Di Indonesia ucapan Natal sering dibilang haram, tapi di banyak negara Muslim justru biasa saja. Bahkan banyak Muslim Arab yang ikut merayakan Natal tanpa merasa berdosa. Ini misalnya terlihat dalam sebuah video wawancara yang diunggah akun Instagram @permadiaktivis pada 2 Desember. Di video itu, pewawancara menanyakan ke beberapa Muslim: “Haram nggak ngucapin Natal?” Jawabannya mengejutkan karena hampir semuanya bilang tidak haram.
Satu keluarga diwawancarai dan si bapak bilang dia tak peduli orang lain bilang haram atau halal. Si ibu bilang Natal juga penting untuk Muslim karena memperingati kelahiran Nabi Isa. Seorang wanita lain bahkan heran: “Siapa yang bilang Natal haram?” Wanita itu bercerita bahwa ia dan anaknya rutin mendekorasi pohon Natal di rumah. Ibu-ibu lain juga mengaku mendekorasi pohon Natal tiap tahun. Mereka menilai itu tradisi sosial, bukan ibadah agama lain.
Sikap mereka kontras dengan sebagian tokoh agama Indonesia yang mengharamkan ucapan Natal. Misalnya Ustadz Abdul Somad yang menilai ucapan Natal bermasalah karena dianggap mengakui Tuhan punya anak. Ia juga menilai ucapan Natal dianggap mengakui tanggal kelahiran dan penyaliban Isa. Ustadz Adi Hidayat berpendapat ucapan Natal mengandung pengakuan terhadap ajaran Kristen. Ia menyebut Muslim tidak diperkenankan memberi selamat hari raya agama lain yang berbasis akidah berbeda. Ustadz Khalid Basalamah juga menganggap ucapan Natal sebagai pengakuan terhadap akidah non-Islam. Menurutnya, mengucapkan Natal sama saja dengan mengatakan “Allah punya anak.”
Tapi ada juga ulama yang membolehkan ucapan Natal. Prof. Quraish Shihab menyatakan ucapan Natal boleh selama akidah tetap terjaga. Maksudnya, Muslim mengucapkan Natal sebagai bentuk silaturahmi, bukan pengakuan teologis. Habib Jafar juga membolehkan ucapan Natal selama iman tetap teguh bahwa Isa adalah nabi. Ia melihat ucapan Natal sebagai bagian dari hubungan sosial. Ketua PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menilai Natal bisa jadi momen kerukunan berbangsa. Ia menekankan pentingnya menghormati perbedaan dalam masyarakat plural.
Sementara itu, di banyak negara Arab, isu halal–haram ucapan Natal hampir tidak pernah diperdebatkan. Bahkan tidak jadi topik khutbah atau wacana nasional. Bagi mereka, akidah adalah urusan pribadi, sementara ucapan Natal adalah adab sosial. Negara Teluk seperti UEA, Qatar, Bahrain, Oman, sampai Yordania dan Lebanon sudah sangat biasa dengan perayaan Natal. UEA punya Christmas Market resmi dan Qatar memasang dekorasi Natal di mall milik negara. Yordania menjadikan Natal sebagai hari libur nasional. Lebanon bahkan punya dua versi libur Natal, yaitu versi Katolik dan Kristen Ortodoks. “Merry Christmas” di kantor, toko, dan sekolah internasional adalah hal biasa di sana.
Bahkan Arab Saudi berubah drastis sejak 2016. Mutawa (Polisi Syariat) dibatasi, pohon Natal dijual resmi, dan hotel bebas memasang dekorasi. Negara-negara Arab itu bergerak menuju toleransi sosial yang terkontrol. Salah satu alasannya: pemerintah tegas membatasi ulama radikal. Ceramah intoleran akan ditindak, izin dai ekstrem dicabut. Negara mengambil alih narasi agama demi stabilitas sosial. Saudi lewat Vision 2030 bahkan mempromosikan toleransi lintas agama untuk kepentingan ekonomi. Di dunia Arab, ulama lebih fokus pada akidah internal, bukan melarang hubungan sosial. Di Arab, kelompok ekstrem dibungkam dan ulama moderat diberi panggung. Di Indonesia, kelompok ekstrem masih bebas bersuara.
Video wawancara tadi jadi mind-blowing buat banyak netizen Indonesia. Karena selama ini ada anggapan “kalau Arab keras, kita harus ikut.” Padahal banyak warga Arab memaknai Natal sebagai peringatan kelahiran Nabi Isa yang dihormati dalam Islam. Mereka ikut merayakan tanpa mengubah akidah. Yuk beragama dengan akal sehat!


