Cawapres No.1 Muhaimin Iskandar atau Cak Imin kepedean ya. Dia bilang kalau warga NU kompak dukung pasangan Anies-Muhaimin (AMIN). Tapi, karena dana kampanye pas-pasan, akhirnya beberapa kiai terpaksa menerima pemberian uang dari pihak tertentu, katanya. Cak Imin bilang banyak kiai NU yang dibungkam dengan uang agar tak memilih pasangan AMIN.
Dia mengaku sudah ditemui sejumlah tokoh Agama yang diduga telah digerpol dengan uang. Karena itu, Cak Imin minta kepada para kiai supaya menolak politik uang dan tetap konsisten mendukung dirinya. Hal ini, katanya, sangat penting, untuk menjaga keutuhan dan kesatuan NU di tengah dinamika politik. Apalagi, katanya, AMIN, adalah calon yang paling dekat dan mengutamakan kepentingan santri, kiai, dan rakyat kecil.
Nah, pernyataan Cak Imin langsung dapat tanggapan TKN Prabowo-Gibran, Habiburokhman. Habiburokhman minta pada Cak Imin mengungkap identitas siapa yang dimaksud agar tak jadi fitnah. Dia juga bilang kalau pernyataan Muhaimin itu benar, maka harus segera ditindaklanjuti. Karena ini termasuk politik uang dan melanggar Undang-Undang Pemilu. Habiburokhman minta Bawaslu maupun aparat penegak hukum agar bisa menindaklanjutinya dengan serius. Dalam percaturan politik di Indonesia, suara warga NU memang sangat menggiurkan ya. Ini karena kekuatan NU yang sangat luar biasa.
Bayangin aja jumlahnya ada sekitar 59 persen lebih umat Islam di Indonesia. Jadi, kalau populasi umat Islam di Indonesia diperkirakan ada 250 juta jiwa, maka sekitar 150 juta adalah warga NU. Tapi sebenarnya ada satu hal yang unik di NU, suara warga NU tak bersifat monolitik atau tunggal. Kiai di NU adalah patron yang bisa membentuk preferensi politik para jamaah atau santrinya. Jadi, para tokoh NU ini tidak bisa merepresentasikan politik NU sendiri.
Inilah alasannya kenapa warga NU itu tersebar dalam berbagai partai politik. Jadi, klaim cak Imin ini mungkin bisa dibilang lebay agak berlebihan ya? Tapi satu hal yang terpenting, Cak Imin harus membuktikan tudingannya agar tak jadi fitnah.
Yuk, jadi warga yang waras!


