Di tengah berita soal konflik dan perpecahan, Papua justru memberi kita harapan tentang kebersamaan dan toleransi. Warga yang beragama Islam dan Kristen, bahu membahu mempersiapkan peresmian sebuah gereja. Peristiwa terjadi di Sinoba, Distrik Nabire Tanah Papua. Moment itu terlihat dalam sebuah video singkat yang diposting akun DAAI TV. Video itu.
Dalam video terlihat, sejumlah laki-laki bekerja sama mendirikan tenda dan mengangkat barang-barang. Sementara, sejumlah ibu-ibu berjilbab sedang membantu memasak. Setidaknya ada 8 ibu-ibu beragama Islam yang membantu persiapan peresmian gereja itu.
Tentu saja ini menjadi peristiwa yang sangat inspiratif bagi kita. Mereka hidup berdampingan dalam damai. Dalam keberagaman yang dewasa. Bagi mereka, Bhineka Tunggal Ika bukan sekedar semboyan. Tapi mereka buktikan dalam kehidupan sehari-hari. Warga Papua ngajarin kita, kalau berbeda itu bukan musuh. Justru perbedaan adalah peluang bagi kita untuk saling belajar dan menguatkan.
Toleransi itu bukan Cuma soal “nggak ganggu”. Tapi soal ikut hadir dan membantu, meskipun beda iman. Dan warga Muslim Papua menunjukkan itu dengan sangat indah. Mereka hadir, membantu, bahkan ikut merayakan.
Untuk saudara-saudara Muslim di Papua—kalian luar biasa. Dan untuk umat Kristen yang membuka pintu dengan hangat—kalian juga luar biasa. Ini bukan cuma tentang gereja. Tapi tentang rumah bersama bernama Indonesia. Ini adalah wajah asli Indonesia. Penuh keberagaman, dan saling menjaga.
Kita apresiasi setinggi-tingginya untuk saudara-saudara Muslim di Papua. Ini teladan yang patut ditiru oleh umat Islam di seluruh Indonesia. Bahwa menjadi Muslim yang baik juga berarti menjaga hubungan baik dengan tetangga yang berbeda keyakinan.
Btw, ini bukan satu-satunya cerita. Di Ambon, pernah juga warga Muslim ikut bantu membersihkan gereja pasca konflik sosial. Di Solo, gereja menyediakan halaman parkir untuk shalat Ied. Di Jogja, vihara dan gereja pernah menyediakan dapur umum untuk warga Muslim saat Ramadan.
Cerita-cerita ini tidak viral. Tapi penting untuk diangkat. Karena Indonesia butuh lebih banyak kabar damai. Bukan provokasi dan caci maki. Kita bisa berbeda, tapi tetap bersaudara. Kita bisa sepakat untuk tidak sama, tapi tetap saling menjaga. Karena kalau bukan kita yang rawat kerukunan ini, siapa lagi?
Untuk warga Muslim Papua—terima kasih. Kalian menunjukkan Islam yang sejuk, ramah, dan merangkul. Semoga video itu bisa jadi pengingat dan menyebar luas, menular ke kota-kota lain, ke desa-desa lain.
Bagi kalangan yang suka bertindak intoleran, yukk jadikan kerukunan yang ada di Papua sebagai teladan. Untuk ciptakan Indonesia yang damai dan rukun sesama anak bangsa. Yukk selalu kedepankan sikap toleran!


