Bayangin, Nyepi yang identik dengan keheningan akan berbarengan dengan takbiran yang identik dengan perayaan. Untuk menengahi dua event keagamaan yang kontras itu pemerintah mengeluarkan aturan. Masalahnya, ada aja netizen yang mempersoalkan aturan itu. Jadi, malam takbiran Idul Fitri tahun ini “diprediksi” bakal bertepatan dengan Hari Raya Nyepi umat Hindu di Bali. Nyepi jatuh pada 19 Maret, sementara Idul Fitri “diperkirakan” pada 21 Maret. Karena itu, Pemerintah Provinsi Bali, Kementerian Agama, Kapolda, dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bali duduk bareng dan menerbitkan seruan bersama terkait hal ini.
Intinya, umat Islam di Bali tetap diperbolehkan melaksanakan takbiran. Tapi dengan beberapa aturan khusus. Pertama, takbiran hanya boleh dilakukan di masjid atau mushola terdekat, dengan jalan kaki dari rumah. Kedua, dilarang menggunakan pengeras suara di luar tempat ibadah. Ketiga, nggak boleh ada petasan, mercon, atau bunyi-bunyian lain yang bisa ganggu kekhusyukan Nyepi. Keempat, penerangan hanya boleh seadanya, sesuai semangat Nyepi yang mengedepankan keheningan. Kelima, takbiran hanya boleh berlangsung dari pukul 18.00 sampai 21.00 WITA. Pengamanan kegiatan jadi tanggung jawab pengurus masjid, pecalang, linmas, dan aparat keamanan setempat.
Gubernur Koster juga menegaskan ini bukan keputusan kolektif lintas lembaga, bukan keputusan sepihak. Kepala Biro Humas Kemenag, Thobib Al Asyhar, juga menegaskan aturan ini hanya berlaku di Bali, bukan seluruh Indonesia. Dirjen Bimas Hindu I Nengah Duija menyebut ini sebagai “kearifan bersama” demi menjaga keharmonisan antarumat beragama. Sebenarnya dua event keagamaan ini nggak berhimpit-himpitan amat. Nyepi tanggal 19 Maret dan Idul Fitri “diperkirakan” tanggal 21 Maret. Tapi tanggal 20 Maret ada event Ngembak Geni yang bagian dari rangkaian Nyepi. Karena itu, demi kehati-hatian dan saling menghormati, aturan khusus ini dibuat dan diberlakukan.
Situasi unik ini memicu perdebatan panjang di media sosial. Terutama setelah video seorang warga viral di Instagram lewat akun @Lensabali. Di video itu, warga tersebut menyampaikan ketidaksetujuannya terhadap rencana pembatasan kegiatan malam takbiran di Bali. Menurutnya, malam takbiran adalah momen spesial yang cuma datang sekali dalam setahun dan nggak boleh sembarangan dibatasi. Di kolom komentar reels @Lensabali, reaksi netizen secara umum cenderung kontra dengan pandangan warga tersebut. Dikatakan, takbiran itu hukumnya sunnah muakkadah, alias dianjurkan tapi nggak wajib. Komen lain mengatakan umat Muslim yang tinggal di Bali harus menghormati adat dan kebudayaan Bali. Intinya, mayoritas netizen mendukung saling menghormati antarumat beragama di Pulau Dewata.
Apa yang termaktub dalam seruan bersama itu jelas bukan soal ngelarang takbiran ya. Faktanya, dalam seruan itu umat Islam di Bali tetap diberi ruang untuk melakukan takbiran. Tapi, berhubung takbiran dilakukan masih dalam suasana Nyepi, maka diatur teknis pelaksanaannya. Agar harmoni di dalam keberagaman tetap terjaga. Menghormati Nyepi bukan berarti meninggalkan identitas sebagai Muslim. Justru itulah wujud nyata Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Ajaran yang mengedepankan kasih sayang dan bisa hidup berdampingan dengan kelompok agama yang berbeda.
Bali indah bukan cuma karena alamnya. Bali juga indah karena masyarakatnya bisa hidup rukun dalam perbedaan. Kita jangan gampang terpengaruh narasi soal seruan bersama ini yang menyesatkan ya. Apalagi termakan framing di media sosial yang mengatakan seruan bersama ini berlaku nasional. Yuk, rawat terus kerukunan di Indonesia!


