Aktivis media sosial Permadi Arya alias Abu Janda mengkritik Menteri Agama, Nasaruddin Umar. Gara-garanya, Menag tak sepatah katapun melontarkan statement terkait kasus intoleransi yang terjadi di Cidahu, Sukabumi. “Menteri Agama kayaknya lagi tidur pulas,” ucap Abu Janda menjawab pertanyaan seorang wartawan.
Setelah wartawan itu bertanya, kenapa Menteri Agama nggak ada komentar soal intoleransi. Menurut Abu Janda, kasus intoleransi agama ini sebenarnya ranah Menteri Agama. Karena itu seharusnya dia hadir sebagai mediator, regulator dan penengah. “Kasus di Sukabumi adalah gesekan antar umat beragama, antara umat Islam dan Kristen, seharusnya Menteri Agama yang paling bertanggungjawab untuk jadi mediator,” ucap Abu Janda.
Tapi itu nggak dilakukan sama sekali, malah yang kita lihat hadir adalah Kementerian Hak Asasi Manusia, tambahnya. “Pak Nasaruddin masih tidur pulas, mungkin belum bangun,” sindirnya lagi. Pernyataan Abu Janda ini viral, dan dapat banyak dukungan dari netizen. “Loh, Indonesia ada menteri agama tah?” tulis seorang netizen. “Menteri agama yang mana ye” tulis netizen lain iku menyindir. “Kementerian 6 agama, no, kementerian 1 agama, yes,” tulis yang lain.
Komentar-komentar itu nunjukkin kalau publik kesel sama sikap diam seribu bahasa Pak Menteri. Di media cetak maupun elektronik, gak pernah kita dengar pernyataannya terkait kasus itu. Dia seperti pura-pura nggak tahu, atau malah menghindar total untuk ikut bicara terkait masalah itu. Apa mungkin karena korbannya umat Kristen, makanya nggak keluar statement apapun.
Lumrah kalau akhirnya masyarakat ngasih Pak Nasar dengan cap “Menteri 1 Agama.” Julukan itu bukan asal jeplak, tapi muncul karena banyak jejak ucapan, kebijakan, sama gestur beliau yang keliatan condong ke satu agama tertentu aja. Contohnya, pada Desember 2024, Pak Menteri pernah bilang, “Di kawasan elit Jakarta dari Sudirman sampai Pantai Indah Kapuk, nggak ada masjid megah yang berdiri.”
Pernyataan itu diprotes banyak pihak, karena kesannya terlalu fokus urus pembangunan masjid, padahal umat agama lain juga punya hak atas fasilitas ibadah. Komentar kayak gitu dianggap kurang sensitif sama realitas pluralisme di Indonesia. Selain itu, tiap pidato beliau selalu nyerempet soal penguatan fungsi masjid. Dia juga sering menegaskan peran umat Islam sebagai mayoritas dalam pembangunan bangsa.
Akhirnya publik liat, prioritas kebijakan beliau berat sebelah dan jarang banget denger program nyata buat pembinaan lintas agama. Ini bikin kepercayaan publik makin turun, apalagi kalau pas ada konflik lintas agama malah ngilang. Ini sangat disayangkan sekali.
Padahal publik semula berharap banyak kepada Pak Nasar. Sebelum menjawab sebagai menteri, Pak Nasar dikenal sebagai sosok yang pluralis dan penuh toleransi. Masih ingat dalam ingatan kita, Pak Nasar dengan terbuka menerima dan mengajak Paus Fransiskus datang ke Masjid Istiqlal. Bahkan saat itu dia sampai mencium kening Paus Fransiskus.
Dalam berbagai kesempatan sebelum jadi menteri, dia sering menyampaikan gagasan tentang pluralisme. Menurutnya pluralisme adalah modal penting bagi Indonesia, bahkan untuk bersaing di kancah internasional. Saat sudah menjadi menteri, sikapnya seperti berubah. Gagasannya terkait pluralisme dan toleransi seperti hilang. Yuk Pak menteri bangun dari tidurnya!


