Di Indonesia ada barak militer buat anak bandel ala Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Di Thailand, ada wajib militer bagi para ladyboy. Btw, Ladyboy itu istilah Laki-laki yang fisiknya terlahir pria, tapi mengidentifikasi diri dan berpenampilan sebagai wanita. Aktivitas para ladyboy sedang ngikutin wajib militer terlihat dalam video tiktok yang diunggah @military0wl. Di video itu terlihat para ladyboy itu berada dalam antrian pendaftaran dan aktivitas latihan ala militer. Ada yang sedang baris berbasis, memegang senjata dan aktivitas lainnya. Yang lucu, walaupun mereka dalam situasi latihan militer, mereka tak segan menunjukkan gaya slay mereka.
Para Ladyboy harus menjalani wajib militer selama 2 tahun. 2 bulan pertama, para ladyboy akan menjalani aktivitas berat. Mulai dari gerak jalan, baris-berbaris, menembak, terjun bebas, jalan di atas kayu kecil yang disusun, dan lainnya. Yaaa namanya ladyboy ikut militer, ada aja tingkahnya. Pas gerak jalan joget-joget lah, pas menembak teriak terus loncat-loncat, dan lain sebagainya.
Jadi, apa sih kebijakan wajib militer bagi ladyboy? Dan gimana sistemnya? Ini dia! Kebijakan ini muncul sebelum tahun 2006. Semua laki-laki warga negara Thailand yang berusia 21 tahun WAJIB ikut seleksi militer. Prosesnya dilakukan setiap April, diadakan di balai desa atau aula militer setempat. Nah dulu di Thailand, Ladyboy itu masih termasuk kategori laki-laki. Karena saat itu identitas gender gak bisa diubah di KTP. Jadi walaupun badannya udah cewek, hidup sebagai cewek, bahkan ada yang udah operasi kelamin Cuma di dokumen tetap cowok.
Kalo ladyboy mau bebas wamil harus memperoleh surat keterangan medis yang menyatakan mereka memiliki “gangguan mental permanen”. Label ini tercantum dalam dokumen militer resmi (Sor Dor 43) yang akhirnya mereka dianggap mengidap gangguan jiwa. Dampaknya apa? Sulit dapet kerjaan karena dianggap gila dan jadi aib buat keluarga sama masyarakat. Makanya karena gak ada pilihan para ladyboy terpaksa ikut wajib militer.
Pendaftaran dilakukan dengan 2 cara, yaitu sukarela dan melalui lotere (undian). Nantinya peserta undian di tiap distrik di wilayah Thailand harus mengambil bola. Kalo mereka dapet bola warna merah artinya harus ikut wamil, sedangkan kalo dapet bola hitam artinya bebas wamil. Kebijakan itu berlaku sampai di tahun 2006. Atas desakan komunitas LGBTQ dan LSM HAM, militer menghapus label ‘gangguan jiwa permanen’ sebagai syarat dispensasi untuk tidak ikut wajib militer.
Mereka kemudian mengganti dengan beberapa syarat lainnya. Yaitu tetap datang ke lokasi distrik seleksi militer serta bawa surat keterangan medis dari psikiater atau rumah sakit resmi. Ladyboy juga bisa membawa bukti berupa: sudah operasi kelamin, sudah terapi hormon, atau diagnosis “gender identity disorder”. Kebijakan ini membuka ruang diskusi yang lebih luas. Gimana negara-negara yang memberlakukan wajib militer bisa menyesuaikan diri dengan realitas sosial yang semakin beragam. Tentunya tanpa mengorbankan prinsip keadilan, penghormatan terhadap identitas, maupun fungsi utama bela negara itu sendiri. Kalian sendiri setuju sama kebijakan kayak gini atau nggak? Coba komen di bawah guys!


