifikasinya, karena sudah bermuatan fitnah ke saya. Saya mohon berita ini dapat diturunkan,” pinta Ferry.
Terkait penanganan korban bencana di tiga provinsi Sumatera, Ferry memuji semua pihak yang telah berkolaborasi membantu para korban. Mulai dari relawan, NGO, pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI dan Polri. “Semua merasa saling berbagi kerja dan berjalan dengan baik,” ucap Ferry. Ferry sendiri sudah beberapa hari berada di lokasi bencana untuk membantu para korban.
Sebelumnya Ferry berhasil menggalang dana mencapai Rp 10 miliar dari para pengikut instagramnya. Saat penggalangan dana dalam live video yang dia lakukan, Ferry sampai menangis. Saat itulah Ferry menerima pesan suara yang menyampaikan adanya pemerkosaan. Rupanya, video itu diberitakan media massa tanpa melakukan verifikasi lebih lanjut. Informasi itupun menyebar dengan sumber informasi dari Ferry. Publik pun merespon berita itu dengan beragam tanggapan. Beberapa bahkan mengecam Ferry.
Salah satunya dilakukan oleh Ketua Studi Demokrasi, Hak Asasi Manusia dan Gender (Pusdeham Institut) Risnauli Siahaan. Risna bilang, pernyataan Ferry yang menyebut ada pemerkosaan di lokasi bencana menyiratkan negara tidak hadir. Pernyataan itu berpotensi menyesatkan publik dan melukai perasaan para korban. “Kami sebagai kaum perempuan, terlebih sebagai perempuan Batak, sangat lirih dan terpukul mendengar ucapan tersebut,” ucap Risna.
Kecaman juga datang dari Pakar komunikasi politik Universitas Esa Unggul Indonesia Syurya Muhammad Nur. Syurya menilai narasi yang disampaikan Ferry melanggar etika komunikasi publik. “Penyampaian isu pelecehan seksual di lokasi bencana yang disebarkan Ferry tanpa verifikasi berpotensi melukai psikologis korban,” kata Syurya.
Ferry saat ini sudah klarifikasi terkait berita pemerkosaan itu. Mudah-mudahan dengan klarifikasi ini semua menjadi jelas bahwa Ferry sendiri tidak secara sengaja menyebar informasi itu. Dia hanya menerima pesan suara yang dilakukan secara live.
Para korban bencana banjir dan longsor saat ini sedang memerlukan uluran tangan dari kita semua. Mari lebih baik kita fokus untuk membantu para korban bencana itu. Hilangkan segala kecurigaan dan perbedaan di antara kita. Yukk berjibaku bantu para korban bencana!


