Gahar! Influencer Indah G Bilang Nggak Akan Rayain Kemerdekaan Indonesia

Published:

Influencer Indah Gunawan alias Indah G lagi jadi sorotan. Lewat akun Instagramnya @indahg, dia bilang nggak akan pernah merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-80. Lah, emang ngapa?

Jadi, Indah ditanya seorang follower, “Kak Indah, 17-an kegiatannya ngapain aja?” Begini jawabannya. “Disclaimer ya, terserah lu mau ngerayain apa nggak, wallahi b*tch, tapi gue nggak akan pernah ngerayain Hari Kemerdekaan Indonesia,” katanya. “Lu nggak akan lihat gue kibarin bendera, nyanyi Indonesia Raya, atau ikutan lomba, atau bacain Pancasila,” lanjutnya. “Karena menurut gue negara ini sama sekali udah nggak mengamalkan nilai-nilai Pancasila,” tambahnya.

Menurut Indah, sila pertama Ketuhanan yang Maha Esa aja nggak bisa diimplementasikan dengan baik. “Uangnya Tuhan aja dikorupsi, yaudah gue nggak mau rayain 17-an sampe kapanpun,” ujarnya. Omongannya ini nyindir korupsi kuota haji di Kementerian Agama yang nilainya miliaran. “Gue bakal rayain ketika kita bebas dari korupsi, politisi predator, dan elit penguasa serakah yang bikin rakyat dan tanah kita berdarah sampai kering,” tegasnya.

Menurut Indah, ada beberapa alasan kenapa Indonesia belum merdeka. Pertama, soal pendidikan. Dia menilai kurikulum belum reformis dan masyarakat sengaja dibikin nggak kompeten. Para pejabat juga dianggap lebih mementingkan gaji daripada meningkatkan kualitas pendidikan. Hal ini nyambung sama isu gaji DPR yang naik ratusan juta, sementara gaji guru belum naik. Ditambah Mahkamah Konstitusi yang menolak uji materi soal pendidikan gratis sampai kuliah.

Kedua, soal transportasi umum yang masih jauh dari layak. “Gue akan rayain kalau kita punya transportasi umum nasional yang layak dan efisien,” katanya. “Karena nggak ada yang lebih merdeka daripada sia-sia 8–10 tahun hidup gue di kemacetan,” ujarnya.

Ketiga, soal layanan kesehatan yang belum bisa diakses semua masyarakat. Indah menuntut layanan kesehatan gratis, pajak yang benar-benar kembali ke rakyat, dan UMKM yang nggak dicekik birokrasi dan pungli. “Gue bakal rayain kalau UMKM berkembang tanpa bobot birokrasi dari penyuapan.” Dia juga menolak kalau kebijakan negara terus dipengaruhi bias agama, bukan logika dan keadilan.

Pernyataan Indah ini pun langsung memantik perdebatan publik. Di satu sisi, apa yang dia suarakan mewakili keresahan banyak orang. Korupsi yang nggak selesai, elit politik yang memperkaya diri, birokrasi yang memberatkan UMKM, pendidikan yang belum memerdekakan, dan transportasi yang menyiksa rakyat. Faktanya memang nyata. Indeks Persepsi Korupsi 2024 menempatkan Indonesia di peringkat 99 dunia. Pendidikan gratis hanya dijamin sampai level dasar. Jakarta pun masih jadi salah satu kota termacet di dunia.

Kritik ini menunjukkan bahwa kemerdekaan yang dirayakan setiap 17 Agustus belum sepenuhnya terasa dalam hidup rakyat. Itu artinya, suara Indah sah dan punya legitimasi moral.

Tapi di sisi lain, ada hal fundamental yang nggak bisa ditawar. Menghormati bendera Merah Putih dan menyanyikan Indonesia Raya tetap pantas dilakukan. Dua simbol kebangsaan kita itu bukan cerminan kelakuan politisi hari ini, tapi sejarah panjang perjuangan rakyat. Merah Putih dikibarkan dari darah dan nyawa para pejuang. Lagu Indonesia Raya digubah bukan untuk elit, tapi untuk membangkitkan semangat melawan penjajah.

Karena itu, apapun kekecewaan kita, simbol negara tetap harus dihormati. Kritik pada kondisi bangsa nggak bertentangan dengan penghormatan terhadap bendera dan lagu kebangsaan. Justru dua hal itu harus jalan bareng. Kita bisa hadir di upacara, nyanyi Indonesia Raya, sambil menjadikan 17 Agustus sebagai refleksi kritis. Apakah kemerdekaan yang diwariskan pejuang sudah benar-benar terasa di sekolah, rumah sakit, jalan raya, dan meja makan rakyat?

Dengan begitu, 17 Agustus nggak jadi seremoni kosong, tapi momentum untuk menagih janji kemerdekaan yang utuh. Sikap kritis kita sebisa mungkin nggak kehilangan akar kebangsaannya. Maka jalan terbaik bukan menolak merayakan 17 Agustus. Tapi merayakannya sambil terus bersuara lantang bahwa perjuangan belum selesai. Yuk, terus bersikap kritis demi menggapai cita-cita kemerdekaan!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img