Kasus bullying di sekolah lagi-lagi makan korban jiwa. Kali ini, kejadiannya di Grobogan, Jawa Tengah. Korbannya adalah Angga Bagus Perwira, umur 12 tahun, siswa kelas VII di SMP Negeri 1 Geyer.
Angga ditemukan meninggal dunia di dalam kelas pada 11 Oktober 2025 setelah diduga jadi korban perundungan oleh teman sekelasnya. Yang bikin miris, dua bulan sebelumnya, Angga udah sempet ngelapor ke pihak sekolah karena dibully. Tapi entah kenapa, pihak sekolah kayaknya cuma nganggep enteng masalah itu. “Udah diselesaikan secara internal,” kata Kepala Sekolah, Sukatno, seolah kasusnya udah kelar. Padahal faktanya, Angga tetap dibully dan akhirnya kehilangan nyawa.
Kejadiannya bermula pas jam tambahan alias kegiatan kokurikuler. Angga dan pelaku lagi bersih-bersih kelas, terus si pelaku mulai ngejek. Dari situ ribut pertama pecah, sempat dipisahin sama temen-temennya. Tapi nggak lama kemudian, mereka berantem lagi di lantai atas sekolah. Setelah perkelahian kedua itu, Angga jatuh, kejang-kejang, dan nggak sadarkan diri. Korban langsung dibawa ke UKS dan Puskesmas Geyer, tapi sayangnya udah meninggal dunia.
Hasil otopsinya, ada patah tulang di kepala dan leher bagian atas, juga penggumpalan darah di otak akibat benturan benda tumpul. Polisi langsung turun tangan, olah TKP, periksa sekitar 17 saksi, termasuk siswa dan guru. Dua siswa udah ditetapkan sebagai tersangka. Proses hukumnya jalan sesuai aturan karena pelakunya masih di bawah umur. Keluarga Angga jelas minta keadilan, mereka ingin pelaku dihukum seadil-adilnya.
Nah, yang bikin makin miris ya itu tadi, dua bulan sebelumnya, nenek Angga udah sempet ngadu ke sekolah soal bullying yang dialami cucunya. Tapi pihak sekolah cuma kasih “bimbingan” ke pelaku dan menganggap masalah udah selesai. “Mereka udah baikan, udah berteman lagi kok,” kata Kepala Sekolah. Pihak sekolah bilang kasus yang sekarang pelakunya beda sama yang bully 2 bulan lalu. Pihak sekolah ngaku kecolongan karena saat kejadian, itu lagi jam istirahat, di luar pengamatan para guru. “Kami sangat menyesal dan mohon maaf hal itu bisa terjadi. Kami percayakan penanganan kasus ini kepada kepolisian,”. Tapi come on, cuma dikasih bimbingan doang buat pelaku bullying? Gimana mau jera, Pak…
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) nyebut bahwa pada awal tahun 2024 terdapat 141 kasus kekerasan terhadap anak, dan “hampir separuhnya” terjadi di satuan Pendidikan. KPAI juga bilang, faktor “pembiaran” atau lemahnya pengawasan adalah salah satu penyebab kekerasan di lingkungan pendidikan. Guru BK sering nggak tahu harus ngapain, sekolah juga lebih sibuk jaga nama baik daripada lindungi murid. Banyak sekolah juga masih nggak kooperatif, padahal udah ada aturan jelas: Permendikbud No. 46 Tahun 2023 soal pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan. Tapi nyatanya, regulasi itu masih banyak yang anggap angin lalu. Akibatnya? Anak-anak terus jadi korban.
“Namanya juga anak-anak,” “Cuma bercanda doang,” kata mereka. Padahal dari “candaan” kayak gitu, banyak yang trauma bahkan kehilangan nyawa. Kasus Angga ini bukti nyata betapa tidak amannya kondisi anak-anak di sekolah. Harusnya jadi tempat belajar dan tumbuh, tapi malah berubah jadi tempat yang penuh ancaman. Begitu ada kasus, bukannya lindungi korban, malah sibuk klarifikasi sana-sini. Kultur pembiaran kayak gini yang bikin kekerasan terus berulang, dari satu sekolah ke sekolah lain. Selama sekolah lebih takut reputasinya rusak daripada anaknya disakiti, anak-anak bakal terus jadi korban. Anak-anak punya hak buat aman, belajar, dan tumbuh tanpa rasa takut. Stop normalisasi bullying!


