Biadab! Pendeta di Semarang Cabuli Anak di Bawah Umur

Published:

Pendeta di Semarang ini bisa-bisanya cabulin anak di bawah umur. Modusnya, diajak doa bersama. Kacau nggak tuh! Namanya Adi Suprobo, asal Semarang, Jawa Tengah.

Korbannya sebenernya ada beberapa dan tersebar di berbagai daerah. Ada yang dari Semarang, Temanggung, Kudus, sampe Ambarawa. Tapi yang lapor cuma 1 korban aja. Umurnya 10 tahun. Kasus yang lagi viral ini terungkapnya pada Mei 2024. Korban ngaku ke keluarganya kalo dia dilecehin. Dan terungkap lah semuanya. Adi ngajak korban ke kamar dengan alasan ada ”gangguan” yang harus diilangin.

Adi bilang ke korban satu-satunya cara menghilangkan gangguan itu lewat doa bersama. Nah, disinilah Adi lancarin aksinya. Bahkan katanya Adi juga pernah lecehin korban lainnya di kamar mandi salah satu mall di Semarang.

Setelah korban ngaku ke keluarganya, keluarga korban lapor ke polisi pada Juli 2024. Kata kuasa hukum korban, Edi Pranoto, Adi pernah lecehin korban tahun 2013 sama 2017. Cuma nggak diperkarakan aja gegara para korban udah ada yang nikah, punya anak, sampe berkebutuhan khusus. Edi juga bilang kalo terdakwa itu tokoh agama yang punya komunitas. Biasanya pelaku kalo khotbah itu pindah-pindah daerah. Makanya korbannya ada yang dari daerah lain.

Korbannya aja sampe trauma banget loh. Buktinya pas di persidangan salah satu korban bisa ceritain kronologinya dengan runtut. Tapi waktu liat terdakwa, korban langsung nangis histeris gitu. Kasihan banget ya? Nggak heran deh, aksi bejatnya bikin dia divonis 7 tahun penjara sama majelis hakim Pengadilan Negeri Semarang. Soalnya Adi melanggar UU Perlindungan Anak. Adi juga didenda 1 miliar rupiah. Kalo nggak sanggup bayar, Adi kena pidana kurungan 4 bulan.

Awalnya sih kasus ini mau diselesain secara kekeluargaan. Karena pelaku ternyata masih ada hubungan kerabat sama keluarga korban. Terus juga sempet ada rencana permintaan maaf pelaku lewat media sosial. Cuma karena trauma yang dialami korban cukup parah makanya diperkarakan. Sekarang aja korban masih jalanin pendampingan psikologis.

Kasus ini nunjukin betapa bahayanya kalau figur agama yang salahgunain posisinya buat menuhin nafsu bejat semata. Kasus ini membuka mata kita soal abuse of trust. Kekerasan seksual anak seringkali bukan karena predator asing, tapi justru orang yang dipercaya. Guru, pemuka agama, bahkan keluarga sendiri. Makanya edukasi anak soal “batas tubuh” itu krusial. Plus sistem kontrol internal di gereja atau komunitas keagamaan harus lebih ketat. Jangan cuma bergantung sama nama besar atau jabatan rohani. Jangan anggap semua orang yang bawa label “pendeta”, “ustadz”, “guru”, pasti suci. Tetap butuh mekanisme pengawasan dan edukasi publik biar nggak gampang disalahgunakan.

Ada fakta lain yang nggak kalah mencengangkan. Terdakwa udah lancarin aksinya dari 2014. Tapi kebongkarnya baru 2024. Ini nunjukin betapa kuatnya budaya “diam”. Entah karena malu, takut nggak dipercaya, atau pelaku punya posisi kuasa. Ini PR besar kita: bikin ruang aman buat korban speak up, tanpa takut di-judge atau di-bully.

Di sisi lain, vonis ini walau terasa ringan, tetap jadi titik terang. Paling nggak, korban sekarang punya ruang untuk pulih. Publik dapet pelajaran bahwa status pendeta nggak bikin kebal hukum. Siapapun bisa dihukum kalau nyentuh ranah pelecehan seksual, apalagi anak-anak. Stop jadikan agama sebagai pembenaran dalam berbuat kriminal!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img