Hasil Studi Sebut Indonesia Negara Paling Sejahtera, Sebagian Netizen Nyinyir!

Published:

Indonesia lebih sejahtera dari Jepang dan Amerika. Ini hasil studi yang bukan kaleng-kaleng ya. Btw, arti dari kesejahteraan disini bukan cuma soal ekonomi ya, tapi juga soal aspek sosial dan psikologi. Tapi sayangnya mereka yang anti pemerintah pusat dan anti Pak Jokowi nyinyir sama hasil studi ini. Jadi, studi itu bernama Global Flourishing Study alias studi kemakmuran global. Studi ini intinya pengen mengukur kesejahteraan. Tapi bukan cuma dilihat dari soal Produk Domestik Bruto (PDB) negara aja. Tapi juga hal-hal yang lebih dalam, kayak kesehatan fisik dan mental, rasa aman secara finansial, kualitas relasi sosial. Juga tingkat individu memaknai hidup, sampai karakter positif warga di tiap negara.

Studi ini ngelibatin lebih dari 200 ribu orang di 23 negara, seperti Jepang, Amerika Serikat bahkan negara Eropa lain. Studi ini berlangsung selama 5 tahun. Studi ini adalah hasil kolaborasi dari sejumlah pusat studi. Ada dari Universitas Harvard, Institute Studi Agama Universitas Baylor, dan lembaga survei terkemuka Gallup. Studi ini dirilis dalam konferensi pers yang berlangsung di Washington DC pada 30 April lalu. Nah, temuannya menarik. Indonesia berada di posisi teratas dalam studi ini dengan skor: 8,47 dari 10. Artinya, Indonesia negara yang paling sejahtera.

Di bawah Indonesia secara berurutan ada Meksiko (8,19) dan Filipina (8,11). Sementara negara-negara yang sering dianggap ‘lebih maju’ justru keteteran. Amerika Serikat cuma dapet sokor 7,18. Inggris 6,88. Jepang bahkan cuma 5,93. Temuan ini kontras dengan laporan tahunan World Happiness Report yang selama ini menempatkan negara-negara Eropa di puncak. Menurut Tyler VanderWeele dari Harvard, perbedaan ini muncul karena indikator flourishing jauh lebih menyeluruh ketimbang sekadar persepsi evaluatif atas kehidupan seseorang. “Negara-negara kaya memang unggul dalam aspek keamanan finansial dan kepuasan hidup secara umum,” katanya dalam konferensi pers. “Tapi mereka justru lemah dalam dimensi makna hidup, hubungan antar individu, dan karakter pro-sosial,” lanjutnya. Studi ini juga mengungkap pernikahan, tingkat pendidikan tinggi, dan keterlibatan dalam komunitas keagamaan berkorelasi positif dengan tingkat flourishing.

Walaupun studi ini independent, tetap banyak netizen yang anti pemerintah dan anti Pak Jokowi nyinyir sama hasilnya. Mereka ngerasa hasil studi ini nggak nyambung sama realita yang mereka hadapi. “Nyari kerja aja susah, sejahtera darimana?” tulis salah satu netizen. “Bahkan studi Harvard aja bisa kena scam king Indo” tulis netizen lain. Yang nyinyir ini jelas nggak baca hasil studi ini. Bisa jadi mereka cuma baca judul berita aja, terus langsung ngegas. Woles aja. Justru hasil studi ini menunjukkan variabel kesejahteraan dalam studi ini nggak terbatas soal finansial dan kepuasan material aja. Variabel kesejahteraan dalam studi ini lebih luas. Yaitu, kebahagiaan, makna hidup, karakter, hubungan sosial, dan kesejahteraan spiritual.

Yang terpenting, hasil studi ini dijadikan acuan untuk bikin kebijakan. Ini bukan cuma tugas pemerintah pusat, tapi juga pemerintah daerah. Dengan begitu kebijakan yang dibuat ada kajian ilmiahnya. Bukan kebijakan yang asal suka dan sekedar populis aja. Singkat, pemerintah, pusat maupun daerah, harus pastiin semua variabel kesejahteraan dalam studi itu bisa terpenuhi. Yuk, bekerja demi kesejahteraan dan kemajuan rakyat!

Artikel Terkait

Terbaru

spot_img