Menurut Guru Gembul, Habib Rizieq Shihab adalah salah satu orang yang jadi penyebab perpecahan di Nahdlatul Ulama (NU). Buktinya, FPI dan Banser berantem gontok-gontokan gara-gara orang ini. Padahal katanya kedua kelompok ini sama-sama NU.
Pernyataan ini dilontarkan Guru Gembul dalam podcast di Channel Ngaji Roso, yang berjudul “Pemurtadan Massal Habaib Di Indonesia”. Menurut Guru Gembul, Rizieq bukan cuma figur kontroversial, tapi justru jadi pemicu perpecahan di tubuh NU. “Banser sama FPI itu dua-duanya NU, berantem gontok-gontokan, sampai ada yang meninggal konon katanya. Itu tuh sejak Pak Habib Rizieq,” ujarnya tegas.
Komentar itu muncul saat dia bahas fenomena “Islam cuma di lisan” — kondisi di mana umat sibuk berdebat dalil tapi minim aksi nyata. Terus moderator tanya kenapa dia sering menyerang habib, Guru Gembul jawab santai tapi tajam. “Saya nggak nyerang Habib dalam konteks dia Ba’alawi. Saya menyerang orang-orang yang menistakan Islam tapi mengatasnamakan Islam,” katanya.
Dia lanjut menyorot Habib Rizieq sebagai contoh ekstrem: tokoh yang dikultuskan seolah nggak bisa salah. “Kenapa Pak Habib Rizieq bisa sampai seperti itu? Karena dipuja sebagai Habib yang tidak bisa salah. Yang hampir selalu benar,” ujar Guru Gembul. Buat dia, ini adalah akar masalah besar: ketika iman berhenti di kata-kata, dan penghormatan berlebihan pada status keturunan.
Lalu dia mengingatkan soal bahaya kultus nasab, ketika gelar “habib” dijadikan alat mencari penghormatan atau keuntungan pribadi. Gak sedikit dari mereka yang punya nasab dan gelar habib justru sering merusak agama dari dalam. “Mereka yang nyari cewek seenaknya, kemudian, kamu harus mau sama saya karena saya keturunan Nabi. Itu merusak Islam,” katanya.
Guru Gembul juga menuding lembaga besar kayak MUI dan PBNU terlalu diam kalau pelakunya dari “orang dalam”. Contohnya, ada habib yang ketika ditanya ‘Man Robbuka’ (siapa tuhanmu?) tapi malah dijawab Habib Abdullah. Menurut Guru Gembul, itu sudah menyalahi akidah Islam paling dasar, tapi tidak ada yang mempermasalahkan.
Reaksi warganet pun kebagi dua. Ada yang muji Guru Gembul karena berani bongkar kemunafikan, tapi ada juga yang bilang ucapannya kasar dan bisa memecah umat. “Rizik itu bukan cuma pelopor perpecahan NU, tapi perpecahan bangsa indonesia juga”, komentar salah satu netizen yang mendukung. “Pemecah belah ni orang,” komentar yang kontra.
Buat kami di Gerakan PIS, pernyataan Guru Gembul ini memang terdengar keras. Tapi ada banyak pesan moral di baliknya yang penting untuk direnungkan. Kritik terhadap kultus individu bukan serangan terhadap Islam, tapi ajakan untuk kembali ke esensi. Semua manusia itu sama di hadapan Tuhan, tanpa keistimewaan nasab atau gelar.
Kita juga memahami kenapa banyak pihak tersinggung, ketika nama tokoh yang dihormati diseret. Tapi marah tanpa introspeksi justru memperkuat poin yang disampaikan Gembul: bahwa sebagian umat masih sulit membedakan antara menghormati dan mengkultuskan. Kebebasan mengkritik tokoh agama harus dijaga selama dilakukan dengan argumen dan niat memperbaiki. Tapi di sisi lain, kritik juga mesti disampaikan tanpa merendahkan identitas atau silsilah seseorang.
Dua hal itu bisa berjalan beriringan: menghormati keturunan Nabi, sambil tetap menolak penyalahgunaan otoritas agama. Yang jelas, apa yang dibicarakan Guru Gembul membuka ruang refleksi besar. Bagaimana umat bisa bersatu kalau masih saling curiga hanya karena beda figur yang diikuti? Apakah wajar, dua kelompok yang sama-sama berakar di NU: Banser dan FPI bisa sampai berdarah-darah karena pengaruh satu orang?
Kita mungkin bisa berbeda dalam cara melihat tokoh agama, tapi seharusnya sepakat bahwa perpecahan internal adalah kegagalan bersama. Dan seperti kata Gembul, reformasi moral Islam nggak akan lahir dari mereka yang sibuk berteriak “sesat” atau “benar”. Tapi dari yang berani berbuat baik tanpa banyak bicara. Yuk beragama dengan akal sehat!


