Kasihan deh nasib siswi SMP di Bandar Lampung ini. Sudah dibully di sekolah, eh dia juga dikeluarin dari sekolah. Nasibnya mirip seperti kata pepatah: udah jatuh, tertimpa tangga pula. Nama siswi itu Gina Dwi Sartika. Dia siswi di SMP Negeri 13 Bandar Lampung. Gina diduga dibully sama teman-temannya di sekolah. “Mereka menghina orangtua saya pemulung, tukang rongsokan,” cerita Gina sambil nahan tangis di video yang viral di media sosial pada 22 Oktober lalu. Teman-temannya juga memanggil Gina dengan julukan merendahkan. Ini yang bikin Gina merasa minder dan tertekan banget.
Naasnya, menurut Gina, dia nggak dibela sama guru atau kepala sekolah. Mereka nggak berpihak dan ngelindungin Gina. Mereka justru lebih milih lindungin yang lain biar nggak ribut. “Saya tidak tega anak saya dihina dan dibully hingga anak saya dipulangkan gurunya ke saya,” kata ibunya, Misna Megawati, 42 tahun. “Kata kepala sekolah daripada milih satu dan yang lainnya bubar, akhirnya Gina dikeluarin,” lanjutnya. Pihak sekolah membantah tuduhan bullying Gina. Mereka bilang Gina berhenti sendiri karena minder setelah tantenya meninggal dunia tahun 2023.
Sekarang, Gina putus sekolah total. Tapi Gina tetep pengen sekolah lagi kalau ada yang membantu. Dia bercita-cita ingin jadi guru atau bidan. “Pengen jadi guru supaya bisa ajarin adek,” katanya. Sekarang Gina membantu ibunya mencari rongsokan untuk makan sehari-hari. Ibunya Gina bekerja sebagai pemulung dan membesarkan enam anak sendirian. Keluarga mereka hidup miskin. Penghasilan hanya 600 ribu per bulan dan setengahnya untuk membayar kontrakan. “Kadang tiga hari kami tidak makan,” kata ibunya Gina. Dia berharap anak-anaknya bisa sekolah tinggi supaya nggak seperti dirinya yang cuma sekolah sampai kelas 4 SD.
Apa yang dialami Gina ini harus jadi perhatian kita, terutama semua sekolah di Indonesia. Bullying di sekolah masih sering dianggep remeh. Bullying dianggap hanya sekedar kenakalan remaja yang bisa ditoleransi. Bahkan nggak sedikit pimpinan sekolah yang denial kasus bullying di sekolah. Padahal, bullying bisa jadi bom waktu buat kondisi mental siswa. Bullying bisa ngerusak mental anak. Bullying membuat anak jadi sedih dan minder. Karena bullying, anak putus asa dan berhenti belajar. Anak juga bisa berpotensi menyakiti dirinya sendiri, bahkan bunuh diri.
Sekolah itu seharusnya jadi tempat yang aman bagi anak buat belajar. Masa-masa di sekolah seharusnya jadi masa-masa yang penuh warna dan keceriaan. Tapi Gina nggak seberuntung itu. Gina malah menghadapi ejekan dan hinaan yang merusak mentalnya. Masa-masa remaja Gina dirusak oleh teman-temannya di sekolah. Hanya karena dia dilahirkan dan dibesarkan di keluarga yang sangat miskin. Sekolah, dinas pendidikan, dan dinas perlindungan anak harus bergerak cepat setiap mendengar kabar bullying yang menimpa anak. Korban bullying harus diselamatkan secepat mungkin sebelum kondisi mentalnya benar-benar terpuruk.
Alhamdulillah, Gina masih tegar berdiri. Gini masih ingin kembali ke sekolah jika ada bantuan. Kalau punya informasi untuk menghubungi keluarga Gina atau tahu siapa yang bisa bantu menghubungkan ke mereka, tolong DM Gerakan PIS ya! Kami ingin menggalang bantuan supaya Gina bisa sekolah lagi. Solidaritas kita untuk Gina!


