Film horor Malaysia yang berjudul ‘Waruga, Kutukan Ilmu Hitam’ lagi dikecam nih. Film ini dikritik oleh masyarakat Indonesia, terutama di kalangan warga Minahasa, Sulawesi Utara lantaran tidak akurat dan menyesatkan. Waruga dalam film ini berlatar belakang tradisi Waruga suku Minahasa, Sulawesi Utara dan telah tayang di Malaysia sejak 15 Februari 2024. Sayangnya, Waruga dalam film, digambarkan sebagai tempat bersemayam roh-roh jahat.
Film ini menceritakan tentang Rewan, seorang yang menjalankan praktik ilmu hitam. Rewan tanpa disengaja melanggar aturan yang berujung pada kematian isterinya yang saat itu tengah mengandung. Dia lalu ingin membangkitkan kembali istrinya yang meninggal dengan menggunakan ilmu hitam dan pemujaan mayat. Salah satunya dengan Waruga. Sontak film yang disutradarai Azaromi Ghozali langsung menuai kecaman. Salah satu kecaman datang dari seorang masyarakat adat Minahasa, Andre Lengkong.
Melalui video di akun Facebook Minahasa Tribe, dia mengecam film tersebut. Andre bilang masyarakat adat Minahasa, keberatan dengan judul, tema, atau alur cerita dalam film ini. Katanya, Waruga adalah tempat peristirahatan para leluhur. Tapi sayangnya, film itu seakan-akan menyebut kalau roh-roh yang bersemayam dalam waruga itu jahat semua.
FYI ya, Waruga adalah makam leluhur Minahasa yang terbuat dari batu dengan dua bagian: atas segitiga seperti atap rumah, bawah kotak dengan rongga. Waruga berasal dari kata Waru (rumah) dan ruga (badan), sebagai tempat raga kembali ke surga. Jadi, jasad diletakkan dengan posisi layaknya manusia dalam kandungan, lutut dirapatkan ke dada. Tradisi pemakaman di Waruga sudah ada sejak zaman megalitikum sampai abad ke -19. Tapi, sekitar 1860, tradisi ini dilarang oleh Belanda karena ada wabah penyakit pes, kolera dan tifus.
Nah, belakangan Waruga-waruga yang tersebar di beberapa wilayah di Minahasa kemudian dikumpulkan di lokasi tertentu dan menjadi tujuan wisata Sejarah. Sangat disayangkan ya Film Waruga ini jauh dari konteks sejarahnya! Padahal ia adalah sebuah warisan budaya yang sangat berharga, tapi sayangnya malah dilecehin oleh pembuat filmnya.
Apakah ini hanya tuk menaikkan rating dan meraup keuntungan finansial saja? Yuk, kita jaga warisan dan tradisi nenek moyang kita. Kalau bukan kita siapa lagi?


